alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Plencing  Jlegor Super Pedas  Dijamin Bikin Bibir Jontor

Mobile_AP_Rectangle 1

SUKOHARJO, RADARJEMBER.ID – Plencing atau brambang asem dikenal sebagai makanan khas Solo. Namun, makanan pedesaan ini juga mudah djumpai di Sukoharjo. Salah satu kuliner ini sangat mudah dibuat dan menyehatkan

BACA JUGA : Bahagia Melihat Ekonomi Bergeliat

Di wilayah Kecamatan Gatak, ada beberapa penjual plencing rumahan. Salah satunya di Bedodo, Desa Blimbing, Kecamatan Gatak. Penjualnya yakni Tuginem, 50, yang sudah mulai berjualan plencing jlegor sejak akhir 90-an.Plencing dibuat dari daun ubi rambat, serta mudah dibuat.

Mobile_AP_Rectangle 2

”Caranya ya mudah, daun ketela rambat hanya direbus beberapa menit, lalu ditiriskan. Begitu saja. Biasanya daun ketela rambat (jlegor atau sering juga disebut lung) dijual dipasar, per ikat,” kata Tuginem.

Tak hanya direbus, makanan kaya serat ini biasa disajikan dengan cara dicampur toge, bakmi, dan krokot. Tapi yang bikin spesial adalah aromanya dan penyajiannya disajikan dalam pincuk daun pisang.

”Jlegor kalau dimakan, dikunyah ada bunyi mendecit. Berbeda dengan bahan lain, seperti kangkung atau krokot,” jelas Tuginem.Tak hanya itu, sambalnya juga unik. Karena dibuat dengan brambang atau bawang merah yang dibakar, asam jawa, gula jawa, dan tentunya cabe.

Rasa kuah asam brambang tidak sama dengan sambal-sambal lainnya. Karena ada kombinasi pedas, manis, asam, dan aroma bawang merah. Hal lain yang membuat unik adalah tempe gembus. Tempe yang dihasilkan dari ampas tahu dimanfaatkan sebagai lauk.

”Lauknya tempe gembus, bisa goreng atau bacem. Sambelnya biasanya sangat pedas, tapi manis ada rasa kecut-kecut asem. Beda dengan sambel pecel dan sambel lain,” kata Tuginem. Di warungnya, satu porsi plencing yang disajikan dengan daun pisang.

Dibanderol dengan harga Rp 2.000 sampai Rp 3.000. Tergantung pembeli, pengin banyak atau sedikit. Harga itu belum termasuk dengan tambahan tempe gembus bacem atau goreng sebagai pelengkap.

Plencing nyaris sama dengan pecel, sama-sama menggunakan daun-daun yang direbus. Namun, yang membedakan adalah sambalnya. Plencing menggunakan sambal brambang asem, sedangkan pecel menggunakan sambel kacang. Keduanya nikmat, mudah dibuat dan sehat.(*)

 

Reporter:Winardyasto HariKirono

Foto:Iwan Kawul/ Jawa Pos Radar Solo

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Solo

 

- Advertisement -

SUKOHARJO, RADARJEMBER.ID – Plencing atau brambang asem dikenal sebagai makanan khas Solo. Namun, makanan pedesaan ini juga mudah djumpai di Sukoharjo. Salah satu kuliner ini sangat mudah dibuat dan menyehatkan

BACA JUGA : Bahagia Melihat Ekonomi Bergeliat

Di wilayah Kecamatan Gatak, ada beberapa penjual plencing rumahan. Salah satunya di Bedodo, Desa Blimbing, Kecamatan Gatak. Penjualnya yakni Tuginem, 50, yang sudah mulai berjualan plencing jlegor sejak akhir 90-an.Plencing dibuat dari daun ubi rambat, serta mudah dibuat.

”Caranya ya mudah, daun ketela rambat hanya direbus beberapa menit, lalu ditiriskan. Begitu saja. Biasanya daun ketela rambat (jlegor atau sering juga disebut lung) dijual dipasar, per ikat,” kata Tuginem.

Tak hanya direbus, makanan kaya serat ini biasa disajikan dengan cara dicampur toge, bakmi, dan krokot. Tapi yang bikin spesial adalah aromanya dan penyajiannya disajikan dalam pincuk daun pisang.

