23.7 C
Jember
Friday, 3 February 2023

Bikin Uang Palsu Setahun Bisa Tembus Rp.2 Miliar

Mobile_AP_Rectangle 1

KEDIRI, RADARJEMBER.ID-Polres Kediri dan Polda Jatim berhasil menggulung sindikat peredaran uang palsu (upal) lintas provinsi. Pelaku tindak kejahatan skala nasional ini mampu memproduksi Rp 2 miliar upal dalam setahun. Sebanyak Rp 1, 2 miliar beredar di pulau Jawa.

AKBP Agung Setyo Nigroho, Kapolres Kediri mengungkapkan, pengungkapan sindikat peredaran upal itu berawal dari penangkapan M, 52, asal Desa Tales, Ngadiluwih pada 14 Oktober lalu.

Kala itu, M nekat membeli barang kepada MRA, 23, warga Desa Krandang, Kras senilai Rp 4 juta semua menggunakan Upal.“Saksi tidak tahu kalau uang diterima itu palsu, lantas menyetor ke BRI Unit Kras,” kata Agung.

Mobile_AP_Rectangle 2

Begitu mendapati temuan tersebut, BRI langsung melapor ke Polsek Kras. Saat itulah Satreskrim Polres Kediri langsung melakukan penyelidikan. Setelah meminta keterangan terhadap MRA, polisi langsung menangkap M.

Dari keterangan ibu rumah tangga itu diketahui jika upal yang diedarkannya dicetak di Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat.Bersama anggota Ditreskrimsus Polda Jatim, anggota Polres Kediri mengejar para pelaku sampai ke Bandung.

Dari pengembangan selama sekitar 15 hari, polisi berhasil menangkap 11 tersangka. “Mulai pemodal, pemasok bahan, pencetak, dan pengedar dari Bandung, sampai ke Kediri,” terang perwira dengan pangkat dua melati di pundak itu.

Salah satu tersangka menurut perwira asli Nganjuk ini merupakan ASN di Pemkab Grobogan, Jawa Tengah. Motif dari seluruh tersangka mengedarkan upal bermacam-macam. Meski demikian, mayoritas karena ingin memiliki pendapatan lebih banyak.

Sindikat dari beberapa daerah tersebut memproduksi upal relatif banyak. Dalam setahun, sedikitnya mereka mencetak Rp 2 miliar. Selain Rp 1,2 miliar  sudah beredar, ada upal Rp 405 juta siap edar. Adapun Rp 402 juta lainnya dalam proses cetak.

Dengan banyaknya upal yang beredar, Agung mengimbau kepada masyarakat untuk waspada saat menerima uang. Yakni, dengan memeriksa keasliannya. Upal biasanya memiliki warna lebih buram dan tidak ada tanda pengamannya.(*)

Editor:WinardyAsto HariKirono

Foto:Allex Qomarulla

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Kediri

- Advertisement -

KEDIRI, RADARJEMBER.ID-Polres Kediri dan Polda Jatim berhasil menggulung sindikat peredaran uang palsu (upal) lintas provinsi. Pelaku tindak kejahatan skala nasional ini mampu memproduksi Rp 2 miliar upal dalam setahun. Sebanyak Rp 1, 2 miliar beredar di pulau Jawa.

AKBP Agung Setyo Nigroho, Kapolres Kediri mengungkapkan, pengungkapan sindikat peredaran upal itu berawal dari penangkapan M, 52, asal Desa Tales, Ngadiluwih pada 14 Oktober lalu.

Kala itu, M nekat membeli barang kepada MRA, 23, warga Desa Krandang, Kras senilai Rp 4 juta semua menggunakan Upal.“Saksi tidak tahu kalau uang diterima itu palsu, lantas menyetor ke BRI Unit Kras,” kata Agung.

Begitu mendapati temuan tersebut, BRI langsung melapor ke Polsek Kras. Saat itulah Satreskrim Polres Kediri langsung melakukan penyelidikan. Setelah meminta keterangan terhadap MRA, polisi langsung menangkap M.

