alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Peziarah Harus Sewa Perahu Kunjungi Makam Mbah Muzakir

Mobile_AP_Rectangle 1

DEMAK, RADARJEMBER.ID- Makam Waliyullah Syekh KH.Abdulah Muzakir terletak di Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah tidak pernah sepi dikunjungi oleh peziarah tidak terkecuali di bulan suci Ramadan sekalipun, meski makam itu berada di tengah laut dan untuk bisa mencapai makam tersebut harus menyewa perahu terlebih dahulu.

Bagi peziarah ke Mbah Muzakir sebutan dari Syekh Muzakir tersebut penuh tantangan, hal ini berbeda ketika mereka berziarah ke makam waliyullah lainnya. Selain naik perahu ke tengah lautan, agar bisa tiba di tempat tersebut para peziarah harus bentangan kayu penghubung yang sempit dan panjang.

Makam Mbah Muzakir ini terletak sekitar 20 meter dari Pulau Blekok, dimana pulau tersebut merupakan daratan dan bekas perkampungan warga. Akibat gerusan air laut (abrasi), kini daratan itu terpisah dari Desa Bedono. Daratan tersebut ditumbuhi oleh hutan mangrove, di dalam hutan itu dihuni oleh habitat burung blekok (kuntul).

Mobile_AP_Rectangle 2

Saqlah seorang peziarah, Widodo (43), warga Kota Semarang menceritakan, ia dan keluarga sengaja mendatangi makam Mbah Muzakir untuk ngalap berkah. Di makam tersebut, ia bisa mengaji Al Qur’an, baca Tahlil  dan kirim doa. Pria itu mengatakan, ia merasa betah di makam itu, karena pemandangan sekitar pulau itu cukup indah.

Sementara itu, Untung (56) tokoh masyarakat setempat menuturkan, nelayan di pulau itu sangat diuntungkan karena peziarah menyewa perahu mereka.Meski menggunakan mesin diesel, namun perahu milik nelayan mampu melaju kencang diatas laut. Para peziarah selain ke makam, bisa juga berkeliling hutan mangrove melihat suasana kawasan konservasi.

- Advertisement -

DEMAK, RADARJEMBER.ID- Makam Waliyullah Syekh KH.Abdulah Muzakir terletak di Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah tidak pernah sepi dikunjungi oleh peziarah tidak terkecuali di bulan suci Ramadan sekalipun, meski makam itu berada di tengah laut dan untuk bisa mencapai makam tersebut harus menyewa perahu terlebih dahulu.

Bagi peziarah ke Mbah Muzakir sebutan dari Syekh Muzakir tersebut penuh tantangan, hal ini berbeda ketika mereka berziarah ke makam waliyullah lainnya. Selain naik perahu ke tengah lautan, agar bisa tiba di tempat tersebut para peziarah harus bentangan kayu penghubung yang sempit dan panjang.

Makam Mbah Muzakir ini terletak sekitar 20 meter dari Pulau Blekok, dimana pulau tersebut merupakan daratan dan bekas perkampungan warga. Akibat gerusan air laut (abrasi), kini daratan itu terpisah dari Desa Bedono. Daratan tersebut ditumbuhi oleh hutan mangrove, di dalam hutan itu dihuni oleh habitat burung blekok (kuntul).

Saqlah seorang peziarah, Widodo (43), warga Kota Semarang menceritakan, ia dan keluarga sengaja mendatangi makam Mbah Muzakir untuk ngalap berkah. Di makam tersebut, ia bisa mengaji Al Qur’an, baca Tahlil  dan kirim doa. Pria itu mengatakan, ia merasa betah di makam itu, karena pemandangan sekitar pulau itu cukup indah.

Sementara itu, Untung (56) tokoh masyarakat setempat menuturkan, nelayan di pulau itu sangat diuntungkan karena peziarah menyewa perahu mereka.Meski menggunakan mesin diesel, namun perahu milik nelayan mampu melaju kencang diatas laut. Para peziarah selain ke makam, bisa juga berkeliling hutan mangrove melihat suasana kawasan konservasi.

DEMAK, RADARJEMBER.ID- Makam Waliyullah Syekh KH.Abdulah Muzakir terletak di Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah tidak pernah sepi dikunjungi oleh peziarah tidak terkecuali di bulan suci Ramadan sekalipun, meski makam itu berada di tengah laut dan untuk bisa mencapai makam tersebut harus menyewa perahu terlebih dahulu.

Bagi peziarah ke Mbah Muzakir sebutan dari Syekh Muzakir tersebut penuh tantangan, hal ini berbeda ketika mereka berziarah ke makam waliyullah lainnya. Selain naik perahu ke tengah lautan, agar bisa tiba di tempat tersebut para peziarah harus bentangan kayu penghubung yang sempit dan panjang.

Makam Mbah Muzakir ini terletak sekitar 20 meter dari Pulau Blekok, dimana pulau tersebut merupakan daratan dan bekas perkampungan warga. Akibat gerusan air laut (abrasi), kini daratan itu terpisah dari Desa Bedono. Daratan tersebut ditumbuhi oleh hutan mangrove, di dalam hutan itu dihuni oleh habitat burung blekok (kuntul).

Saqlah seorang peziarah, Widodo (43), warga Kota Semarang menceritakan, ia dan keluarga sengaja mendatangi makam Mbah Muzakir untuk ngalap berkah. Di makam tersebut, ia bisa mengaji Al Qur’an, baca Tahlil  dan kirim doa. Pria itu mengatakan, ia merasa betah di makam itu, karena pemandangan sekitar pulau itu cukup indah.

Sementara itu, Untung (56) tokoh masyarakat setempat menuturkan, nelayan di pulau itu sangat diuntungkan karena peziarah menyewa perahu mereka.Meski menggunakan mesin diesel, namun perahu milik nelayan mampu melaju kencang diatas laut. Para peziarah selain ke makam, bisa juga berkeliling hutan mangrove melihat suasana kawasan konservasi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/