23.9 C
Jember
Friday, 3 February 2023

Prawiro Sugi Pensiunan Polisi Jago Lari Sempat Jadi Juara

Mobile_AP_Rectangle 1

SEMARANG, RADARJEMBER.ID- Pantang mundur sangat pantas disematkan untuk Prawiro Sugi. Meski sudah purnatugas menjadi Polisi sejak 2013, semangatnya tak luntur. Ia terus menorehkan prestasi saat bergabung bersama Pelopor Angkatan Muda Indonesia (PAMI).

Polres Bangka Barat Awasi Aktivitas Tambang Bijih Timah

Berbagai ajang lomba lari telah diikuti pria tersebut. Puluhan medali emas didapatkan Prawiro. Ketika koran ini mendatangi purnawiraewan polisi itu di Perumahan Durenan Indah, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, ia sedamng  tidak berada di rumah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sang istri, Endang Puji Astuti mengatakan suaminya sedang bekerja sebagai tenaga keamanan di kompleks Laboratorium Sekolah Berbasis Alam Kebon Dalem, tak jauh dari tempat dia tinggal di Durenan Indah melewati kebun, dan gang sempit antar rumah warga.

Sampailah di kompleks Laboratorium Sekolah Berbasis Alam Kebon Dalem. Terlihat pria dengan kaos loreng-loreng dan mengenakan caping sedang duduk. Ia tertawa ria bercengkrama dengan pekerja. Orang-orang biasa menyapanya dengan Mbah Sugi.

Pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur ini memang terkenal dengan sosok periang dan tak mudah marah. Nampaknya Mbah Sugi telah selesai bercocok tanam, dan duduk santai di gazebo dan saat itu terlihat sedang direnovasi.

“Oh ya mbak sini naik, lewatnya sana ya,” kata pria berusia senja itu sambil menunjukkan jalan. Koran ini pun dipersilakan duduk. Mbah Sugi mulai menceritakan pengalaman bisa masuk di sekolah kepolisian.

Sempat terkendala biaya tak membuatnya patah arang. Berkat bantuan dari pamannya, ia bisa pindah ke Magelang dan melanjutkan studi di Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA). Setelah lulus dari sini, kariernya dimulai.

“Dulu saya ini orang desa. Lihat ada TNI dan Polri datang ke kampung, saya jadi tertarik seperti mereka. Kelihatannya keren dan gagah,” ceritanya sambil tersenyum. Setelah lulus, pria 68 tahun ini pun tidak langsung mendaftar di kepolisian.

Ia sempat menjadi guru selama dua bulan, dan dibayar hanya dengan uang transport. Barulah setelah itu, ada pendaftaran untuk masuk ke TNI dan Polri pada 1974. Ia mendaftar keduanya hingga akhir. Namun rezeki memihaknya untuk menjadi polisi demi mengayomi masyarakat.

Pada 1975, ia pun mendapatkan surat keputusan pengangkatan sebagai anggota Polri dengan pangkat Tamtama. Tugasnya di Poltabes Semarang (sekarang Polrestabes) di bidang Binjas (Pembinaan Jasmani) untuk mengurusi segala hal yang berkaitan dengan olahraga.

Seperti, bakset voli, sepak bola, lari, dan lainnya. “Saya ini yang paling kecil, mungkin dilihat juga dari ijazah asal sekolah saya SMOA. Jadi ditugaskan di Binjas,” akunya. Mbah Sugi menjadi Tamtama selama 25 tahun hingga akhirnya sekitar 2000, ia diangkat menjadi perwira.

Setelah mengikuti pelatihan selama enam bulan Setelah itu, ayah dua anak ini dipindahkan ke Sragen dan menjadi Kapolsek di Tangen selama empat tahun, lalu Kapolsek Plupuh empat tahun, dan terakhir Kapolsek Mondokan Sragen hingga purnatugas pada 2013.

Selama menjabat menjadi kapolsek, Mbah Sugi mengaku ada suka dan duka dalam menjalankan tugasnya. Dukanya ketika ada kejadian dua perguruan tinggi silat di Mondokan yang selalu tawuran dan mengganggu ketertiban warga, ia merasa sedih.

Meskipun demikian, tetap bisa diselesaikan. Sementara senangnya karena banyak masyarakat yang terbantu karenanya. “Senangnya menjadi polisi itu ya kita bisa membantu masyarakat, bisa bermanfaat untuk orang lain, dan mereka juga ngajeni,” katanya.

