alexametrics
22.3 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Anak Kesandung Kasus Hukum Melonjak

Mobile_AP_Rectangle 1

SURABAYA, RADARJEMBER.ID – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat pesat selama enam bulan terakhir. Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Surabaya menerima 139 aduan. Pandemi Covid-19 yang mereda juga memicu naiknya kasus anak-anak yang berhadapan dengan hukum.

 

Berbagai laporan itu ditangani DP5A Surabaya. Kepala DP5A Surabaya Tomi Ardiantoro mengatakan, jumlah itu berasal dari lima kasus. Yang paling banyak dipicu permasalahan sosial. Jumlahnya 70 laporan. ’’Berbagai permasalahan sosial justru muncul setelah pandemi melandai,’’ kata Tomi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menyampaikan, selama pandemi melandai, aktivitas warga meningkat. Termasuk pola pergaulan anak-anak dan remaja. Nah, kondisi itu mengakibatkan terjadinya berbagai permasalahan sosial. Di antaranya berupa anak telantar, anak terlibat tawuran, anak kabur dari rumah, hingga percobaan bunuh diri.

 

Selain permasalahan sosial, kasus lain berupa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kasusnya sebanyak 23 kejadian. Adapun non-KDRT 34 kasus, anak berhubungan dengan hukum 11 laporan, dan trafficking 1 kasus. ’’Laporan naik karena indikator permasalahan sosial anak kita tambahkan. Yaitu, karena permasalahan sosial ini,’’ tegasnya.

- Advertisement -

SURABAYA, RADARJEMBER.ID – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat pesat selama enam bulan terakhir. Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Surabaya menerima 139 aduan. Pandemi Covid-19 yang mereda juga memicu naiknya kasus anak-anak yang berhadapan dengan hukum.

 

Berbagai laporan itu ditangani DP5A Surabaya. Kepala DP5A Surabaya Tomi Ardiantoro mengatakan, jumlah itu berasal dari lima kasus. Yang paling banyak dipicu permasalahan sosial. Jumlahnya 70 laporan. ’’Berbagai permasalahan sosial justru muncul setelah pandemi melandai,’’ kata Tomi.

Dia menyampaikan, selama pandemi melandai, aktivitas warga meningkat. Termasuk pola pergaulan anak-anak dan remaja. Nah, kondisi itu mengakibatkan terjadinya berbagai permasalahan sosial. Di antaranya berupa anak telantar, anak terlibat tawuran, anak kabur dari rumah, hingga percobaan bunuh diri.

 

Selain permasalahan sosial, kasus lain berupa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kasusnya sebanyak 23 kejadian. Adapun non-KDRT 34 kasus, anak berhubungan dengan hukum 11 laporan, dan trafficking 1 kasus. ’’Laporan naik karena indikator permasalahan sosial anak kita tambahkan. Yaitu, karena permasalahan sosial ini,’’ tegasnya.

SURABAYA, RADARJEMBER.ID – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat pesat selama enam bulan terakhir. Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Surabaya menerima 139 aduan. Pandemi Covid-19 yang mereda juga memicu naiknya kasus anak-anak yang berhadapan dengan hukum.

 

Berbagai laporan itu ditangani DP5A Surabaya. Kepala DP5A Surabaya Tomi Ardiantoro mengatakan, jumlah itu berasal dari lima kasus. Yang paling banyak dipicu permasalahan sosial. Jumlahnya 70 laporan. ’’Berbagai permasalahan sosial justru muncul setelah pandemi melandai,’’ kata Tomi.

Dia menyampaikan, selama pandemi melandai, aktivitas warga meningkat. Termasuk pola pergaulan anak-anak dan remaja. Nah, kondisi itu mengakibatkan terjadinya berbagai permasalahan sosial. Di antaranya berupa anak telantar, anak terlibat tawuran, anak kabur dari rumah, hingga percobaan bunuh diri.

 

Selain permasalahan sosial, kasus lain berupa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kasusnya sebanyak 23 kejadian. Adapun non-KDRT 34 kasus, anak berhubungan dengan hukum 11 laporan, dan trafficking 1 kasus. ’’Laporan naik karena indikator permasalahan sosial anak kita tambahkan. Yaitu, karena permasalahan sosial ini,’’ tegasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/