alexametrics
23.5 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Masalah Jerawat Bisa Timbulkan Depresi Penderitanya

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Jerawat merupakan masalah kulit yang paling sering terjadi. Sebagian besar orang berusia 11 – 30 tahun mengalami jerawat ringan. Bahkan, hampir setiap orang diyakini pernah mengalami kondisi ini.

BACA JUGA : Hamil akibat Diperkosa, Bocah 10 Tahun di Ohio Terpaksa Aborsi

Menurut Dermato Venereologist dr. Fitria Agustina, SpKK, FINSDV, FAADV, seseorang dengan kondisi masalah kulit seperti jerawat dapat mempengaruhi kualitas hidupnya, mulai dari timbul rasa malu, tidak percaya diri, hingga depresi,

Mobile_AP_Rectangle 2

“Sebetulnya banyak sekali penelitiannya yang sudah terpublikasi, terutama lebih ke arah jerawat pada remaja. Yang pertama biasanya mulai dari rasa malu. Kedua, setelah malu, dia mengurung diri tidak mau ketemu sama orang. Ketiga akhirnya mulai dari depresi ringan, depresi sedang, hingga depresi berat, sampai ada yang menyebabkan usaha untuk bunuh diri,” kata Fitria saat dijumpai wartawan.

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology pada 2017 menunjukkan bahwa 96 persen responden yang memiliki permasalahan jerawat mengakui hal ini mempengaruhi kualitas hidup sehari-hari.

Selain itu, studi di jurnal Acta Dermato-Venereologica pada 2020 menyebutkan bahwa 53 persen responden pernah mengalami depresi dan 50 persen cenderung mengisolasi diri.

Bahkan berdasarkan pengalaman Fitria, dia pernah menangani pasien yang mengalami rasa panik luar biasa ketika bercermin dan mendapati satu jerawat mulai muncul.

Mengingat dampak psikososial tersebut, Fitria mengatakan saat menangani pasien pihaknya akan mengajukan sejumlah pertanyaan atau kuisioner yang sudah menjadi standar bagi dermatolog terkait penanganan masalah jerawat. Hasil akhir kuesioner tersebut akan berupa skor yang bisa mengindikasikan tingkat dampak psikososial terhadap pasien.

“Kalau misalnya membaik, oke. Tapi kalau ternyata memburuk, anjuran saya ini kan dikembalikan lagi pada dokter yang menangani, kalau saya biasanya akan bilang ke pasien, ‘Perlu, deh, sepertinya konsultasi ke psikolog, supaya jerawatnya tidak menjadi lebih buruk’,” terangnya.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Jerawat merupakan masalah kulit yang paling sering terjadi. Sebagian besar orang berusia 11 – 30 tahun mengalami jerawat ringan. Bahkan, hampir setiap orang diyakini pernah mengalami kondisi ini.

BACA JUGA : Hamil akibat Diperkosa, Bocah 10 Tahun di Ohio Terpaksa Aborsi

Menurut Dermato Venereologist dr. Fitria Agustina, SpKK, FINSDV, FAADV, seseorang dengan kondisi masalah kulit seperti jerawat dapat mempengaruhi kualitas hidupnya, mulai dari timbul rasa malu, tidak percaya diri, hingga depresi,

“Sebetulnya banyak sekali penelitiannya yang sudah terpublikasi, terutama lebih ke arah jerawat pada remaja. Yang pertama biasanya mulai dari rasa malu. Kedua, setelah malu, dia mengurung diri tidak mau ketemu sama orang. Ketiga akhirnya mulai dari depresi ringan, depresi sedang, hingga depresi berat, sampai ada yang menyebabkan usaha untuk bunuh diri,” kata Fitria saat dijumpai wartawan.

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology pada 2017 menunjukkan bahwa 96 persen responden yang memiliki permasalahan jerawat mengakui hal ini mempengaruhi kualitas hidup sehari-hari.

Selain itu, studi di jurnal Acta Dermato-Venereologica pada 2020 menyebutkan bahwa 53 persen responden pernah mengalami depresi dan 50 persen cenderung mengisolasi diri.

Bahkan berdasarkan pengalaman Fitria, dia pernah menangani pasien yang mengalami rasa panik luar biasa ketika bercermin dan mendapati satu jerawat mulai muncul.

Mengingat dampak psikososial tersebut, Fitria mengatakan saat menangani pasien pihaknya akan mengajukan sejumlah pertanyaan atau kuisioner yang sudah menjadi standar bagi dermatolog terkait penanganan masalah jerawat. Hasil akhir kuesioner tersebut akan berupa skor yang bisa mengindikasikan tingkat dampak psikososial terhadap pasien.

“Kalau misalnya membaik, oke. Tapi kalau ternyata memburuk, anjuran saya ini kan dikembalikan lagi pada dokter yang menangani, kalau saya biasanya akan bilang ke pasien, ‘Perlu, deh, sepertinya konsultasi ke psikolog, supaya jerawatnya tidak menjadi lebih buruk’,” terangnya.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Jerawat merupakan masalah kulit yang paling sering terjadi. Sebagian besar orang berusia 11 – 30 tahun mengalami jerawat ringan. Bahkan, hampir setiap orang diyakini pernah mengalami kondisi ini.

BACA JUGA : Hamil akibat Diperkosa, Bocah 10 Tahun di Ohio Terpaksa Aborsi

Menurut Dermato Venereologist dr. Fitria Agustina, SpKK, FINSDV, FAADV, seseorang dengan kondisi masalah kulit seperti jerawat dapat mempengaruhi kualitas hidupnya, mulai dari timbul rasa malu, tidak percaya diri, hingga depresi,

“Sebetulnya banyak sekali penelitiannya yang sudah terpublikasi, terutama lebih ke arah jerawat pada remaja. Yang pertama biasanya mulai dari rasa malu. Kedua, setelah malu, dia mengurung diri tidak mau ketemu sama orang. Ketiga akhirnya mulai dari depresi ringan, depresi sedang, hingga depresi berat, sampai ada yang menyebabkan usaha untuk bunuh diri,” kata Fitria saat dijumpai wartawan.

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology pada 2017 menunjukkan bahwa 96 persen responden yang memiliki permasalahan jerawat mengakui hal ini mempengaruhi kualitas hidup sehari-hari.

Selain itu, studi di jurnal Acta Dermato-Venereologica pada 2020 menyebutkan bahwa 53 persen responden pernah mengalami depresi dan 50 persen cenderung mengisolasi diri.

Bahkan berdasarkan pengalaman Fitria, dia pernah menangani pasien yang mengalami rasa panik luar biasa ketika bercermin dan mendapati satu jerawat mulai muncul.

Mengingat dampak psikososial tersebut, Fitria mengatakan saat menangani pasien pihaknya akan mengajukan sejumlah pertanyaan atau kuisioner yang sudah menjadi standar bagi dermatolog terkait penanganan masalah jerawat. Hasil akhir kuesioner tersebut akan berupa skor yang bisa mengindikasikan tingkat dampak psikososial terhadap pasien.

“Kalau misalnya membaik, oke. Tapi kalau ternyata memburuk, anjuran saya ini kan dikembalikan lagi pada dokter yang menangani, kalau saya biasanya akan bilang ke pasien, ‘Perlu, deh, sepertinya konsultasi ke psikolog, supaya jerawatnya tidak menjadi lebih buruk’,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/