BANGGA: Okta Diana Anggrayni (tengah) berpose di depan gedung utama Walailak University International College (WUIC) Thailand, Kamis (14/11). (VOLUNTER BIPA FOR RadarMadura.id)

Mengajarkan bahasa Indonesia tidak hanya di Indonesia. Sasa lolos seleksi untuk berbagi ilmu di luar negeri.

HELMI YAHYA, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

SAAT panas matahari kian menyengat, tubuh basah karena keringat, Okta Diana Anggrayni datang penuh semangat. Selasa siang (26/11) itu Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menemui di kosannya di Desa Telang, Kecamatan Kamal, Bangkalan.

Perempuan yang akrab disapa Sasa itu baru datang dari Thailand. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengikuti program mengajar Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA). Program itu dilaksanakan di Walailak University International College (WUIC).

”Maaf, Kak, agak lama, di jalan macet,” katanya diiringi dengan senyuman. Keringat membasahi dahinya. Dia menghela napas panjang.

Sasa merupakan salah satu mahasiswa PBSI mewakili kampus untuk mengikuti program kerja sama tersebut. Siang itu menceritakan pengalamannya sejak 2018 menjadi volunter BIPA hingga bisa berangkat ke Thailand untuk mengajarkan bahasa Indonesia di sana.

Setelah melalui seleksi administratif cukup ketat, dia diputuskan untuk berangkat. Sasa tidak pernah memiliki impian setinggi itu. Namun, punya tekad untuk menjadi volunter BIPA dan berangkat ke Tokyo.

Sasa berangkat ke Thailand 29 Oktober 2019. Kemudian, kembali ke Indonesia pada 21 November 2019. Tiga pekan di sana. Dia mengajarkan bahasa Indonesia kepada mahasiswa Thailand. ”Di sana pembelajaran dimulai pukul 08.30 dan selesai pukul 16.00,” ujarnya.

Pembelajaran efektif itu juga ditunjang sarana prasarana. Kelas mereka dilengkapi oleh alat perekam. Alat ini berguna untuk memutar ulang materi ketika ada mahasiswa kurang mengerti dan tidak paham.