”Saya pikir pihak kepolisian sudah tahu. Tapi, kami sudah lakukan peringatan bahwa pendatang tak boleh masuk (ke area penambangan emas, Red). Sebab, kami punya perda,” ucap Ketua DPRD Yahukimo Mary Mirin melalui sambungan telepon kemarin (8/9). Dia menduga, pelaku penyerangan adalah masyarakat lokal yang merasa terganggu dengan kehadiran pendulang emas dari luar.

Secara terpisah, seorang warga Yahukimo bernama Zakeus menceritakan detik-detik terjadinya serangan pada 29 Agustus itu. ”Saat kejadian itu, suasana tegang sekali, subuh-subuh polisi membunyikan lonceng darurat. Masyarakat semua melarikan diri ke gereja, masjid, maupun kantor polisi,” katanya kepada Cenderawasih Pos melalui sambungan telepon.

Dia menyebut ada banyak rumah warga yang dibakar. Selain itu, dua sekolah ikut dibakar. ”Satu bangunan SMA dan satu lagi SMP,” ujarnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : fia/ade/nat/c17/oni