JANGAN TAKUT, DIK: Petugas mengevakuasi balita dengan ember kemarin. Hingga tadi malam, sekitar 60 ribu warga mengungsi dan 30 orang meninggal akibat banjir di Jabodetabek. (MAST IRHAM/EPA-EFE)

JawaPos.com – Banjir memang mulai surut di sebagian kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) kemarin. Namun, air bisa kembali meninggi dengan tiba-tiba. Sebab, pekan ini hujan deras bisa kembali mengguyur kawasan ibu kota dan sekitarnya.

IKLAN

Karena itu, pemerintah akan melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengendalikan waktu dan tempat turunnya hujan. Dengan cara tersebut, hujan bisa diturunkan sebelum mencapai Jakarta.

Prediksi mengenai hujan deras itu disampaikan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati kemarin. Dia mengungkapkan, BMKG mendeteksi aliran masa udara basah dari Samudra Hindia di barat Pulau Sumatera. Aliran udara itu akan masuk ke wilayah sepanjang selatan garis khatulistiwa atau ekuator. ’’Dampaknya bisa meningkatkan intensitas hujan menjadi ekstrem lagi. Prediksinya akan terjadi tanggal 5 sampai 10 Januari ini,’’ jelasnya.

Cuaca ekstrem akan terjadi mulai Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, sampai Lampung. Termasuk Jawa dan Jabodetabek. Aliran udara basah itu, kata Dwikorita, bergerak ke arah timur. ’’Tanggal 5 sampai 10 akan ada di wilayah Indonesia bagian barat di selatan ekuator, lalu terus bergerak ke timur. Tanggal 10 sampai 15 akan ada di Kalimantan Selatan, terus ke Sulawesi bagian selatan dan tenggara,’’ katanya.

Dwikorita menyebut fenomena itu bersifat siklus. Diprediksi masih terulang pada akhir Januari hinga awal Februari mendatang. ’’Biasanya di 3, 4, sampai 5 hari awal bulan. Nanti terulang pada pertengahan Februari,’’ jelasnya. Karena itu, Dwikorita meminta pemerintah maupun masyarakat untuk mempersiapkan diri serta mengantisipasi lebih dini.

Nah, warning BMKG tersebut direspons pemerintah dengan melakukan teknologi modifikasi cuaca. Terutama untuk mengurangi beban tumpahan air di wilayah Jabodetabek. Kepala Balai Besar TMC-BPPT Tri Handoko Seto menjelaskan, secara prinsip, teknologi modifikasi cuaca untuk mengurangi hujan lebat di Jakarta dan sekitarnya sama dengan misi hujan buatan di saat penanganan karhutla (kebakaran hutan dan lahan). ”Rencananya besok (hari ini, Red) kita kurangi curah hujan di Jabodetabek,” kata Seto kemarin. Dia menjelaskan, tim Balai Besar TMC-BPPT sudah menganalisis awan yang memicu hujan lebat di Jakarta dan sekitarnya dua hari terakhir ini. Seto mengatakan, awannya adalah awan gerak yang bergerak dari utara Jakarta.

Rencananya awan tersebut disemai sehingga turun hujan sebelum sampai Jakarta. Jika berjalan sesuai rencana, hujan akan turun di Lampung bagian selatan sampai di Selat Sunda. Meski demikian, Seto mengungkapkan, tidak berarti Jakarta bakal sama sekali tak diguyur hujan. ”Kalaupun masuk (Jakarta hujannya, Red) intensitasnya kurang,” tuturnya. Dia menambahkan, awan berpotensi hujan dan bergerak itu harus disemai sebelum berada di langit Jakarta dan sekitarnya.

Seto menjelaskan, pesawat yang akan menjalankan misi hujan buatan itu akan lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma hari ini. Tim sudah siap dengan 22 ton garam. Garam tersebut nanti ditabur ke awan untuk memicu turunnya hujan. Cara seperti itu pernah dilakukan pada periode 2013–2014. Saat itu, terang Seto, hujan yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya cukup lebat. Dia menuturkan, misi hujan buatan untuk mengurangi intensitas hujan di Jakarta dan sekitarnya dilakukan hingga benar-benar aman.

