alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 25 September 2022

Hunian Hotel Turun Imbas Harga Tiket Pesawat Naik

Mobile_AP_Rectangle 1

RADARJEMBER.ID – Deddy Pranowo Eryono, Ketua PHRI Kota Jogja menegaskan, transportasi udara adalah salah satu penyokong okupansi hotel di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Namun naiknya harga tiket pesawat menimbulkan keengganan orang naik pesawat.

BACA JUGA : Tiga Hari, Lima Nyawa Warga Jember Melayang di Perlintasan Kereta

“Padahal DIJ punya Yogyakarta International Airport (YIA) yang megah. Itu jadi salah satu daya tarik orang datang ke Jogja loh,” Kata Deddy saat dihubungi Radar Jogja kemarin (12/8).Deddy membeberkan, okupansi hotel di Kota Jogja mencapai 80-90 persen sepanjang Juni-Juli 2022.

Mobile_AP_Rectangle 2

Didukung pula dengan beragam gelaran MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition). “Agustus ini, dibanding Juni-Juli, turunnya MICE cukup banyak. Saat ini rata-rata 40-50 persen,” imbuh dia.

Deddy mengatakan, sebagian besar wisatawan luar Jawa memilih menggunakan pesawat. Lantaran didukung dengan efisiensi waktu perjalanan. “Harga tiket sudah naik. Ini memberatkan. Kami bicara pangsa pasar luar Jawa.” ujar Deddy.

Mereka kebanyakan ke Jogja masuk menggunakan pesawat. Jadi ada yang menunda dan batal,” keluh pria tersebut.Berdasar pengamatan Deddy, rata-rata maskapai menaikkan harga tiketnya dua kali lipat.

Bahkan, dia menjumpai ada maskapai yang mematok kenaikan harga sampai tiga kali lipat. “Kenaikan cukup tajam. Kami mengerti, tapi apakah pemerintah tidak bisa membantu pelaku pariwisata? Organda biasanya menjemput ke bandara sekarang berkurang,” sebut Deddy.

Namun, Deddy mengaku tidak mau tinggal diam. Pihaknya kini tengah menyusun strategi untuk mendongkrak kenaikan okupansi hotel jadi 60-70 persen. Mereka membidik daerah dengan kunjungan tertinggi ke DIJ.

“Kami lakukan promosi ke daerah wisatawan di dalam Jawa. Kami berupaya mendongkrak okupansi di jalur darat,” ungkap Deddy. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan sudah mengizinkan maskapai untuk menaikan harga tiket pesawat mulai 4 agustus 2022.

Aturan harga tiket pesawat sesuai Keputusan Menteri Perhubungan No 142/2022. Dalam beleid ini, memperbolehkan maskapai naikkan harga tiket maksimal 15 persen dari tarif batas atas (TBA) untuk pesawat jenis jet dan maksimal 25 persen dari TBA untuk pesawat jenis propeller.

Ketua BPKN RI, Rizal E Halim pun meminta pemerintah segera mengevaluasi kebijakan tersebut. BPKN RI merespon agar pemerintah melihat lagi komponen-komponen biaya sehingga tidak terlalu menaikan harga yang cukup tinggi.

Lantaran sulit dijangkau oleh pengguna jasa penerbangan terutama pada masa pemulihan ekonomi. “Di sisi lain, BPKN-RI melihat batas kenaikan tarif yang ideal untuk pesawat jenis jet sekitar 8-10 persen dan 10-15 persen untuk pesawat jenis propeller,” ujar Rizal.

Ia berharap pemerintah, melalui Kemenhub sebagai regulator, membuat mitigasi tepat dalam pemulihan transportasi udara. Khusus terhadap badan usaha angkutan udara atau maskapai yang melayani rute penerbangan. (*)

 

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Jawa Pos Radar Jogja

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Jogja

- Advertisement -

RADARJEMBER.ID – Deddy Pranowo Eryono, Ketua PHRI Kota Jogja menegaskan, transportasi udara adalah salah satu penyokong okupansi hotel di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Namun naiknya harga tiket pesawat menimbulkan keengganan orang naik pesawat.

BACA JUGA : Tiga Hari, Lima Nyawa Warga Jember Melayang di Perlintasan Kereta

“Padahal DIJ punya Yogyakarta International Airport (YIA) yang megah. Itu jadi salah satu daya tarik orang datang ke Jogja loh,” Kata Deddy saat dihubungi Radar Jogja kemarin (12/8).Deddy membeberkan, okupansi hotel di Kota Jogja mencapai 80-90 persen sepanjang Juni-Juli 2022.

Didukung pula dengan beragam gelaran MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition). “Agustus ini, dibanding Juni-Juli, turunnya MICE cukup banyak. Saat ini rata-rata 40-50 persen,” imbuh dia.

Deddy mengatakan, sebagian besar wisatawan luar Jawa memilih menggunakan pesawat. Lantaran didukung dengan efisiensi waktu perjalanan. “Harga tiket sudah naik. Ini memberatkan. Kami bicara pangsa pasar luar Jawa.” ujar Deddy.

Mereka kebanyakan ke Jogja masuk menggunakan pesawat. Jadi ada yang menunda dan batal,” keluh pria tersebut.Berdasar pengamatan Deddy, rata-rata maskapai menaikkan harga tiketnya dua kali lipat.

Bahkan, dia menjumpai ada maskapai yang mematok kenaikan harga sampai tiga kali lipat. “Kenaikan cukup tajam. Kami mengerti, tapi apakah pemerintah tidak bisa membantu pelaku pariwisata? Organda biasanya menjemput ke bandara sekarang berkurang,” sebut Deddy.

