alexametrics
22.6 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Obat Kadaluarsa Senilai Rp 500 Juta Dimusnahkan

Mobile_AP_Rectangle 1

MALANG,RADARJEMBER.ID – Sebab obat kadaluarsa obat kedaluwarsa senilai  Rp 500 juta terbongkar sudah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu  mengaku kurang maksimal dalam mendistribusikan obat tersebut.

BACA JUGA : Selang Enam Bulan, Korban Erupsi Gunung Semeru Mulai Ditemukan

Hal itu diakui oleh dinkes dalam hearing dengan Komisi C DPRD Kota Batu, Kamis (4/8). Dalam kegiatan itu, diketahui bahwa ada lebih dari 100 item obat yang expired date (ED) penganggaran tahun 2019. Otomatis mau tak mau harus dimusnahkan.

Mobile_AP_Rectangle 2

drg.Kartika Trisulandari, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu beralasan SDM di dinkes kurang. Kemudian berdampak pada seretnya pendistribusian obat. Khususnya tablet FE. Selain itu juga dirinya beralasan pembatasan mobilitas di tahun 2020 hingga 2021 menjadi penghambat lain.

“Selama ini kita hanya berjejaring dengan sekolah untuk penyebaran tablet FE. Saat pandemi kan sekolah tutup. Mau dititipkan ke guru-guru juga tidak mungkin karena jarak rumah antar siswa dengan lainnya jauh,” jelas Kartika.

Ia menuturkan jika penyebab membengkaknya obat-obatan saat ini karena turunnya kunjungan masyarakat pada puskesmas. Penurunan kunjungan terjadi sebanyak 60 persen sebelum adanya pandemi Covid-19. Maka hal itu juga turut menyumbang penumpukan obat-obatan kedaluwarsa.

“Setiap tahun itu obat kedaluwarsa memang ada. Tapi sekarang ini membengkak karena ada obat penugasan berupa tablet FE untuk remaja putri usia 14-19 tahun. Jadi itu yang membuat bengkak ditambah dengan adanya pandemi Covid-19,” terang dia usai hearing.

Menurut wanita berjilbab ini, bisa dikatakan bahwa peningkatan nominal obat kedaluwarsa di tahun 2022 mencapai 80 hingga 100 persen, karena adanya obat program berupa tablet FE atau tablet zat besi.

Jika tak ada obat program itu, menurut Kartika setiap tahun hanya ada 30 persen obat kedaluwarsa. Contohnya di tahun 2019 dan 2021, karena hanya ada obat rutin sehingga nominal kedaluwarsa obat berkisar Rp 150 juta.

Meskipun begitu, dirinya enggan dikatakan tak ada upaya apapun. Kartika mengutarakan bahwa saat melakukan tracing Covid-19, pihaknya juga turut serta membagikan tablet FE pada lokasi rumah yang terdapat remaja putri.

“Secara rinci, obat-obatan yang akan dihapuskan berasal dari enam sumber (lihat grafis). Sedangkan untuk pemusnahan  menurut dia tidak bisa dilakukan sendiri. Dinkes harus menunjuk rekanan atau pihak ketiga. Biaya bakal dikeluarkan yakni Rp 35.000 per kg. “imbuh Kartika.

- Advertisement -

MALANG,RADARJEMBER.ID – Sebab obat kadaluarsa obat kedaluwarsa senilai  Rp 500 juta terbongkar sudah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu  mengaku kurang maksimal dalam mendistribusikan obat tersebut.

BACA JUGA : Selang Enam Bulan, Korban Erupsi Gunung Semeru Mulai Ditemukan

Hal itu diakui oleh dinkes dalam hearing dengan Komisi C DPRD Kota Batu, Kamis (4/8). Dalam kegiatan itu, diketahui bahwa ada lebih dari 100 item obat yang expired date (ED) penganggaran tahun 2019. Otomatis mau tak mau harus dimusnahkan.

drg.Kartika Trisulandari, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu beralasan SDM di dinkes kurang. Kemudian berdampak pada seretnya pendistribusian obat. Khususnya tablet FE. Selain itu juga dirinya beralasan pembatasan mobilitas di tahun 2020 hingga 2021 menjadi penghambat lain.

“Selama ini kita hanya berjejaring dengan sekolah untuk penyebaran tablet FE. Saat pandemi kan sekolah tutup. Mau dititipkan ke guru-guru juga tidak mungkin karena jarak rumah antar siswa dengan lainnya jauh,” jelas Kartika.

