alexametrics
26.5 C
Jember
Sunday, 25 September 2022

Polisi Gandeng IDI Kuak Kasus Malpraktik Proses Persalinan

Mobile_AP_Rectangle 1

JOMBANG, RADARJEMBER.ID-Penyelidikan polisi terkait dugaan malapraktik proses persalinan salah satu pasien hingga mengakibatkan bayi meninggal di RSUD Jombang (29/7) belum menunjukkan hasil memadai.

BACA JUGA : Siap Lindungi Bharada E Serta Keluarga

Polisi sudah mengirimkan hasil pemeriksaan ke organisasi profesi, yakni Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Jawa Timur.Diharapkan, segera bisa menguak kasus tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

”Berkas pemeriksaan sudah kita kirim hari ini (7/8) ke IBI dan IDI Jatim di Surabaya,” terang Kasatreskrim Polres Jombang AKP Giadi Nugraha, Minggu (7/ 8). Keterlibatan dua organisasi profesi itu, menurut dia, merupakan hal wajib lantaran berkaitan dengan keahlian.

Polisi lebih mudah dalam melakukan penyelidikan.  ”Kita tidak punya keahlian soal prosedur kesehatan dan persalinan.Nanti dua organisasi itu bisa menentukan apakah ada unsur kelalaian atau tidak dalam proses persalinan yang berujung meninggal dunia bayi itu,” tambah Giadi.

Setelah hasil pengkajian dua organisasi tersebut keluar, polisi akan menyampaikan ke publik, sehingga semua orang mengtahui bagaimana duduk persoalan kasus tersebut sehingga me3njadi jelas dan gamblang.

”Semoga hasilnya bisa cepat keluar,” ucap Giadi. Sebelumnya, pasangan Yopi Widianto, 26 dan Rohma Roudotul Jannah, 29, warga Dusun Slombok, Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito kehilangan bayinya yang baru lahir.

Proses persalinan buah hati pertamanya berujung kematian karena diminta menjalani persalinan normal oleh pihak RSUD Jombang. Padahal, rujukan dari puskesmas meminta mereka untuk mendapatkan persalinan caesar.

Menurut Yopi, permintaan itu ditolak pihak RSUD. Tenaga kesehatan di RSUD Jombang mengatakan bahwa proses persalinan berjalan lancar dan cepat.”Kata perawatnya tidak di-caesar karena bukaannya cepat,” terang Yopi.

Para perawat yang menangani persalinan itu panik dan menelepon dokter spesialis kandungan karena proses persalinan bermasalah. ”Bahkan sampai ada tiga dokter dan belum berhasil. Itu posisi jam 9 malam,” jelas Yopi.

mudian jabang bayi dinyatakan meninggal. Yopi yang menemani istrinya, langsung lemas dan hanya bisa pasrah. Dia makin shock ketika dipanggil dokter yang menyarankan dilakukan operasi pemisahan tubuh dengan kepala bayi.

Alasannya, karena tubuh bayi tak bisa keluar dari jalur lahir.  ”Itu satu satunya jalan untuk mengeluarkan badan bayi. Mau tidak mau akhirnya dipisah agar bisa keluar dari jalur lahir istri saya,’’ terang Yopi. (*)

 

Editor:Winardyasto HariKirono

Ilustrasi: Istimewa

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Jombang

 

- Advertisement -

JOMBANG, RADARJEMBER.ID-Penyelidikan polisi terkait dugaan malapraktik proses persalinan salah satu pasien hingga mengakibatkan bayi meninggal di RSUD Jombang (29/7) belum menunjukkan hasil memadai.

BACA JUGA : Siap Lindungi Bharada E Serta Keluarga

Polisi sudah mengirimkan hasil pemeriksaan ke organisasi profesi, yakni Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Jawa Timur.Diharapkan, segera bisa menguak kasus tersebut.

”Berkas pemeriksaan sudah kita kirim hari ini (7/8) ke IBI dan IDI Jatim di Surabaya,” terang Kasatreskrim Polres Jombang AKP Giadi Nugraha, Minggu (7/ 8). Keterlibatan dua organisasi profesi itu, menurut dia, merupakan hal wajib lantaran berkaitan dengan keahlian.

Polisi lebih mudah dalam melakukan penyelidikan.  ”Kita tidak punya keahlian soal prosedur kesehatan dan persalinan.Nanti dua organisasi itu bisa menentukan apakah ada unsur kelalaian atau tidak dalam proses persalinan yang berujung meninggal dunia bayi itu,” tambah Giadi.

Setelah hasil pengkajian dua organisasi tersebut keluar, polisi akan menyampaikan ke publik, sehingga semua orang mengtahui bagaimana duduk persoalan kasus tersebut sehingga me3njadi jelas dan gamblang.