Sebagai anggota Polri, Mbah Sugi memiliki kelebihan di cabang olahraga atletik. Ia kerap menjuarai lomba dan mendapatkan medali emas. Seperti juara 1 lomba lari tingkat Jawa Tengah. Ia pernah mengikuti lomba lari di Lampung jarak 800 meter, 1500 meter, dan 3000 meter.

Semuanya mendapatkan juara satu. Hal ini terus berjalan hingga ia purnatugas. Meski sudah berusia kepala enam, badannya tetap kencang. Jalannya pun cepat. Hal ini karena Mbah Sugi rutin lari sejauh lima kilometer setiap hari.

Namun sejak ia jatuh dari tebing enam bulan lalu, Mbah Sugi tidak lagi bisa berlari dan terpaksa tidak mengikuti lomba lari di Jogjakarta. Terlihat satu lemari besar berisikan piagam, medali, dan piala hasil lomba yang dimenangkannya.

Piagam dan medalinya berjajar rapi. Sesekali Mbah Sugi juga membersihkannya. Uniknya, Mbah Sugi selalu bernazar ketika keinginannya terkabul. Misalnya, ketika ia lulus menjadi siswa terbaik Secapa Polri tahun 2000, Mbah Sugi bernazar berjalan kaki dari Sukabumi ke Semarang.

Ia membutuhkan waktu 11 hari untuk melakukan perjalanannya. Ia juga pernah berjalan kaki dari Sragen ke Semarang ketika berhasil menjalankan tugasnya dengan baik sebagai kapolsek. Terakhir, Mbah Sugi pernah nazar berjalan kaki dari Purwokerto ke Semarang.

Ketika cucunya lulus menjadi polisi. Memang unik, tapi inilah Mbah Sugi yang senang dengan olahraga, terutama lari. “Ya, itu namanya jalan-jalan, senang aja nambah saudara, bisa mampir ke polsek-polsek setempat,” kata dia.

Meski sudah lansia, semangat juangnya sangatlah tinggi. Ia masih aktif mengikuti kegiatan di perumahannya. Bahkan kegiatan warga RW 06 Mangunharjo selalu dipeloporinya, seperti kerja bakti, pengajian, dan perkumpulan rutin warga.

“Kalau kerja bakti aku ra ngoprak-ngoprak yo ra ono sing teko,” ucapnya sambil terkekeh. Mbah Sugi tidak pernah mengeluh meski prestasinya tidak dihargai. Ia merasa senang jika orang lain merasa terbantu olehnya.

Ia kini sering mengajak orang lain untuk melakukan penghijauan di sekitar rumah. Seperti menanam bunga, sayur-sayuran, dan beragam tanaman lain. “Sejak sakit, kerjaan saya hanya ke kebun, nanam cabai, kacang, dan singkong untuk dimakan sendiri.(*)

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Khafifah Arini Putri/Jawa Pos Radar Semarang

Sumber Berita:Jawa Pos Radar semarang

 

 

- Advertisement -

SEMARANG, RADARJEMBER.ID- Pantang mundur sangat pantas disematkan untuk Prawiro Sugi. Meski sudah purnatugas menjadi Polisi sejak 2013, semangatnya tak luntur. Ia terus menorehkan prestasi saat bergabung bersama Pelopor Angkatan Muda Indonesia (PAMI).

Polres Bangka Barat Awasi Aktivitas Tambang Bijih Timah

Berbagai ajang lomba lari telah diikuti pria tersebut. Puluhan medali emas didapatkan Prawiro. Ketika koran ini mendatangi purnawiraewan polisi itu di Perumahan Durenan Indah, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, ia sedamng  tidak berada di rumah.

Sang istri, Endang Puji Astuti mengatakan suaminya sedang bekerja sebagai tenaga keamanan di kompleks Laboratorium Sekolah Berbasis Alam Kebon Dalem, tak jauh dari tempat dia tinggal di Durenan Indah melewati kebun, dan gang sempit antar rumah warga.

Sampailah di kompleks Laboratorium Sekolah Berbasis Alam Kebon Dalem. Terlihat pria dengan kaos loreng-loreng dan mengenakan caping sedang duduk. Ia tertawa ria bercengkrama dengan pekerja. Orang-orang biasa menyapanya dengan Mbah Sugi.

Pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur ini memang terkenal dengan sosok periang dan tak mudah marah. Nampaknya Mbah Sugi telah selesai bercocok tanam, dan duduk santai di gazebo dan saat itu terlihat sedang direnovasi.

“Oh ya mbak sini naik, lewatnya sana ya,” kata pria berusia senja itu sambil menunjukkan jalan. Koran ini pun dipersilakan duduk. Mbah Sugi mulai menceritakan pengalaman bisa masuk di sekolah kepolisian.

Sempat terkendala biaya tak membuatnya patah arang. Berkat bantuan dari pamannya, ia bisa pindah ke Magelang dan melanjutkan studi di Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA). Setelah lulus dari sini, kariernya dimulai.

“Dulu saya ini orang desa. Lihat ada TNI dan Polri datang ke kampung, saya jadi tertarik seperti mereka. Kelihatannya keren dan gagah,” ceritanya sambil tersenyum. Setelah lulus, pria 68 tahun ini pun tidak langsung mendaftar di kepolisian.

Ia sempat menjadi guru selama dua bulan, dan dibayar hanya dengan uang transport. Barulah setelah itu, ada pendaftaran untuk masuk ke TNI dan Polri pada 1974. Ia mendaftar keduanya hingga akhir. Namun rezeki memihaknya untuk menjadi polisi demi mengayomi masyarakat.

Pada 1975, ia pun mendapatkan surat keputusan pengangkatan sebagai anggota Polri dengan pangkat Tamtama. Tugasnya di Poltabes Semarang (sekarang Polrestabes) di bidang Binjas (Pembinaan Jasmani) untuk mengurusi segala hal yang berkaitan dengan olahraga.

Seperti, bakset voli, sepak bola, lari, dan lainnya. “Saya ini yang paling kecil, mungkin dilihat juga dari ijazah asal sekolah saya SMOA. Jadi ditugaskan di Binjas,” akunya. Mbah Sugi menjadi Tamtama selama 25 tahun hingga akhirnya sekitar 2000, ia diangkat menjadi perwira.

Setelah mengikuti pelatihan selama enam bulan Setelah itu, ayah dua anak ini dipindahkan ke Sragen dan menjadi Kapolsek di Tangen selama empat tahun, lalu Kapolsek Plupuh empat tahun, dan terakhir Kapolsek Mondokan Sragen hingga purnatugas pada 2013.

Selama menjabat menjadi kapolsek, Mbah Sugi mengaku ada suka dan duka dalam menjalankan tugasnya. Dukanya ketika ada kejadian dua perguruan tinggi silat di Mondokan yang selalu tawuran dan mengganggu ketertiban warga, ia merasa sedih.

Meskipun demikian, tetap bisa diselesaikan. Sementara senangnya karena banyak masyarakat yang terbantu karenanya. “Senangnya menjadi polisi itu ya kita bisa membantu masyarakat, bisa bermanfaat untuk orang lain, dan mereka juga ngajeni,” katanya.

Sebagai anggota Polri, Mbah Sugi memiliki kelebihan di cabang olahraga atletik. Ia kerap menjuarai lomba dan mendapatkan medali emas. Seperti juara 1 lomba lari tingkat Jawa Tengah. Ia pernah mengikuti lomba lari di Lampung jarak 800 meter, 1500 meter, dan 3000 meter.

Semuanya mendapatkan juara satu. Hal ini terus berjalan hingga ia purnatugas. Meski sudah berusia kepala enam, badannya tetap kencang. Jalannya pun cepat. Hal ini karena Mbah Sugi rutin lari sejauh lima kilometer setiap hari.

Namun sejak ia jatuh dari tebing enam bulan lalu, Mbah Sugi tidak lagi bisa berlari dan terpaksa tidak mengikuti lomba lari di Jogjakarta. Terlihat satu lemari besar berisikan piagam, medali, dan piala hasil lomba yang dimenangkannya.

Piagam dan medalinya berjajar rapi. Sesekali Mbah Sugi juga membersihkannya. Uniknya, Mbah Sugi selalu bernazar ketika keinginannya terkabul. Misalnya, ketika ia lulus menjadi siswa terbaik Secapa Polri tahun 2000, Mbah Sugi bernazar berjalan kaki dari Sukabumi ke Semarang.

