alexametrics
30.2 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Polda Olah TKP Sekolah SPI

Mobile_AP_Rectangle 1

MALANG, RADARJEMBER.ID– Julianto Eka Putra, Bos Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu tidak saja terbelit perkara dugaan kekerasan seksual. Sejak April lalu dia juga diperkarakan atas dugaan eksploitasi ekonomi di Polda Bali.

BACA JUGA: Tuntasnya Pembongkaran Tujuh Ruko Jompo Sisakan Pekerjaan Rumah

Perkara itu kemudian dilimpahkan ke Polda Jatim dan sudah mendapatkan tindak lanjut. Misal kemarin , TimInafis Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Mobile_AP_Rectangle 2

Sekitar pukul 09.00, tujuh mobil rombongan tim dari Polda Jatim sudah berada di halaman Sekolah SPI Kota Batu, Jalan Raya Pandanrejo. Sebelum memasuki beberapa ruang di sekolah tersebut, tim lebih dulu berkoordinasi terkait langkah pengumpulan barang bukti.

”Ada enam korban yang melaporkan kasus eksploitasi ekonomi. Untuk sementara ini status JEP (Julianto) masih terlapor. Setelah olah TKP ini, harapannya semua bisa terang benderang,” ujar KabidHumas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto yang kepada wartawan kemarin.

Olah TKP kemarin dipimpin Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pol TotokSuharyanto.Dua pelapor juga dihadirkan untuk menunjukkan lokasi dugaan eksploitasi ekonomi.Dua pelapor itu (satu laki-laki dan satu perempuan) didampingi oleh kuasa hukum mereka, KayatHariyanto.

”Tadi korban telah menunjukkan 12 titik digunakan terlapor untuk melakukan eksploitasi ekonomi. Ada tempat produksi atau marketing dan wahana yang biasa digunakan untuk kunjungan tamu,” jelasDirmanto.

Tim oleh TKP juga mendapatkan dokumen nama-nama siswa mulai 2008 hingga 2010.Dirmanto menambahkan, laporan dari para korban berkaitan dengan pasal 761 ijuncto pasal 88 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak.

”Jadi, setiap orang dilarang menempatkan dan menyuruh melakukan eksploitasi ekonomi terhadap anak. Untuk ancaman hukumannya disebutkan pidana penjara paling lama 10 tahun,” tegas Dirmanto.

Sementara itu, KayatHariyanto mengatakan bahwa bentuk eksploitasi yang dilakukan terlapor adalah mempekerjakan korban masih anak-anak dan diberi gaji minim.Dia mencontohkan keterangan para korban ke penyidik Polda Jatim.

Untuk anak kelas 1 SMA dibayar Rp100 ribu per bulan.Kemudian, kelas dua dan tiga naik menjadi Rp 200 ribu per bulan.Namun, uang itu tidak diberikan dan kataJulianto uang mereka ditabung.

- Advertisement -

MALANG, RADARJEMBER.ID– Julianto Eka Putra, Bos Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu tidak saja terbelit perkara dugaan kekerasan seksual. Sejak April lalu dia juga diperkarakan atas dugaan eksploitasi ekonomi di Polda Bali.

BACA JUGA: Tuntasnya Pembongkaran Tujuh Ruko Jompo Sisakan Pekerjaan Rumah

Perkara itu kemudian dilimpahkan ke Polda Jatim dan sudah mendapatkan tindak lanjut. Misal kemarin , TimInafis Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Sekitar pukul 09.00, tujuh mobil rombongan tim dari Polda Jatim sudah berada di halaman Sekolah SPI Kota Batu, Jalan Raya Pandanrejo. Sebelum memasuki beberapa ruang di sekolah tersebut, tim lebih dulu berkoordinasi terkait langkah pengumpulan barang bukti.

”Ada enam korban yang melaporkan kasus eksploitasi ekonomi. Untuk sementara ini status JEP (Julianto) masih terlapor. Setelah olah TKP ini, harapannya semua bisa terang benderang,” ujar KabidHumas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto yang kepada wartawan kemarin.