Namun, Deddy mengaku tidak mau tinggal diam. Pihaknya kini tengah menyusun strategi untuk mendongkrak kenaikan okupansi hotel jadi 60-70 persen. Mereka membidik daerah dengan kunjungan tertinggi ke DIJ.

“Kami lakukan promosi ke daerah wisatawan di dalam Jawa. Kami berupaya mendongkrak okupansi di jalur darat,” ungkap Deddy. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan sudah mengizinkan maskapai untuk menaikan harga tiket pesawat mulai 4 agustus 2022.

Aturan harga tiket pesawat sesuai Keputusan Menteri Perhubungan No 142/2022. Dalam beleid ini, memperbolehkan maskapai naikkan harga tiket maksimal 15 persen dari tarif batas atas (TBA) untuk pesawat jenis jet dan maksimal 25 persen dari TBA untuk pesawat jenis propeller.

Ketua BPKN RI, Rizal E Halim pun meminta pemerintah segera mengevaluasi kebijakan tersebut. BPKN RI merespon agar pemerintah melihat lagi komponen-komponen biaya sehingga tidak terlalu menaikan harga yang cukup tinggi.

Lantaran sulit dijangkau oleh pengguna jasa penerbangan terutama pada masa pemulihan ekonomi. “Di sisi lain, BPKN-RI melihat batas kenaikan tarif yang ideal untuk pesawat jenis jet sekitar 8-10 persen dan 10-15 persen untuk pesawat jenis propeller,” ujar Rizal.

Ia berharap pemerintah, melalui Kemenhub sebagai regulator, membuat mitigasi tepat dalam pemulihan transportasi udara. Khusus terhadap badan usaha angkutan udara atau maskapai yang melayani rute penerbangan. (*)

 

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Jawa Pos Radar Jogja

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Jogja

RADARJEMBER.ID – Deddy Pranowo Eryono, Ketua PHRI Kota Jogja menegaskan, transportasi udara adalah salah satu penyokong okupansi hotel di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Namun naiknya harga tiket pesawat menimbulkan keengganan orang naik pesawat.

BACA JUGA : Tiga Hari, Lima Nyawa Warga Jember Melayang di Perlintasan Kereta

“Padahal DIJ punya Yogyakarta International Airport (YIA) yang megah. Itu jadi salah satu daya tarik orang datang ke Jogja loh,” Kata Deddy saat dihubungi Radar Jogja kemarin (12/8).Deddy membeberkan, okupansi hotel di Kota Jogja mencapai 80-90 persen sepanjang Juni-Juli 2022.

Didukung pula dengan beragam gelaran MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition). “Agustus ini, dibanding Juni-Juli, turunnya MICE cukup banyak. Saat ini rata-rata 40-50 persen,” imbuh dia.

Deddy mengatakan, sebagian besar wisatawan luar Jawa memilih menggunakan pesawat. Lantaran didukung dengan efisiensi waktu perjalanan. “Harga tiket sudah naik. Ini memberatkan. Kami bicara pangsa pasar luar Jawa.” ujar Deddy.

Mereka kebanyakan ke Jogja masuk menggunakan pesawat. Jadi ada yang menunda dan batal,” keluh pria tersebut.Berdasar pengamatan Deddy, rata-rata maskapai menaikkan harga tiketnya dua kali lipat.

Bahkan, dia menjumpai ada maskapai yang mematok kenaikan harga sampai tiga kali lipat. “Kenaikan cukup tajam. Kami mengerti, tapi apakah pemerintah tidak bisa membantu pelaku pariwisata? Organda biasanya menjemput ke bandara sekarang berkurang,” sebut Deddy.

Namun, Deddy mengaku tidak mau tinggal diam. Pihaknya kini tengah menyusun strategi untuk mendongkrak kenaikan okupansi hotel jadi 60-70 persen. Mereka membidik daerah dengan kunjungan tertinggi ke DIJ.

“Kami lakukan promosi ke daerah wisatawan di dalam Jawa. Kami berupaya mendongkrak okupansi di jalur darat,” ungkap Deddy. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan sudah mengizinkan maskapai untuk menaikan harga tiket pesawat mulai 4 agustus 2022.

Aturan harga tiket pesawat sesuai Keputusan Menteri Perhubungan No 142/2022. Dalam beleid ini, memperbolehkan maskapai naikkan harga tiket maksimal 15 persen dari tarif batas atas (TBA) untuk pesawat jenis jet dan maksimal 25 persen dari TBA untuk pesawat jenis propeller.

Ketua BPKN RI, Rizal E Halim pun meminta pemerintah segera mengevaluasi kebijakan tersebut. BPKN RI merespon agar pemerintah melihat lagi komponen-komponen biaya sehingga tidak terlalu menaikan harga yang cukup tinggi.

Lantaran sulit dijangkau oleh pengguna jasa penerbangan terutama pada masa pemulihan ekonomi. “Di sisi lain, BPKN-RI melihat batas kenaikan tarif yang ideal untuk pesawat jenis jet sekitar 8-10 persen dan 10-15 persen untuk pesawat jenis propeller,” ujar Rizal.

Ia berharap pemerintah, melalui Kemenhub sebagai regulator, membuat mitigasi tepat dalam pemulihan transportasi udara. Khusus terhadap badan usaha angkutan udara atau maskapai yang melayani rute penerbangan. (*)

 

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Jawa Pos Radar Jogja

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Jogja

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/