alexametrics
27.1 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Kabupaten Wonogiri Milik Cara Tersendiri Tangani Stunting

Mobile_AP_Rectangle 1

WONOGIRI , RADARJEMBER.ID- Pemkab Wonogiri lebih serius menangani stunting. Seperti  melakukan pemetaan anak mengalami gangguan tumbuh kembang agar penangananlebih cepat dan tepat sasaran.

Joko Sutopo, Bupati Wonogiri mengatakan, berdasarkan data, tahun lalu terdapat 4.917 anak bawah dua tahun (baduta)  mengalami stunting. Pemkab telah melakukan intervensi terhadap ribuan anak itu.

“Untuk saat ini, yang dinyatakan stunting sebanyak 222 anak,” ungkap Joko  usai rembuk stunting Kabupaten Wonogiri di pendapa rumah dinas bupati Wonogiri,  kemarin.Sebanyak 222 anak yang mengalami stunting segera mendapat intervensi dari Pemkab Wonogiri.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ditambahkan Joko, sebaran kasus stunting di Wonogiri telah terpetakan. Mulai dari nama hingga alamat domisili sang anak. Tim percepatan penurunan stunting (TPPS) dipastikan siap melakukan intervensi.

“Itu nanti diintervensi, dikeroyok bareng oleh tim. Petanya kan sudah jelas, jadi mudah intervensinya,” terang Bupati Joko.Kasus stunting di Kecamatan Karangtengah paling menonjo diantara kecamatan lain.

Karena itu, Pemkab Wonogiri berencana menggelar peringatan Hari Anak Nasional di kecamatan setempat guna memberikan pahaman kepada  semua Warga.“Tadi kami sampaikan, stunting bukan representasi miskin.”imbuh Joko.

Lanjut Joko, namun ada orang tua dari bocah stunting itu orang tua mereka berprofesi sebagai guru, anaknya mengalami stunting. Fakta di lapangan, ada keluarga yang secara ekonomi mampu, tapi anaknya stunting,” ucap dia.

Lebih lanjut dipaparkan bupati, pencegahan stunting dilakukan sejak dini. Saat masih menjadi calon pengantin, sudah mendapatkan edukasi. Berlanjut ketika masa ibu hamil hingga 1.000 hari kehidupan pertama anak.

Dengan upaya dan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat, Joko Sutopo optimistis pada 2024, Wonogiri bisa zero stunting. Apalagi kini sudah tersedia aplikasi Cinta Mutiara Keluarga yang disiapkan Pemkab Wonogiri untuk skrining potensi stunting.

Dari aplikasi itu bisa diketahui jumlah ibu hamil yang memiliki risiko buah hatinya mengalami stunting. “Ibu hamil harus rutin memeriksakan kondisinya, baik ke bidan atau puskesmas. Sekaligus untuk diskrining.” terang Joko.

Catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri, jumlah ibu hamil  pada awal 2022 sebanyak 7.325 orang. Hingga Juli lalu, sebanyak 3.763 ibu hamil sudah melahirkan.Di lain sisi, Kabupaten Wonogiri mendapatkan penghargaan dari gubernur Jawa Tengah.

Sebagai kabupaten/kota terbaik II kategori Perintis Aksi Konvergensi Pencegahan Stunting Terintegrasi 2021 tingkat Jawa Tengah.Penghargaan tersebut berdasarkan keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 002.5/69/2021 tertanggal 21 Desember 2021.

Menurut Joko Sutopo, capaian itu didapat atas semangat Go Nyawiji yang didalamya ada kebersamaan, totalitas, dan harmonisasi semua pihak. Kerja bersama itu selayaknya sebuah orkestra dengan dirigen kepala daerah.

