alexametrics
27.1 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Jamin Kediri Tak Bakal Kekurangan Air Selama Kemarau

Mobile_AP_Rectangle 1

KOTA KEDIRI, RADARJEMBER.ID – Meski musim kemarau, Kota Kediri dipastikan tidak kekurangan air bersih. Pasalnya, banyak sumber mata air dan pipanisasi air warga. Namun, bencana kebakaran dan angin kencang masih mengancam.

BACA JUGA : Penumpang Pelni Naik 155 Persen hingga Paro Pertama 2022

Hal itu disampaikan Indun Munawaroh, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri. Menurut dia, informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur, puncak kemarau diprediksi terjadi Agustus dan September.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Saat kemarau, tidak sedikit daerah mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih,” ujar Hindun.Namun tahun ini kondisi tersebut tidak berlaku di Kota Kediri. Indun mengatakan, pihak BPBD  telah melakukan berbagai persiapan menghadapi risiko bencana saat kemarau.

“Alhamdulillah, wilayah Kota Kediri saat kemarau tidak sampai kekeringan air bersih. Semua masyarakat dan wilayah masih tercukupi kebutuhan air bersihnya,” terang perempuan itu.BPBD telah melakukan pengecekan ke sumur-sumur di wilayah rentan kekeringan.

Itu seperti di Lebaktumpang di Kelurahan Pojok, Mojoroto. “Memang berdasar history di sana sering terjadi kekeringan saat kemarau, tapi setelah kami cek sumur-sumur di sana insya Allah bisa memenuhi kebutuhan air,” papar Indun.

Saat kemarau, lanjut Indun, kerawanan bencana yang diantisipasi terjadi adalah kebakaran dan angin kencang. Sesuai informasi BMKG, curah hujan termasuk kategori rendah berkisar 0 sampai 100 mililiter.

“Kecepatan angin akan mengalami puncak dalam bulan ini. Biasa disebut oleh warga angin gending. Diperkirakan berkisar 30 sampai 37 kilometer per jam,” imbuh dia.Cuaca panas ditambah angin kencang, menurut Indun, bisa berpengaruh terhadap kesehatan.

Bahkan berpotensi menimbulkan kebakaran lahan hingga pohon dan papan reklame ambruk. “BPBD  sudah rapat koordinasi  bersama muspika untuk mengimbau warga agar tidak membakar sampah di lahan tebu, lahan hutan, dan lahan kosong karena berpotensi kebakaran.”pungkas dia. (*)

 

Editor:Winardyasto Hari Kirono

Foto:Wahyu Adji/Jawa Pos Radar Kediri

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Kediri

- Advertisement -

KOTA KEDIRI, RADARJEMBER.ID – Meski musim kemarau, Kota Kediri dipastikan tidak kekurangan air bersih. Pasalnya, banyak sumber mata air dan pipanisasi air warga. Namun, bencana kebakaran dan angin kencang masih mengancam.

BACA JUGA : Penumpang Pelni Naik 155 Persen hingga Paro Pertama 2022

Hal itu disampaikan Indun Munawaroh, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri. Menurut dia, informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur, puncak kemarau diprediksi terjadi Agustus dan September.

“Saat kemarau, tidak sedikit daerah mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih,” ujar Hindun.Namun tahun ini kondisi tersebut tidak berlaku di Kota Kediri. Indun mengatakan, pihak BPBD  telah melakukan berbagai persiapan menghadapi risiko bencana saat kemarau.

“Alhamdulillah, wilayah Kota Kediri saat kemarau tidak sampai kekeringan air bersih. Semua masyarakat dan wilayah masih tercukupi kebutuhan air bersihnya,” terang perempuan itu.BPBD telah melakukan pengecekan ke sumur-sumur di wilayah rentan kekeringan.

Itu seperti di Lebaktumpang di Kelurahan Pojok, Mojoroto. “Memang berdasar history di sana sering terjadi kekeringan saat kemarau, tapi setelah kami cek sumur-sumur di sana insya Allah bisa memenuhi kebutuhan air,” papar Indun.

Saat kemarau, lanjut Indun, kerawanan bencana yang diantisipasi terjadi adalah kebakaran dan angin kencang. Sesuai informasi BMKG, curah hujan termasuk kategori rendah berkisar 0 sampai 100 mililiter.

“Kecepatan angin akan mengalami puncak dalam bulan ini. Biasa disebut oleh warga angin gending. Diperkirakan berkisar 30 sampai 37 kilometer per jam,” imbuh dia.Cuaca panas ditambah angin kencang, menurut Indun, bisa berpengaruh terhadap kesehatan.

Bahkan berpotensi menimbulkan kebakaran lahan hingga pohon dan papan reklame ambruk. “BPBD  sudah rapat koordinasi  bersama muspika untuk mengimbau warga agar tidak membakar sampah di lahan tebu, lahan hutan, dan lahan kosong karena berpotensi kebakaran.”pungkas dia. (*)

 

Editor:Winardyasto Hari Kirono

Foto:Wahyu Adji/Jawa Pos Radar Kediri

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Kediri

KOTA KEDIRI, RADARJEMBER.ID – Meski musim kemarau, Kota Kediri dipastikan tidak kekurangan air bersih. Pasalnya, banyak sumber mata air dan pipanisasi air warga. Namun, bencana kebakaran dan angin kencang masih mengancam.

BACA JUGA : Penumpang Pelni Naik 155 Persen hingga Paro Pertama 2022

Hal itu disampaikan Indun Munawaroh, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri. Menurut dia, informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur, puncak kemarau diprediksi terjadi Agustus dan September.

“Saat kemarau, tidak sedikit daerah mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih,” ujar Hindun.Namun tahun ini kondisi tersebut tidak berlaku di Kota Kediri. Indun mengatakan, pihak BPBD  telah melakukan berbagai persiapan menghadapi risiko bencana saat kemarau.

“Alhamdulillah, wilayah Kota Kediri saat kemarau tidak sampai kekeringan air bersih. Semua masyarakat dan wilayah masih tercukupi kebutuhan air bersihnya,” terang perempuan itu.BPBD telah melakukan pengecekan ke sumur-sumur di wilayah rentan kekeringan.

Itu seperti di Lebaktumpang di Kelurahan Pojok, Mojoroto. “Memang berdasar history di sana sering terjadi kekeringan saat kemarau, tapi setelah kami cek sumur-sumur di sana insya Allah bisa memenuhi kebutuhan air,” papar Indun.

Saat kemarau, lanjut Indun, kerawanan bencana yang diantisipasi terjadi adalah kebakaran dan angin kencang. Sesuai informasi BMKG, curah hujan termasuk kategori rendah berkisar 0 sampai 100 mililiter.

“Kecepatan angin akan mengalami puncak dalam bulan ini. Biasa disebut oleh warga angin gending. Diperkirakan berkisar 30 sampai 37 kilometer per jam,” imbuh dia.Cuaca panas ditambah angin kencang, menurut Indun, bisa berpengaruh terhadap kesehatan.

Bahkan berpotensi menimbulkan kebakaran lahan hingga pohon dan papan reklame ambruk. “BPBD  sudah rapat koordinasi  bersama muspika untuk mengimbau warga agar tidak membakar sampah di lahan tebu, lahan hutan, dan lahan kosong karena berpotensi kebakaran.”pungkas dia. (*)

 

Editor:Winardyasto Hari Kirono

Foto:Wahyu Adji/Jawa Pos Radar Kediri

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Kediri

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/