alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Megawati : Kaum Perempuan Harus Bisa Masak, Apapun Profesinya

Mobile_AP_Rectangle 1

Jakarta, RADARJEMBER.ID – Memasak dapat merekatkan hubungan dan kasih sayang setiap anggota keluarga serta memenuhi asupan gizi seimbang anak selama masa tumbuh kembangnya, seperti dinyatakan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.

BACA JUGA : Mahfud MD Sebut Tersangka Pembunuhan Brigadir J Akan Diumumkan Hari Ini

“Tidak ada alasan perempuan tidak bisa memasak. Ibu-ibu pejabat juga harus bisa memasak. Saya ingin stunting di Indonesia itu nol persen,” kata Megawati.

Mobile_AP_Rectangle 2

Memegang teguh ajaran ibu negara pertama Indonesia Fatmawati, Megawati menekankan setiap perempuan perlu bisa memasak meski memiliki karier yang sedang dirintis. Dengan memasak, setiap kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi dan kekerdilan (stunting) pun dapat terhindarkan.

Megawati mendemonstrasikan dua menu makanan yang memanfaatkan pangan lokal murah dan kaya gizi dalam acara kick off Kolaborasi Percepatan Penurunan Stunting yang digelar BKKBN di Jakarta Timur pada Senin (8/8). Dua menu itu adalah bobor daun kelor dan opor singkong pada audiens yang hadir.

Kedua menu tersebut dicontohkan untuk membuat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) bagi anak berusia 12-24 bulan. Sedangkan aneka menu Nusantara lain milik Megawati telah dituangkan ke dalam Buku Resep Makanan Baduta dan Ibu Hamil untuk Generasi Emas Indonesia yang ditulis oleh Hevearita G. Rahayu.

Permasalahan stunting di Indonesia, menurut Megawati, yang masih mencapai 24,4 persen adalah masalah yang memprihatinkan di tengah keadaan negara yang kaya bahan gizi, bahkan berlimpah dan beraneka ragam.

Satu dari empat balita dipastikan mengalami stunting yang membawa dampak berkelanjutan bagi masa depan anak.

Dengan demikian, melalui buku yang disusun dan telah mendapatkan kajian dari para ahli gizi itu, Megawati mengajak ibu untuk memasak pangan lokal yang bisa didapatkan dengan mudah dan harga terjangkau, demi memenuhi kecukupan gizi sejak anak berada dalam kandungan.

“Kaum perempuan harus bisa masak, apapun profesinya. Ayo bergerak! Tunjukkan bahwa kaum perempuan tidak lemah, ayo ibu-ibu bangun!” kata Megawati.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan jika salah satu upaya pencegahan stunting adalah melalui perbaikan pola makan. Dengan hadirnya buku resep yang disusun secara rinci itu, dia berharap masalah stunting pada anak bangsa dapat teratasi.

“Buku resep ini juga mencantumkan nilai gizi untuk membantu mengedukasi para ibu di Indonesia mengenai pemenuhan nutrisi anak. Ditambah keterangan tambahan mengenai harga yang dibutuhkan untuk menyediakan makanan tersebut, sehingga bisa menjadi acuan jika ingin berwirausaha kuliner untuk pemberdayaan ekonomi keluarga,” ujarnya. (*)

Editor : Yerri Arintoko Aji

Foto : ANTARA/HO-BKKBN

Sumber Berita : Antara

- Advertisement -

Jakarta, RADARJEMBER.ID – Memasak dapat merekatkan hubungan dan kasih sayang setiap anggota keluarga serta memenuhi asupan gizi seimbang anak selama masa tumbuh kembangnya, seperti dinyatakan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.

BACA JUGA : Mahfud MD Sebut Tersangka Pembunuhan Brigadir J Akan Diumumkan Hari Ini

“Tidak ada alasan perempuan tidak bisa memasak. Ibu-ibu pejabat juga harus bisa memasak. Saya ingin stunting di Indonesia itu nol persen,” kata Megawati.

Memegang teguh ajaran ibu negara pertama Indonesia Fatmawati, Megawati menekankan setiap perempuan perlu bisa memasak meski memiliki karier yang sedang dirintis. Dengan memasak, setiap kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi dan kekerdilan (stunting) pun dapat terhindarkan.

Megawati mendemonstrasikan dua menu makanan yang memanfaatkan pangan lokal murah dan kaya gizi dalam acara kick off Kolaborasi Percepatan Penurunan Stunting yang digelar BKKBN di Jakarta Timur pada Senin (8/8). Dua menu itu adalah bobor daun kelor dan opor singkong pada audiens yang hadir.

Kedua menu tersebut dicontohkan untuk membuat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) bagi anak berusia 12-24 bulan. Sedangkan aneka menu Nusantara lain milik Megawati telah dituangkan ke dalam Buku Resep Makanan Baduta dan Ibu Hamil untuk Generasi Emas Indonesia yang ditulis oleh Hevearita G. Rahayu.

Permasalahan stunting di Indonesia, menurut Megawati, yang masih mencapai 24,4 persen adalah masalah yang memprihatinkan di tengah keadaan negara yang kaya bahan gizi, bahkan berlimpah dan beraneka ragam.

Satu dari empat balita dipastikan mengalami stunting yang membawa dampak berkelanjutan bagi masa depan anak.

Dengan demikian, melalui buku yang disusun dan telah mendapatkan kajian dari para ahli gizi itu, Megawati mengajak ibu untuk memasak pangan lokal yang bisa didapatkan dengan mudah dan harga terjangkau, demi memenuhi kecukupan gizi sejak anak berada dalam kandungan.

“Kaum perempuan harus bisa masak, apapun profesinya. Ayo bergerak! Tunjukkan bahwa kaum perempuan tidak lemah, ayo ibu-ibu bangun!” kata Megawati.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan jika salah satu upaya pencegahan stunting adalah melalui perbaikan pola makan. Dengan hadirnya buku resep yang disusun secara rinci itu, dia berharap masalah stunting pada anak bangsa dapat teratasi.

“Buku resep ini juga mencantumkan nilai gizi untuk membantu mengedukasi para ibu di Indonesia mengenai pemenuhan nutrisi anak. Ditambah keterangan tambahan mengenai harga yang dibutuhkan untuk menyediakan makanan tersebut, sehingga bisa menjadi acuan jika ingin berwirausaha kuliner untuk pemberdayaan ekonomi keluarga,” ujarnya. (*)

Editor : Yerri Arintoko Aji

Foto : ANTARA/HO-BKKBN

Sumber Berita : Antara

Jakarta, RADARJEMBER.ID – Memasak dapat merekatkan hubungan dan kasih sayang setiap anggota keluarga serta memenuhi asupan gizi seimbang anak selama masa tumbuh kembangnya, seperti dinyatakan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.

BACA JUGA : Mahfud MD Sebut Tersangka Pembunuhan Brigadir J Akan Diumumkan Hari Ini

“Tidak ada alasan perempuan tidak bisa memasak. Ibu-ibu pejabat juga harus bisa memasak. Saya ingin stunting di Indonesia itu nol persen,” kata Megawati.

Memegang teguh ajaran ibu negara pertama Indonesia Fatmawati, Megawati menekankan setiap perempuan perlu bisa memasak meski memiliki karier yang sedang dirintis. Dengan memasak, setiap kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi dan kekerdilan (stunting) pun dapat terhindarkan.

Megawati mendemonstrasikan dua menu makanan yang memanfaatkan pangan lokal murah dan kaya gizi dalam acara kick off Kolaborasi Percepatan Penurunan Stunting yang digelar BKKBN di Jakarta Timur pada Senin (8/8). Dua menu itu adalah bobor daun kelor dan opor singkong pada audiens yang hadir.

Kedua menu tersebut dicontohkan untuk membuat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) bagi anak berusia 12-24 bulan. Sedangkan aneka menu Nusantara lain milik Megawati telah dituangkan ke dalam Buku Resep Makanan Baduta dan Ibu Hamil untuk Generasi Emas Indonesia yang ditulis oleh Hevearita G. Rahayu.

Permasalahan stunting di Indonesia, menurut Megawati, yang masih mencapai 24,4 persen adalah masalah yang memprihatinkan di tengah keadaan negara yang kaya bahan gizi, bahkan berlimpah dan beraneka ragam.

Satu dari empat balita dipastikan mengalami stunting yang membawa dampak berkelanjutan bagi masa depan anak.

Dengan demikian, melalui buku yang disusun dan telah mendapatkan kajian dari para ahli gizi itu, Megawati mengajak ibu untuk memasak pangan lokal yang bisa didapatkan dengan mudah dan harga terjangkau, demi memenuhi kecukupan gizi sejak anak berada dalam kandungan.

“Kaum perempuan harus bisa masak, apapun profesinya. Ayo bergerak! Tunjukkan bahwa kaum perempuan tidak lemah, ayo ibu-ibu bangun!” kata Megawati.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan jika salah satu upaya pencegahan stunting adalah melalui perbaikan pola makan. Dengan hadirnya buku resep yang disusun secara rinci itu, dia berharap masalah stunting pada anak bangsa dapat teratasi.

“Buku resep ini juga mencantumkan nilai gizi untuk membantu mengedukasi para ibu di Indonesia mengenai pemenuhan nutrisi anak. Ditambah keterangan tambahan mengenai harga yang dibutuhkan untuk menyediakan makanan tersebut, sehingga bisa menjadi acuan jika ingin berwirausaha kuliner untuk pemberdayaan ekonomi keluarga,” ujarnya. (*)

Editor : Yerri Arintoko Aji

Foto : ANTARA/HO-BKKBN

Sumber Berita : Antara

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/