“Banyak instrumen yang punya peran. Hasilnya, penurunan kasus stunting dari 24 persen menjadi hanya 12,8 persen. Kami sudah punya peta yang jelas sebanyak 222 anak stunting dan secepatnya diintervensi,” pungkas Joko.(*)

 

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Istimewa

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Solo

 

- Advertisement -

WONOGIRI , RADARJEMBER.ID- Pemkab Wonogiri lebih serius menangani stunting. Seperti  melakukan pemetaan anak mengalami gangguan tumbuh kembang agar penangananlebih cepat dan tepat sasaran.

Joko Sutopo, Bupati Wonogiri mengatakan, berdasarkan data, tahun lalu terdapat 4.917 anak bawah dua tahun (baduta)  mengalami stunting. Pemkab telah melakukan intervensi terhadap ribuan anak itu.

“Untuk saat ini, yang dinyatakan stunting sebanyak 222 anak,” ungkap Joko  usai rembuk stunting Kabupaten Wonogiri di pendapa rumah dinas bupati Wonogiri,  kemarin.Sebanyak 222 anak yang mengalami stunting segera mendapat intervensi dari Pemkab Wonogiri.

Ditambahkan Joko, sebaran kasus stunting di Wonogiri telah terpetakan. Mulai dari nama hingga alamat domisili sang anak. Tim percepatan penurunan stunting (TPPS) dipastikan siap melakukan intervensi.

“Itu nanti diintervensi, dikeroyok bareng oleh tim. Petanya kan sudah jelas, jadi mudah intervensinya,” terang Bupati Joko.Kasus stunting di Kecamatan Karangtengah paling menonjo diantara kecamatan lain.

Karena itu, Pemkab Wonogiri berencana menggelar peringatan Hari Anak Nasional di kecamatan setempat guna memberikan pahaman kepada  semua Warga.“Tadi kami sampaikan, stunting bukan representasi miskin.”imbuh Joko.

Lanjut Joko, namun ada orang tua dari bocah stunting itu orang tua mereka berprofesi sebagai guru, anaknya mengalami stunting. Fakta di lapangan, ada keluarga yang secara ekonomi mampu, tapi anaknya stunting,” ucap dia.

Lebih lanjut dipaparkan bupati, pencegahan stunting dilakukan sejak dini. Saat masih menjadi calon pengantin, sudah mendapatkan edukasi. Berlanjut ketika masa ibu hamil hingga 1.000 hari kehidupan pertama anak.

Dengan upaya dan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat, Joko Sutopo optimistis pada 2024, Wonogiri bisa zero stunting. Apalagi kini sudah tersedia aplikasi Cinta Mutiara Keluarga yang disiapkan Pemkab Wonogiri untuk skrining potensi stunting.

Dari aplikasi itu bisa diketahui jumlah ibu hamil yang memiliki risiko buah hatinya mengalami stunting. “Ibu hamil harus rutin memeriksakan kondisinya, baik ke bidan atau puskesmas. Sekaligus untuk diskrining.” terang Joko.

Catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri, jumlah ibu hamil  pada awal 2022 sebanyak 7.325 orang. Hingga Juli lalu, sebanyak 3.763 ibu hamil sudah melahirkan.Di lain sisi, Kabupaten Wonogiri mendapatkan penghargaan dari gubernur Jawa Tengah.

Sebagai kabupaten/kota terbaik II kategori Perintis Aksi Konvergensi Pencegahan Stunting Terintegrasi 2021 tingkat Jawa Tengah.Penghargaan tersebut berdasarkan keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 002.5/69/2021 tertanggal 21 Desember 2021.

Menurut Joko Sutopo, capaian itu didapat atas semangat Go Nyawiji yang didalamya ada kebersamaan, totalitas, dan harmonisasi semua pihak. Kerja bersama itu selayaknya sebuah orkestra dengan dirigen kepala daerah.

