alexametrics
28 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Desa Penari Sukoharjo Dulu Gelap Gulita Rawan Kejahatan

Mobile_AP_Rectangle 1

SUKOHARJO, RADARJEMBER.ID – Sempat merantau ke kota, warga asli Jangglengan, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Sutoyo, bertekad kembali ke tanah kelahiran.
Sutoyo  kini menjadi Kepala Desa Jangglengan itu membangun desan dan dulu dipandang sebelah mata hinga warganya punya keterampilan menari.

BACA JUGA : Di Desa Jember Ini, Jika Membuang Sampah Sembarangan KK-nya Bakal Dicoret

Berawal dari kecintaan akan budaya, pria dulunya perantau itu kini merajut mimpi bersama warga desa lain menumbuhkan Desa Jangglengan sebagai Smart Village.Selain menyasar kemajuan teknologi dia ingin warganya tetap memiliki semangat merawat budaya yang ada. Desa Jangglengan dulunya terkenal dengan daerah rawan kejahatan karena gelap dan sepi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kini desa tersebut semakin ramai dan dikenal karena 40% warganya bisa menari tarian yang dia ciptakan bersama budayawan desa setempat.“Sebetulnya saya itu paling suka dengan budaya. Warga masyarakat kami itu kental dengan budaya dan setelah saya gali ternyata banyak potensi yang ada,” kata Sutoyo diiringi kicau burung di Pendapa Balai Desa setempat.

Potensi dimiliki desa setempat seperti semangat gotong royong, kerja keras para pekerja hingga keasrian alam desa, dia tuangkan dalam tari berjudul Kiprah Jangglengan bersama maestro tari setempat, Joko Prayitno.Tari Kiprah Jangglengan berawal dari mimpi pria menjabat sebagai Kepala Desa Jangglengan sejak 2006 itu ingin memajukan Desa Jangglengan.

Bak dayung bersambut, mimpi Sutoyo melestarikan budaya didukung oleh budayawan setempat, Joko Prayitno, seorang maestro tari yang telah melanglang buana hingga ke Eropa, Amerika bahkan negara lain.Ia bercerita cita-cita dan semangat darah muda kepala desanya yang tak hanya pembangunan fisik namun juga nonfisik mulai dipetik hasilnya.

Sekarang mulai tumbuh kecintaan budaya dari seluruh kalangan warga.Joko yang sedang berjuang melawan sakit pada saat pembuatan tari Kiprah Jangglengan itu turut mendapat semangat mendukung perkembangan Desa Jangglengan.Tari yang baru muncul pada 2022 itu dia buat menyesuaikan kondisi desa.

Joko menilai jika tarian itu dibikin seperti tari tradisi maka tak akan banyak peminatnya.Oleh karena itu Joko akhirnya membuat tari Kiprah Jangglengan dengan koreografi kekinian. Joko sempat tak menyangka jika tarian itu bakal digemari banyak warga.“Ternyata masyarakat suka sekali dari Ibu-ibu PKK, karangtaruna, anak-anak SD, SMP, Satpam ikut menari.

Pria lulusan Akademi Seni Karawitan Indonesia yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Joko semakin yakin tari Kiprah Jangglengan dari desanya akan terus moncer. Mengingat kini anak-anak SD di desa setempat juga rutin berlatih dan menarikan tari tersebut, hal itu untuk melestarikan budaya bangsa..

- Advertisement -

SUKOHARJO, RADARJEMBER.ID – Sempat merantau ke kota, warga asli Jangglengan, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Sutoyo, bertekad kembali ke tanah kelahiran.
Sutoyo  kini menjadi Kepala Desa Jangglengan itu membangun desan dan dulu dipandang sebelah mata hinga warganya punya keterampilan menari.

BACA JUGA : Di Desa Jember Ini, Jika Membuang Sampah Sembarangan KK-nya Bakal Dicoret

Berawal dari kecintaan akan budaya, pria dulunya perantau itu kini merajut mimpi bersama warga desa lain menumbuhkan Desa Jangglengan sebagai Smart Village.Selain menyasar kemajuan teknologi dia ingin warganya tetap memiliki semangat merawat budaya yang ada. Desa Jangglengan dulunya terkenal dengan daerah rawan kejahatan karena gelap dan sepi.

Kini desa tersebut semakin ramai dan dikenal karena 40% warganya bisa menari tarian yang dia ciptakan bersama budayawan desa setempat.“Sebetulnya saya itu paling suka dengan budaya. Warga masyarakat kami itu kental dengan budaya dan setelah saya gali ternyata banyak potensi yang ada,” kata Sutoyo diiringi kicau burung di Pendapa Balai Desa setempat.

Potensi dimiliki desa setempat seperti semangat gotong royong, kerja keras para pekerja hingga keasrian alam desa, dia tuangkan dalam tari berjudul Kiprah Jangglengan bersama maestro tari setempat, Joko Prayitno.Tari Kiprah Jangglengan berawal dari mimpi pria menjabat sebagai Kepala Desa Jangglengan sejak 2006 itu ingin memajukan Desa Jangglengan.

Bak dayung bersambut, mimpi Sutoyo melestarikan budaya didukung oleh budayawan setempat, Joko Prayitno, seorang maestro tari yang telah melanglang buana hingga ke Eropa, Amerika bahkan negara lain.Ia bercerita cita-cita dan semangat darah muda kepala desanya yang tak hanya pembangunan fisik namun juga nonfisik mulai dipetik hasilnya.

Sekarang mulai tumbuh kecintaan budaya dari seluruh kalangan warga.Joko yang sedang berjuang melawan sakit pada saat pembuatan tari Kiprah Jangglengan itu turut mendapat semangat mendukung perkembangan Desa Jangglengan.Tari yang baru muncul pada 2022 itu dia buat menyesuaikan kondisi desa.

Joko menilai jika tarian itu dibikin seperti tari tradisi maka tak akan banyak peminatnya.Oleh karena itu Joko akhirnya membuat tari Kiprah Jangglengan dengan koreografi kekinian. Joko sempat tak menyangka jika tarian itu bakal digemari banyak warga.“Ternyata masyarakat suka sekali dari Ibu-ibu PKK, karangtaruna, anak-anak SD, SMP, Satpam ikut menari.

Pria lulusan Akademi Seni Karawitan Indonesia yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Joko semakin yakin tari Kiprah Jangglengan dari desanya akan terus moncer. Mengingat kini anak-anak SD di desa setempat juga rutin berlatih dan menarikan tari tersebut, hal itu untuk melestarikan budaya bangsa..

SUKOHARJO, RADARJEMBER.ID – Sempat merantau ke kota, warga asli Jangglengan, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Sutoyo, bertekad kembali ke tanah kelahiran.
Sutoyo  kini menjadi Kepala Desa Jangglengan itu membangun desan dan dulu dipandang sebelah mata hinga warganya punya keterampilan menari.

BACA JUGA : Di Desa Jember Ini, Jika Membuang Sampah Sembarangan KK-nya Bakal Dicoret

Berawal dari kecintaan akan budaya, pria dulunya perantau itu kini merajut mimpi bersama warga desa lain menumbuhkan Desa Jangglengan sebagai Smart Village.Selain menyasar kemajuan teknologi dia ingin warganya tetap memiliki semangat merawat budaya yang ada. Desa Jangglengan dulunya terkenal dengan daerah rawan kejahatan karena gelap dan sepi.

Kini desa tersebut semakin ramai dan dikenal karena 40% warganya bisa menari tarian yang dia ciptakan bersama budayawan desa setempat.“Sebetulnya saya itu paling suka dengan budaya. Warga masyarakat kami itu kental dengan budaya dan setelah saya gali ternyata banyak potensi yang ada,” kata Sutoyo diiringi kicau burung di Pendapa Balai Desa setempat.

Potensi dimiliki desa setempat seperti semangat gotong royong, kerja keras para pekerja hingga keasrian alam desa, dia tuangkan dalam tari berjudul Kiprah Jangglengan bersama maestro tari setempat, Joko Prayitno.Tari Kiprah Jangglengan berawal dari mimpi pria menjabat sebagai Kepala Desa Jangglengan sejak 2006 itu ingin memajukan Desa Jangglengan.

Bak dayung bersambut, mimpi Sutoyo melestarikan budaya didukung oleh budayawan setempat, Joko Prayitno, seorang maestro tari yang telah melanglang buana hingga ke Eropa, Amerika bahkan negara lain.Ia bercerita cita-cita dan semangat darah muda kepala desanya yang tak hanya pembangunan fisik namun juga nonfisik mulai dipetik hasilnya.

Sekarang mulai tumbuh kecintaan budaya dari seluruh kalangan warga.Joko yang sedang berjuang melawan sakit pada saat pembuatan tari Kiprah Jangglengan itu turut mendapat semangat mendukung perkembangan Desa Jangglengan.Tari yang baru muncul pada 2022 itu dia buat menyesuaikan kondisi desa.

Joko menilai jika tarian itu dibikin seperti tari tradisi maka tak akan banyak peminatnya.Oleh karena itu Joko akhirnya membuat tari Kiprah Jangglengan dengan koreografi kekinian. Joko sempat tak menyangka jika tarian itu bakal digemari banyak warga.“Ternyata masyarakat suka sekali dari Ibu-ibu PKK, karangtaruna, anak-anak SD, SMP, Satpam ikut menari.

Pria lulusan Akademi Seni Karawitan Indonesia yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Joko semakin yakin tari Kiprah Jangglengan dari desanya akan terus moncer. Mengingat kini anak-anak SD di desa setempat juga rutin berlatih dan menarikan tari tersebut, hal itu untuk melestarikan budaya bangsa..

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/