Ia menuturkan jika penyebab membengkaknya obat-obatan saat ini karena turunnya kunjungan masyarakat pada puskesmas. Penurunan kunjungan terjadi sebanyak 60 persen sebelum adanya pandemi Covid-19. Maka hal itu juga turut menyumbang penumpukan obat-obatan kedaluwarsa.

“Setiap tahun itu obat kedaluwarsa memang ada. Tapi sekarang ini membengkak karena ada obat penugasan berupa tablet FE untuk remaja putri usia 14-19 tahun. Jadi itu yang membuat bengkak ditambah dengan adanya pandemi Covid-19,” terang dia usai hearing.

Menurut wanita berjilbab ini, bisa dikatakan bahwa peningkatan nominal obat kedaluwarsa di tahun 2022 mencapai 80 hingga 100 persen, karena adanya obat program berupa tablet FE atau tablet zat besi.

Jika tak ada obat program itu, menurut Kartika setiap tahun hanya ada 30 persen obat kedaluwarsa. Contohnya di tahun 2019 dan 2021, karena hanya ada obat rutin sehingga nominal kedaluwarsa obat berkisar Rp 150 juta.

Meskipun begitu, dirinya enggan dikatakan tak ada upaya apapun. Kartika mengutarakan bahwa saat melakukan tracing Covid-19, pihaknya juga turut serta membagikan tablet FE pada lokasi rumah yang terdapat remaja putri.

“Secara rinci, obat-obatan yang akan dihapuskan berasal dari enam sumber (lihat grafis). Sedangkan untuk pemusnahan  menurut dia tidak bisa dilakukan sendiri. Dinkes harus menunjuk rekanan atau pihak ketiga. Biaya bakal dikeluarkan yakni Rp 35.000 per kg. “imbuh Kartika.

MALANG,RADARJEMBER.ID – Sebab obat kadaluarsa obat kedaluwarsa senilai  Rp 500 juta terbongkar sudah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu  mengaku kurang maksimal dalam mendistribusikan obat tersebut.

BACA JUGA : Selang Enam Bulan, Korban Erupsi Gunung Semeru Mulai Ditemukan

Hal itu diakui oleh dinkes dalam hearing dengan Komisi C DPRD Kota Batu, Kamis (4/8). Dalam kegiatan itu, diketahui bahwa ada lebih dari 100 item obat yang expired date (ED) penganggaran tahun 2019. Otomatis mau tak mau harus dimusnahkan.

drg.Kartika Trisulandari, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu beralasan SDM di dinkes kurang. Kemudian berdampak pada seretnya pendistribusian obat. Khususnya tablet FE. Selain itu juga dirinya beralasan pembatasan mobilitas di tahun 2020 hingga 2021 menjadi penghambat lain.

“Selama ini kita hanya berjejaring dengan sekolah untuk penyebaran tablet FE. Saat pandemi kan sekolah tutup. Mau dititipkan ke guru-guru juga tidak mungkin karena jarak rumah antar siswa dengan lainnya jauh,” jelas Kartika.

Ia menuturkan jika penyebab membengkaknya obat-obatan saat ini karena turunnya kunjungan masyarakat pada puskesmas. Penurunan kunjungan terjadi sebanyak 60 persen sebelum adanya pandemi Covid-19. Maka hal itu juga turut menyumbang penumpukan obat-obatan kedaluwarsa.

“Setiap tahun itu obat kedaluwarsa memang ada. Tapi sekarang ini membengkak karena ada obat penugasan berupa tablet FE untuk remaja putri usia 14-19 tahun. Jadi itu yang membuat bengkak ditambah dengan adanya pandemi Covid-19,” terang dia usai hearing.

Menurut wanita berjilbab ini, bisa dikatakan bahwa peningkatan nominal obat kedaluwarsa di tahun 2022 mencapai 80 hingga 100 persen, karena adanya obat program berupa tablet FE atau tablet zat besi.

Jika tak ada obat program itu, menurut Kartika setiap tahun hanya ada 30 persen obat kedaluwarsa. Contohnya di tahun 2019 dan 2021, karena hanya ada obat rutin sehingga nominal kedaluwarsa obat berkisar Rp 150 juta.

Meskipun begitu, dirinya enggan dikatakan tak ada upaya apapun. Kartika mengutarakan bahwa saat melakukan tracing Covid-19, pihaknya juga turut serta membagikan tablet FE pada lokasi rumah yang terdapat remaja putri.

“Secara rinci, obat-obatan yang akan dihapuskan berasal dari enam sumber (lihat grafis). Sedangkan untuk pemusnahan  menurut dia tidak bisa dilakukan sendiri. Dinkes harus menunjuk rekanan atau pihak ketiga. Biaya bakal dikeluarkan yakni Rp 35.000 per kg. “imbuh Kartika.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/