Dari keterangan ibu rumah tangga itu diketahui jika upal yang diedarkannya dicetak di Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat.Bersama anggota Ditreskrimsus Polda Jatim, anggota Polres Kediri mengejar para pelaku sampai ke Bandung.

Dari pengembangan selama sekitar 15 hari, polisi berhasil menangkap 11 tersangka. “Mulai pemodal, pemasok bahan, pencetak, dan pengedar dari Bandung, sampai ke Kediri,” terang perwira dengan pangkat dua melati di pundak itu.

Salah satu tersangka menurut perwira asli Nganjuk ini merupakan ASN di Pemkab Grobogan, Jawa Tengah. Motif dari seluruh tersangka mengedarkan upal bermacam-macam. Meski demikian, mayoritas karena ingin memiliki pendapatan lebih banyak.

Sindikat dari beberapa daerah tersebut memproduksi upal relatif banyak. Dalam setahun, sedikitnya mereka mencetak Rp 2 miliar. Selain Rp 1,2 miliar  sudah beredar, ada upal Rp 405 juta siap edar. Adapun Rp 402 juta lainnya dalam proses cetak.

Dengan banyaknya upal yang beredar, Agung mengimbau kepada masyarakat untuk waspada saat menerima uang. Yakni, dengan memeriksa keasliannya. Upal biasanya memiliki warna lebih buram dan tidak ada tanda pengamannya.(*)

Editor:WinardyAsto HariKirono

Foto:Allex Qomarulla

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Kediri

KEDIRI, RADARJEMBER.ID-Polres Kediri dan Polda Jatim berhasil menggulung sindikat peredaran uang palsu (upal) lintas provinsi. Pelaku tindak kejahatan skala nasional ini mampu memproduksi Rp 2 miliar upal dalam setahun. Sebanyak Rp 1, 2 miliar beredar di pulau Jawa.

AKBP Agung Setyo Nigroho, Kapolres Kediri mengungkapkan, pengungkapan sindikat peredaran upal itu berawal dari penangkapan M, 52, asal Desa Tales, Ngadiluwih pada 14 Oktober lalu.

Kala itu, M nekat membeli barang kepada MRA, 23, warga Desa Krandang, Kras senilai Rp 4 juta semua menggunakan Upal.“Saksi tidak tahu kalau uang diterima itu palsu, lantas menyetor ke BRI Unit Kras,” kata Agung.

Begitu mendapati temuan tersebut, BRI langsung melapor ke Polsek Kras. Saat itulah Satreskrim Polres Kediri langsung melakukan penyelidikan. Setelah meminta keterangan terhadap MRA, polisi langsung menangkap M.

Dari keterangan ibu rumah tangga itu diketahui jika upal yang diedarkannya dicetak di Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat.Bersama anggota Ditreskrimsus Polda Jatim, anggota Polres Kediri mengejar para pelaku sampai ke Bandung.

Dari pengembangan selama sekitar 15 hari, polisi berhasil menangkap 11 tersangka. “Mulai pemodal, pemasok bahan, pencetak, dan pengedar dari Bandung, sampai ke Kediri,” terang perwira dengan pangkat dua melati di pundak itu.

Salah satu tersangka menurut perwira asli Nganjuk ini merupakan ASN di Pemkab Grobogan, Jawa Tengah. Motif dari seluruh tersangka mengedarkan upal bermacam-macam. Meski demikian, mayoritas karena ingin memiliki pendapatan lebih banyak.

Sindikat dari beberapa daerah tersebut memproduksi upal relatif banyak. Dalam setahun, sedikitnya mereka mencetak Rp 2 miliar. Selain Rp 1,2 miliar  sudah beredar, ada upal Rp 405 juta siap edar. Adapun Rp 402 juta lainnya dalam proses cetak.

Dengan banyaknya upal yang beredar, Agung mengimbau kepada masyarakat untuk waspada saat menerima uang. Yakni, dengan memeriksa keasliannya. Upal biasanya memiliki warna lebih buram dan tidak ada tanda pengamannya.(*)

Editor:WinardyAsto HariKirono

Foto:Allex Qomarulla

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Kediri

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca