alexametrics
22.8 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Sudah Jadi Terdakwa Kok Tidak Ditahan?

Mobile_AP_Rectangle 1

MALANG, RADARJEMBER.ID – ”Kooperatif.” Itulah alasan disampaikan atas pertanyaan: mengapa terdakwa kasus kekerasan seksual di Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI), Malang, Jawa Timur, Julianto Eka Putra (JEP) tak ditahan?.

Bahkan, di persidangan terakhir (4/7), terdakwa diduga melakukan kekerasan seksual kepada 14 siswi SPI itu datang tanpa mengenakan baju tahanan dan pengawalan ketat oleh petugas, tidak seperti tahanan lain dalam kasus pidana.

Perkosa Pacar Gara-Gara Menolak Diajak Nikah

Mobile_AP_Rectangle 2

”Sejak jadi tersangka, Julianto tidak ditahan,” keluh Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) . Arist menuturkan, seharusnya JEP ditahan sejak awal. Apalagi, saat ini status hukumnya adalah terdakwa.

Ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun penjara jika merujuk pada Pasal 82 Undang-Undang 17/2016. Ditambah, ancaman hukuman tambahan berupa kebiri.Memang, kata Arist, setelah ditetapkan tersangka, JEP sempat mengajukan praperadilan di PN Surabaya.

Namun, pengajuan itu ditolak majelis hakim. Lalu, sehari setelahnya, status JEP dinaikkan menjadi terdakwa. ”Tapi ya, tetap gak ditahan. Ini bisa jadi preseden buruk dalam penegakan hukum bagi predator seksual,” katanya.

Selain itu, menurut dia, banyak risiko yang mungkin terjadi jika terdakwa tak ditahan. Mulai melarikan diri, menghilangkan barang bukti, hingga melakukan hal-hal yang mungkin memengaruhi status hukumnya.

Termasuk mengancam para korban. ”Anak-anak (korban, Red) mengalami itu, diancam dipatahkan kakinya, dituntut balik, macam-macam,” ungkap pria tersebut.Dia menjelaskan, ancaman tersebut membuat kondisi para korban kian tertekan.

- Advertisement -

MALANG, RADARJEMBER.ID – ”Kooperatif.” Itulah alasan disampaikan atas pertanyaan: mengapa terdakwa kasus kekerasan seksual di Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI), Malang, Jawa Timur, Julianto Eka Putra (JEP) tak ditahan?.

Bahkan, di persidangan terakhir (4/7), terdakwa diduga melakukan kekerasan seksual kepada 14 siswi SPI itu datang tanpa mengenakan baju tahanan dan pengawalan ketat oleh petugas, tidak seperti tahanan lain dalam kasus pidana.

Perkosa Pacar Gara-Gara Menolak Diajak Nikah

”Sejak jadi tersangka, Julianto tidak ditahan,” keluh Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) . Arist menuturkan, seharusnya JEP ditahan sejak awal. Apalagi, saat ini status hukumnya adalah terdakwa.

Ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun penjara jika merujuk pada Pasal 82 Undang-Undang 17/2016. Ditambah, ancaman hukuman tambahan berupa kebiri.Memang, kata Arist, setelah ditetapkan tersangka, JEP sempat mengajukan praperadilan di PN Surabaya.

Namun, pengajuan itu ditolak majelis hakim. Lalu, sehari setelahnya, status JEP dinaikkan menjadi terdakwa. ”Tapi ya, tetap gak ditahan. Ini bisa jadi preseden buruk dalam penegakan hukum bagi predator seksual,” katanya.

Selain itu, menurut dia, banyak risiko yang mungkin terjadi jika terdakwa tak ditahan. Mulai melarikan diri, menghilangkan barang bukti, hingga melakukan hal-hal yang mungkin memengaruhi status hukumnya.

Termasuk mengancam para korban. ”Anak-anak (korban, Red) mengalami itu, diancam dipatahkan kakinya, dituntut balik, macam-macam,” ungkap pria tersebut.Dia menjelaskan, ancaman tersebut membuat kondisi para korban kian tertekan.

MALANG, RADARJEMBER.ID – ”Kooperatif.” Itulah alasan disampaikan atas pertanyaan: mengapa terdakwa kasus kekerasan seksual di Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI), Malang, Jawa Timur, Julianto Eka Putra (JEP) tak ditahan?.

Bahkan, di persidangan terakhir (4/7), terdakwa diduga melakukan kekerasan seksual kepada 14 siswi SPI itu datang tanpa mengenakan baju tahanan dan pengawalan ketat oleh petugas, tidak seperti tahanan lain dalam kasus pidana.

Perkosa Pacar Gara-Gara Menolak Diajak Nikah

”Sejak jadi tersangka, Julianto tidak ditahan,” keluh Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) . Arist menuturkan, seharusnya JEP ditahan sejak awal. Apalagi, saat ini status hukumnya adalah terdakwa.

Ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun penjara jika merujuk pada Pasal 82 Undang-Undang 17/2016. Ditambah, ancaman hukuman tambahan berupa kebiri.Memang, kata Arist, setelah ditetapkan tersangka, JEP sempat mengajukan praperadilan di PN Surabaya.

Namun, pengajuan itu ditolak majelis hakim. Lalu, sehari setelahnya, status JEP dinaikkan menjadi terdakwa. ”Tapi ya, tetap gak ditahan. Ini bisa jadi preseden buruk dalam penegakan hukum bagi predator seksual,” katanya.

Selain itu, menurut dia, banyak risiko yang mungkin terjadi jika terdakwa tak ditahan. Mulai melarikan diri, menghilangkan barang bukti, hingga melakukan hal-hal yang mungkin memengaruhi status hukumnya.

Termasuk mengancam para korban. ”Anak-anak (korban, Red) mengalami itu, diancam dipatahkan kakinya, dituntut balik, macam-macam,” ungkap pria tersebut.Dia menjelaskan, ancaman tersebut membuat kondisi para korban kian tertekan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/