”Jlegor kalau dimakan, dikunyah ada bunyi mendecit. Berbeda dengan bahan lain, seperti kangkung atau krokot,” jelas Tuginem.Tak hanya itu, sambalnya juga unik. Karena dibuat dengan brambang atau bawang merah yang dibakar, asam jawa, gula jawa, dan tentunya cabe.

Rasa kuah asam brambang tidak sama dengan sambal-sambal lainnya. Karena ada kombinasi pedas, manis, asam, dan aroma bawang merah. Hal lain yang membuat unik adalah tempe gembus. Tempe yang dihasilkan dari ampas tahu dimanfaatkan sebagai lauk.

”Lauknya tempe gembus, bisa goreng atau bacem. Sambelnya biasanya sangat pedas, tapi manis ada rasa kecut-kecut asem. Beda dengan sambel pecel dan sambel lain,” kata Tuginem. Di warungnya, satu porsi plencing yang disajikan dengan daun pisang.

Dibanderol dengan harga Rp 2.000 sampai Rp 3.000. Tergantung pembeli, pengin banyak atau sedikit. Harga itu belum termasuk dengan tambahan tempe gembus bacem atau goreng sebagai pelengkap.

Plencing nyaris sama dengan pecel, sama-sama menggunakan daun-daun yang direbus. Namun, yang membedakan adalah sambalnya. Plencing menggunakan sambal brambang asem, sedangkan pecel menggunakan sambel kacang. Keduanya nikmat, mudah dibuat dan sehat.(*)

 

Reporter:Winardyasto HariKirono

Foto:Iwan Kawul/ Jawa Pos Radar Solo

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Solo

 

SUKOHARJO, RADARJEMBER.ID – Plencing atau brambang asem dikenal sebagai makanan khas Solo. Namun, makanan pedesaan ini juga mudah djumpai di Sukoharjo. Salah satu kuliner ini sangat mudah dibuat dan menyehatkan

BACA JUGA : Bahagia Melihat Ekonomi Bergeliat

Di wilayah Kecamatan Gatak, ada beberapa penjual plencing rumahan. Salah satunya di Bedodo, Desa Blimbing, Kecamatan Gatak. Penjualnya yakni Tuginem, 50, yang sudah mulai berjualan plencing jlegor sejak akhir 90-an.Plencing dibuat dari daun ubi rambat, serta mudah dibuat.

”Caranya ya mudah, daun ketela rambat hanya direbus beberapa menit, lalu ditiriskan. Begitu saja. Biasanya daun ketela rambat (jlegor atau sering juga disebut lung) dijual dipasar, per ikat,” kata Tuginem.

Tak hanya direbus, makanan kaya serat ini biasa disajikan dengan cara dicampur toge, bakmi, dan krokot. Tapi yang bikin spesial adalah aromanya dan penyajiannya disajikan dalam pincuk daun pisang.

”Jlegor kalau dimakan, dikunyah ada bunyi mendecit. Berbeda dengan bahan lain, seperti kangkung atau krokot,” jelas Tuginem.Tak hanya itu, sambalnya juga unik. Karena dibuat dengan brambang atau bawang merah yang dibakar, asam jawa, gula jawa, dan tentunya cabe.

Rasa kuah asam brambang tidak sama dengan sambal-sambal lainnya. Karena ada kombinasi pedas, manis, asam, dan aroma bawang merah. Hal lain yang membuat unik adalah tempe gembus. Tempe yang dihasilkan dari ampas tahu dimanfaatkan sebagai lauk.

”Lauknya tempe gembus, bisa goreng atau bacem. Sambelnya biasanya sangat pedas, tapi manis ada rasa kecut-kecut asem. Beda dengan sambel pecel dan sambel lain,” kata Tuginem. Di warungnya, satu porsi plencing yang disajikan dengan daun pisang.

Dibanderol dengan harga Rp 2.000 sampai Rp 3.000. Tergantung pembeli, pengin banyak atau sedikit. Harga itu belum termasuk dengan tambahan tempe gembus bacem atau goreng sebagai pelengkap.

Plencing nyaris sama dengan pecel, sama-sama menggunakan daun-daun yang direbus. Namun, yang membedakan adalah sambalnya. Plencing menggunakan sambal brambang asem, sedangkan pecel menggunakan sambel kacang. Keduanya nikmat, mudah dibuat dan sehat.(*)

 

Reporter:Winardyasto HariKirono

Foto:Iwan Kawul/ Jawa Pos Radar Solo

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Solo

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/