Olah TKP kemarin dipimpin Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pol TotokSuharyanto.Dua pelapor juga dihadirkan untuk menunjukkan lokasi dugaan eksploitasi ekonomi.Dua pelapor itu (satu laki-laki dan satu perempuan) didampingi oleh kuasa hukum mereka, KayatHariyanto.

”Tadi korban telah menunjukkan 12 titik digunakan terlapor untuk melakukan eksploitasi ekonomi. Ada tempat produksi atau marketing dan wahana yang biasa digunakan untuk kunjungan tamu,” jelasDirmanto.

Tim oleh TKP juga mendapatkan dokumen nama-nama siswa mulai 2008 hingga 2010.Dirmanto menambahkan, laporan dari para korban berkaitan dengan pasal 761 ijuncto pasal 88 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak.

”Jadi, setiap orang dilarang menempatkan dan menyuruh melakukan eksploitasi ekonomi terhadap anak. Untuk ancaman hukumannya disebutkan pidana penjara paling lama 10 tahun,” tegas Dirmanto.

Sementara itu, KayatHariyanto mengatakan bahwa bentuk eksploitasi yang dilakukan terlapor adalah mempekerjakan korban masih anak-anak dan diberi gaji minim.Dia mencontohkan keterangan para korban ke penyidik Polda Jatim.

Untuk anak kelas 1 SMA dibayar Rp100 ribu per bulan.Kemudian, kelas dua dan tiga naik menjadi Rp 200 ribu per bulan.Namun, uang itu tidak diberikan dan kataJulianto uang mereka ditabung.

MALANG, RADARJEMBER.ID– Julianto Eka Putra, Bos Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu tidak saja terbelit perkara dugaan kekerasan seksual. Sejak April lalu dia juga diperkarakan atas dugaan eksploitasi ekonomi di Polda Bali.

BACA JUGA: Tuntasnya Pembongkaran Tujuh Ruko Jompo Sisakan Pekerjaan Rumah

Perkara itu kemudian dilimpahkan ke Polda Jatim dan sudah mendapatkan tindak lanjut. Misal kemarin , TimInafis Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Sekitar pukul 09.00, tujuh mobil rombongan tim dari Polda Jatim sudah berada di halaman Sekolah SPI Kota Batu, Jalan Raya Pandanrejo. Sebelum memasuki beberapa ruang di sekolah tersebut, tim lebih dulu berkoordinasi terkait langkah pengumpulan barang bukti.

”Ada enam korban yang melaporkan kasus eksploitasi ekonomi. Untuk sementara ini status JEP (Julianto) masih terlapor. Setelah olah TKP ini, harapannya semua bisa terang benderang,” ujar KabidHumas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto yang kepada wartawan kemarin.

Olah TKP kemarin dipimpin Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pol TotokSuharyanto.Dua pelapor juga dihadirkan untuk menunjukkan lokasi dugaan eksploitasi ekonomi.Dua pelapor itu (satu laki-laki dan satu perempuan) didampingi oleh kuasa hukum mereka, KayatHariyanto.

”Tadi korban telah menunjukkan 12 titik digunakan terlapor untuk melakukan eksploitasi ekonomi. Ada tempat produksi atau marketing dan wahana yang biasa digunakan untuk kunjungan tamu,” jelasDirmanto.

Tim oleh TKP juga mendapatkan dokumen nama-nama siswa mulai 2008 hingga 2010.Dirmanto menambahkan, laporan dari para korban berkaitan dengan pasal 761 ijuncto pasal 88 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak.

”Jadi, setiap orang dilarang menempatkan dan menyuruh melakukan eksploitasi ekonomi terhadap anak. Untuk ancaman hukumannya disebutkan pidana penjara paling lama 10 tahun,” tegas Dirmanto.

Sementara itu, KayatHariyanto mengatakan bahwa bentuk eksploitasi yang dilakukan terlapor adalah mempekerjakan korban masih anak-anak dan diberi gaji minim.Dia mencontohkan keterangan para korban ke penyidik Polda Jatim.

Untuk anak kelas 1 SMA dibayar Rp100 ribu per bulan.Kemudian, kelas dua dan tiga naik menjadi Rp 200 ribu per bulan.Namun, uang itu tidak diberikan dan kataJulianto uang mereka ditabung.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/