”Semoga hasilnya bisa cepat keluar,” ucap Giadi. Sebelumnya, pasangan Yopi Widianto, 26 dan Rohma Roudotul Jannah, 29, warga Dusun Slombok, Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito kehilangan bayinya yang baru lahir.

Proses persalinan buah hati pertamanya berujung kematian karena diminta menjalani persalinan normal oleh pihak RSUD Jombang. Padahal, rujukan dari puskesmas meminta mereka untuk mendapatkan persalinan caesar.

Menurut Yopi, permintaan itu ditolak pihak RSUD. Tenaga kesehatan di RSUD Jombang mengatakan bahwa proses persalinan berjalan lancar dan cepat.”Kata perawatnya tidak di-caesar karena bukaannya cepat,” terang Yopi.

Para perawat yang menangani persalinan itu panik dan menelepon dokter spesialis kandungan karena proses persalinan bermasalah. ”Bahkan sampai ada tiga dokter dan belum berhasil. Itu posisi jam 9 malam,” jelas Yopi.

mudian jabang bayi dinyatakan meninggal. Yopi yang menemani istrinya, langsung lemas dan hanya bisa pasrah. Dia makin shock ketika dipanggil dokter yang menyarankan dilakukan operasi pemisahan tubuh dengan kepala bayi.

Alasannya, karena tubuh bayi tak bisa keluar dari jalur lahir.  ”Itu satu satunya jalan untuk mengeluarkan badan bayi. Mau tidak mau akhirnya dipisah agar bisa keluar dari jalur lahir istri saya,’’ terang Yopi. (*)

 

Editor:Winardyasto HariKirono

Ilustrasi: Istimewa

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Jombang

 

JOMBANG, RADARJEMBER.ID-Penyelidikan polisi terkait dugaan malapraktik proses persalinan salah satu pasien hingga mengakibatkan bayi meninggal di RSUD Jombang (29/7) belum menunjukkan hasil memadai.

BACA JUGA : Siap Lindungi Bharada E Serta Keluarga

Polisi sudah mengirimkan hasil pemeriksaan ke organisasi profesi, yakni Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Jawa Timur.Diharapkan, segera bisa menguak kasus tersebut.

”Berkas pemeriksaan sudah kita kirim hari ini (7/8) ke IBI dan IDI Jatim di Surabaya,” terang Kasatreskrim Polres Jombang AKP Giadi Nugraha, Minggu (7/ 8). Keterlibatan dua organisasi profesi itu, menurut dia, merupakan hal wajib lantaran berkaitan dengan keahlian.

Polisi lebih mudah dalam melakukan penyelidikan.  ”Kita tidak punya keahlian soal prosedur kesehatan dan persalinan.Nanti dua organisasi itu bisa menentukan apakah ada unsur kelalaian atau tidak dalam proses persalinan yang berujung meninggal dunia bayi itu,” tambah Giadi.

Setelah hasil pengkajian dua organisasi tersebut keluar, polisi akan menyampaikan ke publik, sehingga semua orang mengtahui bagaimana duduk persoalan kasus tersebut sehingga me3njadi jelas dan gamblang.

”Semoga hasilnya bisa cepat keluar,” ucap Giadi. Sebelumnya, pasangan Yopi Widianto, 26 dan Rohma Roudotul Jannah, 29, warga Dusun Slombok, Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito kehilangan bayinya yang baru lahir.

Proses persalinan buah hati pertamanya berujung kematian karena diminta menjalani persalinan normal oleh pihak RSUD Jombang. Padahal, rujukan dari puskesmas meminta mereka untuk mendapatkan persalinan caesar.

Menurut Yopi, permintaan itu ditolak pihak RSUD. Tenaga kesehatan di RSUD Jombang mengatakan bahwa proses persalinan berjalan lancar dan cepat.”Kata perawatnya tidak di-caesar karena bukaannya cepat,” terang Yopi.

Para perawat yang menangani persalinan itu panik dan menelepon dokter spesialis kandungan karena proses persalinan bermasalah. ”Bahkan sampai ada tiga dokter dan belum berhasil. Itu posisi jam 9 malam,” jelas Yopi.

mudian jabang bayi dinyatakan meninggal. Yopi yang menemani istrinya, langsung lemas dan hanya bisa pasrah. Dia makin shock ketika dipanggil dokter yang menyarankan dilakukan operasi pemisahan tubuh dengan kepala bayi.

Alasannya, karena tubuh bayi tak bisa keluar dari jalur lahir.  ”Itu satu satunya jalan untuk mengeluarkan badan bayi. Mau tidak mau akhirnya dipisah agar bisa keluar dari jalur lahir istri saya,’’ terang Yopi. (*)

 

Editor:Winardyasto HariKirono

Ilustrasi: Istimewa

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Jombang

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/