“Banyak instrumen yang punya peran. Hasilnya, penurunan kasus stunting dari 24 persen menjadi hanya 12,8 persen. Kami sudah punya peta yang jelas sebanyak 222 anak stunting dan secepatnya diintervensi,” pungkas Joko.(*)

 

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Istimewa

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Solo

 

WONOGIRI , RADARJEMBER.ID- Pemkab Wonogiri lebih serius menangani stunting. Seperti  melakukan pemetaan anak mengalami gangguan tumbuh kembang agar penangananlebih cepat dan tepat sasaran.

Joko Sutopo, Bupati Wonogiri mengatakan, berdasarkan data, tahun lalu terdapat 4.917 anak bawah dua tahun (baduta)  mengalami stunting. Pemkab telah melakukan intervensi terhadap ribuan anak itu.

“Untuk saat ini, yang dinyatakan stunting sebanyak 222 anak,” ungkap Joko  usai rembuk stunting Kabupaten Wonogiri di pendapa rumah dinas bupati Wonogiri,  kemarin.Sebanyak 222 anak yang mengalami stunting segera mendapat intervensi dari Pemkab Wonogiri.

Ditambahkan Joko, sebaran kasus stunting di Wonogiri telah terpetakan. Mulai dari nama hingga alamat domisili sang anak. Tim percepatan penurunan stunting (TPPS) dipastikan siap melakukan intervensi.

“Itu nanti diintervensi, dikeroyok bareng oleh tim. Petanya kan sudah jelas, jadi mudah intervensinya,” terang Bupati Joko.Kasus stunting di Kecamatan Karangtengah paling menonjo diantara kecamatan lain.

Karena itu, Pemkab Wonogiri berencana menggelar peringatan Hari Anak Nasional di kecamatan setempat guna memberikan pahaman kepada  semua Warga.“Tadi kami sampaikan, stunting bukan representasi miskin.”imbuh Joko.

Lanjut Joko, namun ada orang tua dari bocah stunting itu orang tua mereka berprofesi sebagai guru, anaknya mengalami stunting. Fakta di lapangan, ada keluarga yang secara ekonomi mampu, tapi anaknya stunting,” ucap dia.

Lebih lanjut dipaparkan bupati, pencegahan stunting dilakukan sejak dini. Saat masih menjadi calon pengantin, sudah mendapatkan edukasi. Berlanjut ketika masa ibu hamil hingga 1.000 hari kehidupan pertama anak.

Dengan upaya dan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat, Joko Sutopo optimistis pada 2024, Wonogiri bisa zero stunting. Apalagi kini sudah tersedia aplikasi Cinta Mutiara Keluarga yang disiapkan Pemkab Wonogiri untuk skrining potensi stunting.

Dari aplikasi itu bisa diketahui jumlah ibu hamil yang memiliki risiko buah hatinya mengalami stunting. “Ibu hamil harus rutin memeriksakan kondisinya, baik ke bidan atau puskesmas. Sekaligus untuk diskrining.” terang Joko.

Catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri, jumlah ibu hamil  pada awal 2022 sebanyak 7.325 orang. Hingga Juli lalu, sebanyak 3.763 ibu hamil sudah melahirkan.Di lain sisi, Kabupaten Wonogiri mendapatkan penghargaan dari gubernur Jawa Tengah.

Sebagai kabupaten/kota terbaik II kategori Perintis Aksi Konvergensi Pencegahan Stunting Terintegrasi 2021 tingkat Jawa Tengah.Penghargaan tersebut berdasarkan keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 002.5/69/2021 tertanggal 21 Desember 2021.

Menurut Joko Sutopo, capaian itu didapat atas semangat Go Nyawiji yang didalamya ada kebersamaan, totalitas, dan harmonisasi semua pihak. Kerja bersama itu selayaknya sebuah orkestra dengan dirigen kepala daerah.

“Banyak instrumen yang punya peran. Hasilnya, penurunan kasus stunting dari 24 persen menjadi hanya 12,8 persen. Kami sudah punya peta yang jelas sebanyak 222 anak stunting dan secepatnya diintervensi,” pungkas Joko.(*)

 

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Istimewa

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Solo

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/