Ia membutuhkan waktu 11 hari untuk melakukan perjalanannya. Ia juga pernah berjalan kaki dari Sragen ke Semarang ketika berhasil menjalankan tugasnya dengan baik sebagai kapolsek. Terakhir, Mbah Sugi pernah nazar berjalan kaki dari Purwokerto ke Semarang.

Ketika cucunya lulus menjadi polisi. Memang unik, tapi inilah Mbah Sugi yang senang dengan olahraga, terutama lari. “Ya, itu namanya jalan-jalan, senang aja nambah saudara, bisa mampir ke polsek-polsek setempat,” kata dia.

Meski sudah lansia, semangat juangnya sangatlah tinggi. Ia masih aktif mengikuti kegiatan di perumahannya. Bahkan kegiatan warga RW 06 Mangunharjo selalu dipeloporinya, seperti kerja bakti, pengajian, dan perkumpulan rutin warga.

“Kalau kerja bakti aku ra ngoprak-ngoprak yo ra ono sing teko,” ucapnya sambil terkekeh. Mbah Sugi tidak pernah mengeluh meski prestasinya tidak dihargai. Ia merasa senang jika orang lain merasa terbantu olehnya.

Ia kini sering mengajak orang lain untuk melakukan penghijauan di sekitar rumah. Seperti menanam bunga, sayur-sayuran, dan beragam tanaman lain. “Sejak sakit, kerjaan saya hanya ke kebun, nanam cabai, kacang, dan singkong untuk dimakan sendiri.(*)

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Khafifah Arini Putri/Jawa Pos Radar Semarang

Sumber Berita:Jawa Pos Radar semarang

 

 

SEMARANG, RADARJEMBER.ID- Pantang mundur sangat pantas disematkan untuk Prawiro Sugi. Meski sudah purnatugas menjadi Polisi sejak 2013, semangatnya tak luntur. Ia terus menorehkan prestasi saat bergabung bersama Pelopor Angkatan Muda Indonesia (PAMI).

Polres Bangka Barat Awasi Aktivitas Tambang Bijih Timah

Berbagai ajang lomba lari telah diikuti pria tersebut. Puluhan medali emas didapatkan Prawiro. Ketika koran ini mendatangi purnawiraewan polisi itu di Perumahan Durenan Indah, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, ia sedamng  tidak berada di rumah.

Sang istri, Endang Puji Astuti mengatakan suaminya sedang bekerja sebagai tenaga keamanan di kompleks Laboratorium Sekolah Berbasis Alam Kebon Dalem, tak jauh dari tempat dia tinggal di Durenan Indah melewati kebun, dan gang sempit antar rumah warga.

Sampailah di kompleks Laboratorium Sekolah Berbasis Alam Kebon Dalem. Terlihat pria dengan kaos loreng-loreng dan mengenakan caping sedang duduk. Ia tertawa ria bercengkrama dengan pekerja. Orang-orang biasa menyapanya dengan Mbah Sugi.

Pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur ini memang terkenal dengan sosok periang dan tak mudah marah. Nampaknya Mbah Sugi telah selesai bercocok tanam, dan duduk santai di gazebo dan saat itu terlihat sedang direnovasi.

“Oh ya mbak sini naik, lewatnya sana ya,” kata pria berusia senja itu sambil menunjukkan jalan. Koran ini pun dipersilakan duduk. Mbah Sugi mulai menceritakan pengalaman bisa masuk di sekolah kepolisian.

Sempat terkendala biaya tak membuatnya patah arang. Berkat bantuan dari pamannya, ia bisa pindah ke Magelang dan melanjutkan studi di Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA). Setelah lulus dari sini, kariernya dimulai.

“Dulu saya ini orang desa. Lihat ada TNI dan Polri datang ke kampung, saya jadi tertarik seperti mereka. Kelihatannya keren dan gagah,” ceritanya sambil tersenyum. Setelah lulus, pria 68 tahun ini pun tidak langsung mendaftar di kepolisian.

Ia sempat menjadi guru selama dua bulan, dan dibayar hanya dengan uang transport. Barulah setelah itu, ada pendaftaran untuk masuk ke TNI dan Polri pada 1974. Ia mendaftar keduanya hingga akhir. Namun rezeki memihaknya untuk menjadi polisi demi mengayomi masyarakat.

Pada 1975, ia pun mendapatkan surat keputusan pengangkatan sebagai anggota Polri dengan pangkat Tamtama. Tugasnya di Poltabes Semarang (sekarang Polrestabes) di bidang Binjas (Pembinaan Jasmani) untuk mengurusi segala hal yang berkaitan dengan olahraga.