Sementara itu, korban jiwa juga terus bertambah. Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir di Jabodetabek telah merenggut 30 nyawa.

Pantauan Jawa Pos di Kampung Pulo, Jakarta Timur, kemarin air mulai surut. Namun, 497 warga masih mengungsi ke lantai 2 rusunawa Jatinegara Barat, Jakarta Timur. Jumlah itu terdiri atas 217 laki-laki dan 280 perempuan. Di antaranya, 40 lansia, 70 balita, 91 anak-anak, dan 3 ibu hamil.

Warga yang bertahan di rusunawa mengalami kekurangan makanan, air, dan listrik. Air masih menggenang di Green Garden, Kedoya Utara, Jakarta Barat, hingga kemarin petang (2/1). Ketinggian air masih sekitar 1,5 meter. Banjir menenggelamkan ratusan rumah mewah dan kendaraan.

Jalan Raya Daan Mogot juga masih tergenang hingga memicu kemacetan parah. Kawasan sekitar Jakarta Barat seperti Jalan Tanjung Duren Barat 1 dan sekitarnya masih terendam dengan ketinggian air mencapai 20–40 sentimeter. Di Jakarta Timur, pemkot bekerja keras mengevakuasi warga Kelurahan Cipinang Melayu di Kecamatan Makasar. Sepuluh perahu karet dikerahkan untuk menjemput lebih dari 100 orang yang masih berada di dalam rumah.

Di Kota Bekasi, banjir masih menggenangi 75 persen wilayah. Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menerangkan, hanya Kecamatan Bantargebang dan Jatisampurna yang kondisinya tidak terlalu parah. ”Kalau saya lihat, hampir 75 persen Kota Bekasi kena banjir. Tapi, yang paling parah itu di IKIP, Pondok Gede Permai, Kartini, dan Kalibaru,” jelasnya.

Ahli Waris Terima Santunan Rp 15 Juta

TERSERAK: Warga Rawajati, Kalibata, mengungsi di kolong jembatan layang Jakarta kemarin. (MIFTAHULHAYAT/ JAWA POS)

Hingga sore, sebagian warga Cipinang Melayu memilih tinggal di posko pengungsian yang berada di Universitas Borobudur. Mereka khawatir ada banjir susulan. Kegiatan bagi-bagi pakaian tampak ramai di beberapa posko pengungsian. Dapur umum juga terus mengepul untuk memenuhi kebutuhan pangan para pengungsi. Di bagian lain, anak-anak dihibur para relawan dan pekerja sosial.

Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara pun sempat berkeliling dengan menggunakan perahu karet di kawasan Kampung Pulo. ”Mungkin akan menambah tenda, ya. Karena sepertinya masih sedikit. Kalau makanan sudah berdatangan,” tuturnya. Disinggung soal santunan, Mensos mengaku sudah menyiapkan dana bagi para korban yang meninggal dunia. Ahli waris akan menerima dana Rp 15 juta sebagai ungkapan belasungkawa. ”Tadi sudah kita berikan. Ada yang istrinya meninggal karena hipotermia tadi,” paparnya.

Polri mengerahkan 25 ribu personel untuk membantu korban banjir di empat lokasi. Yakni, Jabodetabek, Lebak, Sumatera Utara, dan Jawa Barat. Semua membantu proses evakuasi sekaligus membuka dapur umum.

TNI juga turut mengerahkan personel untuk membantu korban banjir di Jakarta maupun daerah lain. Kemarin truk-truk TNI tampak lalu-lalang di jalanan ibu kota. Mereka mengirim prajurit ke lokasi-lokasi terdampak, lengkap dengan perahu karet.

Kepala BNPB Doni Monardo juga meminta masyarakat yang tinggal di dataran rendah untuk waspada. ’’Misalnya dulu bekas situ yang dikeringkan, atau bekas urukan, tolong waspada. Kalau bisa jangan di rumah dulu. Karena air itu pasti akan mencari tempat asalnya,’’ ingatnya.

Dia juga meminta warga yang tinggal di daerah aliran sungai untuk tidak berada di rumah. Jika ada perintah evakuasi, mereka harus segera meninggalkan rumah tanpa menunggu air meninggi.

Pada bagian lain, Presiden Joko Widodo mengingatkan jajaran kementerian dan pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, untuk bersinergi. Sebab, lanjut dia, banjir di Jakarta disebabkan banyak faktor. Mulai kerusakan ekosistem, kerusakan ekologi, hingga kesalahan bersama masyarakat. ”Ada yang memang karena kesalahan kita yang membuang sampah di mana-mana, banyak hal. Tetapi, saya ingin agar kerja sama itu dibangun pusat, provinsi, dan kabupaten kota,” ujar dia di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, kemarin (2/1).

Jokowi juga menjelaskan, ada empat daerah aliran sungai di DKI Jakarta yang kondisinya cukup parah. Yakni, Sungai Krukut, Sungai Ciliwung, Sungai Cakung, dan Sungai Sunter. Dia menilai, pembangunan prasarana pengendalian banjir pada keempat sungai terkendala sejak 2017 karena masalah pembebasan lahan. ”Program pengendalian banjir Sungai Ciliwung, misalnya, sudah ditangani 16 kilometer dari rencana keseluruhan 33 km,” imbuhnya.

Kemudian, untuk proyek di hulu, pembangunan Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi di Bogor belum tuntas karena terkendala pembebasan lahan. ”Perkembangan pembangunan fisik mendekati 45 persen. Kedua bendungan tersebut direncanakan selesai pada akhir 2020,” tuturnya.

DPR Janji Setujui Anggaran Banjir

TERSERAK: Mobil yang terseret arus banjir di Perum Pondok Gede Permai, Jati Asih, Bekasi. (FERLYNDA PUTRI/JAWA POS)

Sementara itu, Ketua DPR Puan Maharani meminta semua pihak untuk tidak saling menyalahkan dalam bencana banjir yang mengepung Jabodetabek saat ini. Menurut dia, banjir Jabodetabek tidak bisa diatasi secara parsial. Mesti dilakukan secara terintegrasi yang melibatkan lintas daerah. Mulai Provinsi DKI Jakarta, Pemprov Jawa Barat, dan Pemprov Banten. ”Karena ini lintas provinsi dan kabupaten kota, pemerintah pusat harus menjadi penggerak dan pelopor kerja kolaboratif ini,” kata Puan kemarin (2/1).

Mengatasi banjir tahunan Jabodetabek, tambah Puan, hanya efektif jika dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Koordinasi dan komunikasi antarinstansi terkait pun menjadi penting. Pengelolaan Sungai Ciliwung, misalnya. Sungai yang menjadi salah satu biang kerok banjir Jakarta itu mengalir lintas daerah, mulai Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Depok, hingga Jakarta. ”Kalau normalisasi ya normalisasi dari hulu ke hilir. Semua daerah yang dilalui harus kerja sama,” imbuhnya.

DPR siap mendukung penuh penanggulangan banjir tersebut. Sokongan dari parlemen akan dilakukan dari sisi anggaran maupun regulasi. Sisi anggaran, misalnya. Puan menyampaikan siap men-support alokasi anggaran yang dibutuhkan untuk membantu penanggulangan banjir secara terpadu. ”Jika butuh dana APBN tentu akan kita alokasikan,” ujarnya. Adapun sisi regulasi, parlemen juga akan memikirkan payung hukum agar tiga provinsi tersebut bisa terintegrasi dalam satu kawasan penanggulangan banjir Jabodetabek.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : shf/gih/dom/ygi/raf/riz/mia/tau/idr/syn/wan/far/mar/c10/c19/oni