alexametrics
24.3 C
Jember
Saturday, 24 September 2022

Pelecehan Terhadap istri Sambo Tak Terbukti, Skenario Terbaru di Magelang

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Tim Khusus (Timsus) telah memastikan tidak ada peristiwa pelecehan seksual terhadap istri Irjen Pol Ferdy Sambo, Putri Chandrawathi oleh Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir.

BACA JUGA: Polri Telusuri Peran Polisi Suruhan Sambo Akibatkan Brigadir J Tewas

Sejalan  hal itu, penyidik Polda Metro Jaya terkait penanganan kasus tersebut tengah diperiksa oleh Inspektorat Khusus (Itsus) atas dugaan pelanggaran kode etik. Hal itu dibenarkan oleh Brigjen Pol Andi Rian, Dirtipidum Bareskrim Polri.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Semua penyidik yang bertanggung jawab terhadap laporan polisi sebelumnya sedang dilakukan pemeriksaan khusus oleh Itsus,” kata Andi, lelaki berkacamata itu kepada wartawan, Sabtu (13/8).

Dia mengatakan, kasus pelecehan seksual ini sudah dinaikan ke tahap penyidikan oleh Polda Metro Jaya. Namun, setelah didalami tuduhan tersebut tidak terbukti terjadi. Sehingga diputuskan untuk dihentikan.

“Kita anggap bahwa dua laporan polisi ini menjadi satu bagian masuk dalam kategori obstruction of justice ya, ini bagian dari pada upaya untuk menghalang-halangi pengungkapan dari pada kasus pembunuhan berencana,” jelas Andi.

Diketahui, 4 orang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus kematian Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Mereka adalah Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, Brigadir Kepala Ricky Rizal (RR), Irjen Pol Ferdy Sambo (FS) dan KM.

Komjen Pol Agus Andrianto, Kabareskrim Polri Komjen Pol mengatakan, masing-masing tersangka memiliki peran berbeda. Untuk eksekutor penembak adalah Bharada E. “RE melakukan penembakan korban,” kata Agus di Mabes Polri, Jakarta Selatan.

Kemudian RR dan KM berperan membantu serta menyaksikan penembakan. Terakhir Ferdy Sambo yang memerintahkan penembakan. “FS menyuruh melakukan dan menskenario, skenario seolah-olah tembak menembak,” jelas Agus.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan juncto Pasal 55 dan 56 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun.(*)

 

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Istimewa

Sumber Bnerita:jawapos.com

 

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Tim Khusus (Timsus) telah memastikan tidak ada peristiwa pelecehan seksual terhadap istri Irjen Pol Ferdy Sambo, Putri Chandrawathi oleh Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir.

BACA JUGA: Polri Telusuri Peran Polisi Suruhan Sambo Akibatkan Brigadir J Tewas

Sejalan  hal itu, penyidik Polda Metro Jaya terkait penanganan kasus tersebut tengah diperiksa oleh Inspektorat Khusus (Itsus) atas dugaan pelanggaran kode etik. Hal itu dibenarkan oleh Brigjen Pol Andi Rian, Dirtipidum Bareskrim Polri.

“Semua penyidik yang bertanggung jawab terhadap laporan polisi sebelumnya sedang dilakukan pemeriksaan khusus oleh Itsus,” kata Andi, lelaki berkacamata itu kepada wartawan, Sabtu (13/8).

Dia mengatakan, kasus pelecehan seksual ini sudah dinaikan ke tahap penyidikan oleh Polda Metro Jaya. Namun, setelah didalami tuduhan tersebut tidak terbukti terjadi. Sehingga diputuskan untuk dihentikan.

“Kita anggap bahwa dua laporan polisi ini menjadi satu bagian masuk dalam kategori obstruction of justice ya, ini bagian dari pada upaya untuk menghalang-halangi pengungkapan dari pada kasus pembunuhan berencana,” jelas Andi.

Diketahui, 4 orang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus kematian Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Mereka adalah Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, Brigadir Kepala Ricky Rizal (RR), Irjen Pol Ferdy Sambo (FS) dan KM.

Komjen Pol Agus Andrianto, Kabareskrim Polri Komjen Pol mengatakan, masing-masing tersangka memiliki peran berbeda. Untuk eksekutor penembak adalah Bharada E. “RE melakukan penembakan korban,” kata Agus di Mabes Polri, Jakarta Selatan.

Kemudian RR dan KM berperan membantu serta menyaksikan penembakan. Terakhir Ferdy Sambo yang memerintahkan penembakan. “FS menyuruh melakukan dan menskenario, skenario seolah-olah tembak menembak,” jelas Agus.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan juncto Pasal 55 dan 56 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun.(*)

 

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Istimewa

Sumber Bnerita:jawapos.com

 

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Tim Khusus (Timsus) telah memastikan tidak ada peristiwa pelecehan seksual terhadap istri Irjen Pol Ferdy Sambo, Putri Chandrawathi oleh Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir.

BACA JUGA: Polri Telusuri Peran Polisi Suruhan Sambo Akibatkan Brigadir J Tewas

Sejalan  hal itu, penyidik Polda Metro Jaya terkait penanganan kasus tersebut tengah diperiksa oleh Inspektorat Khusus (Itsus) atas dugaan pelanggaran kode etik. Hal itu dibenarkan oleh Brigjen Pol Andi Rian, Dirtipidum Bareskrim Polri.

“Semua penyidik yang bertanggung jawab terhadap laporan polisi sebelumnya sedang dilakukan pemeriksaan khusus oleh Itsus,” kata Andi, lelaki berkacamata itu kepada wartawan, Sabtu (13/8).

Dia mengatakan, kasus pelecehan seksual ini sudah dinaikan ke tahap penyidikan oleh Polda Metro Jaya. Namun, setelah didalami tuduhan tersebut tidak terbukti terjadi. Sehingga diputuskan untuk dihentikan.

“Kita anggap bahwa dua laporan polisi ini menjadi satu bagian masuk dalam kategori obstruction of justice ya, ini bagian dari pada upaya untuk menghalang-halangi pengungkapan dari pada kasus pembunuhan berencana,” jelas Andi.

Diketahui, 4 orang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus kematian Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Mereka adalah Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, Brigadir Kepala Ricky Rizal (RR), Irjen Pol Ferdy Sambo (FS) dan KM.

Komjen Pol Agus Andrianto, Kabareskrim Polri Komjen Pol mengatakan, masing-masing tersangka memiliki peran berbeda. Untuk eksekutor penembak adalah Bharada E. “RE melakukan penembakan korban,” kata Agus di Mabes Polri, Jakarta Selatan.

Kemudian RR dan KM berperan membantu serta menyaksikan penembakan. Terakhir Ferdy Sambo yang memerintahkan penembakan. “FS menyuruh melakukan dan menskenario, skenario seolah-olah tembak menembak,” jelas Agus.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan juncto Pasal 55 dan 56 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun.(*)

 

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Istimewa

Sumber Bnerita:jawapos.com

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/