Seperti, bakset voli, sepak bola, lari, dan lainnya. “Saya ini yang paling kecil, mungkin dilihat juga dari ijazah asal sekolah saya SMOA. Jadi ditugaskan di Binjas,” akunya. Mbah Sugi menjadi Tamtama selama 25 tahun hingga akhirnya sekitar 2000, ia diangkat menjadi perwira.

Setelah mengikuti pelatihan selama enam bulan Setelah itu, ayah dua anak ini dipindahkan ke Sragen dan menjadi Kapolsek di Tangen selama empat tahun, lalu Kapolsek Plupuh empat tahun, dan terakhir Kapolsek Mondokan Sragen hingga purnatugas pada 2013.

Selama menjabat menjadi kapolsek, Mbah Sugi mengaku ada suka dan duka dalam menjalankan tugasnya. Dukanya ketika ada kejadian dua perguruan tinggi silat di Mondokan yang selalu tawuran dan mengganggu ketertiban warga, ia merasa sedih.

Meskipun demikian, tetap bisa diselesaikan. Sementara senangnya karena banyak masyarakat yang terbantu karenanya. “Senangnya menjadi polisi itu ya kita bisa membantu masyarakat, bisa bermanfaat untuk orang lain, dan mereka juga ngajeni,” katanya.

Sebagai anggota Polri, Mbah Sugi memiliki kelebihan di cabang olahraga atletik. Ia kerap menjuarai lomba dan mendapatkan medali emas. Seperti juara 1 lomba lari tingkat Jawa Tengah. Ia pernah mengikuti lomba lari di Lampung jarak 800 meter, 1500 meter, dan 3000 meter.

Semuanya mendapatkan juara satu. Hal ini terus berjalan hingga ia purnatugas. Meski sudah berusia kepala enam, badannya tetap kencang. Jalannya pun cepat. Hal ini karena Mbah Sugi rutin lari sejauh lima kilometer setiap hari.

Namun sejak ia jatuh dari tebing enam bulan lalu, Mbah Sugi tidak lagi bisa berlari dan terpaksa tidak mengikuti lomba lari di Jogjakarta. Terlihat satu lemari besar berisikan piagam, medali, dan piala hasil lomba yang dimenangkannya.

Piagam dan medalinya berjajar rapi. Sesekali Mbah Sugi juga membersihkannya. Uniknya, Mbah Sugi selalu bernazar ketika keinginannya terkabul. Misalnya, ketika ia lulus menjadi siswa terbaik Secapa Polri tahun 2000, Mbah Sugi bernazar berjalan kaki dari Sukabumi ke Semarang.

Ia membutuhkan waktu 11 hari untuk melakukan perjalanannya. Ia juga pernah berjalan kaki dari Sragen ke Semarang ketika berhasil menjalankan tugasnya dengan baik sebagai kapolsek. Terakhir, Mbah Sugi pernah nazar berjalan kaki dari Purwokerto ke Semarang.

Ketika cucunya lulus menjadi polisi. Memang unik, tapi inilah Mbah Sugi yang senang dengan olahraga, terutama lari. “Ya, itu namanya jalan-jalan, senang aja nambah saudara, bisa mampir ke polsek-polsek setempat,” kata dia.

Meski sudah lansia, semangat juangnya sangatlah tinggi. Ia masih aktif mengikuti kegiatan di perumahannya. Bahkan kegiatan warga RW 06 Mangunharjo selalu dipeloporinya, seperti kerja bakti, pengajian, dan perkumpulan rutin warga.

“Kalau kerja bakti aku ra ngoprak-ngoprak yo ra ono sing teko,” ucapnya sambil terkekeh. Mbah Sugi tidak pernah mengeluh meski prestasinya tidak dihargai. Ia merasa senang jika orang lain merasa terbantu olehnya.

Ia kini sering mengajak orang lain untuk melakukan penghijauan di sekitar rumah. Seperti menanam bunga, sayur-sayuran, dan beragam tanaman lain. “Sejak sakit, kerjaan saya hanya ke kebun, nanam cabai, kacang, dan singkong untuk dimakan sendiri.(*)

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Khafifah Arini Putri/Jawa Pos Radar Semarang

Sumber Berita:Jawa Pos Radar semarang

 

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca