22.8 C
Jember
Tuesday, 7 February 2023

Bupati Malang dan FKPT Jatim Beraksi Cegah Radikalisme dan Terorisme

Mobile_AP_Rectangle 1

MALANG, RADARJEMBER.ID- Secara diam-diam paham radikalisme dan terorisme masih menjadi ancaman bagi keharmonisan masyarakat. Bahkan, paham radikal itu menjadi ancaman serius bagi keutuhan bangsa dan negara kesatuan RI.

Kabupaten Malang di antara daerah di Jawa Timur yang menjadi pertahanan penting bagi ancaman gerakan radikalisme dan terorisme. Setidaknya, ada sejumlah mantan teroris (napiter) dari daerah ini yang mendapat pembinaan terus menerus hingga kini.

Upaya serius dan terus dilakukan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, dengan melakukan kerja sama dengan Pemkab Malang. Ternyata, di daerah ini merupakan bagian dari target ancaman itu, untuk segera dilakukan tindakan pencegahan dan cara tepat mengantisipasinya.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA: Unggah Literasi Digital untuk Lawan Terorisme di Tanah Air

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Dr Hj Hesti Armiwulan SH MHum CMC CCD, mengungkapkan, dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme, dilandasi prinsip pelindungan hak asasi manusia dan prinsip kehati-hatian.

“Melalui kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisme dan deradikalisme,” tutur Hesti, dalam keterangan Jumat (2/12).

Kesiapsiagaan nasional, menurut Hesti yang Dosen Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya), merupakan suatu kondisi siap siaga untuk mengantisipasi terjadinya tindak pidana terorisme melalui proses yang terencana, terpadu, sistematis dan berkesinambungan.

“Kesiapsiagaan nasional dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat, peningkatan kemampuan aparatur, perlindungan dan peningkatan sarana prasarana, pengembangan kajian Terorisme, serta pemetaan wilayah rawan paham radikal Terorisme,” tutur Hesti.

Pengakuan Napiter

Terkait pencegahan radikalisme dan terorisme, Ketua FKPT Jawa Timur telah melakukan audiensi dengan Bupati Malang Drs. H. Sanusi, MM, belum lama ini.

Pada kesempatan itu, Bupati Malang menyatakan harapan agar masyarakat Kabupaten Malang senantiasa waspada terhadap potensi radikalisme dan terorisme yang bisa muncul dimanapun dan kapanpun juga, sehingga perlu dibangun deteksi dini dan cegah dini untuk menangkalnya.

Juga dilakukan Sosialisasi peran penyuluh lapangan dalam upaya pencegahan paham radikalisme,di Pendopo Kabupaten Malang, tepatnya pada 23 November 2022, dihadiri Ketua FKPT Jatim Hesti Armiwulan dan testimoni seorang mantan teroris atau napiter, Pujianto. Mantan teroris ini yang terpapar gerakan radikalisme ini, berasal dari salah desa di kecamatan di Malang.

Menurut Hesti, dalam waktu dekat, tepatnya pada bulan Januari 2023, FKPT akan melakukan kegiatan pencegahan di hadapan para pemuda dan mahasiswa, di antara anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BREM) di sejumlah kampus di Malang Raya.

Dalam pengakuannya, Pujianto mengungkapkan pengalamannya hingga sadar diri untuk kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Ya, saya bertobat dan selalu mengingatkan agar masyarakat tidak terpapar seperti saya. Karena itu, perlu dikenal gejala dan tanda-tanda sikap dan sifat radikal itu,” tuturnya.

Mengetahui tanda dan kecenderungan radikal, bisa digambarkan bagaimana seseorang menyatakan cintanya pada pasangannya.

“Kamu memang perempuan paling cantik di dunia. Tidak ada yang cantik selalu kamu. Yang lain, itu biasa saja. Ini awal mula bibit radikalisme. Padahal, kalau mau jujur, perempuan yang lain juga banyak yang lebih cantik. Ya, kan?,” tutur Pujianto.

Pendekatan Melalui Moderasi Beragama

Pada bagian lain, Hesti, pendekatan soft approach melalui moderasi beragama merupakan proses menjaga keseimbangan yang paripurna, setiap warga masyarakat yang berbeda suku, etnis, budaya, agama dan pilihan politiknya.

Menurutnya, ada empat tanda sikap moderat dalam beragama. Di antaranya, Cinta Tanah Air, punya toleransi tinggi, antikekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal.

Selain itu, diingatkan adanya kesadaran pengguna media sosial. Untuk menjaga keamanan akun, dengan membuat kata kunci yang sulit ditebak dan mengubahnya secara periodik.

Hindari hoaks, tak mudah percaya dengan berita yang diterima sebelum diklarifikasi dan menyebarkan hal positif. Artinya, hanya meneruskan berita yang bermuatan positif.

“Gunakan seperlunya media sosial. Gunakan media sosial untuk meningkatkan produktivitas diri dan jangan menjadi adiktif,” tutur Hesti.

Ia pun mengingatkan tentang tugas FKPT, di antaranya, pengembangan potensi dan kreativitas yang dimiliki oleh generasi muda dalam pencegahan terorisme. Pemberian edukasi bagi kelompok perempuan dan anak dalam pencegahan terorisme

“FKPT pun melakukan penelitian tentang potensi radikal terorisme. Adanya diseminasi dan sosialisasi pencegahan terorisme kepada semua elemen masyarakat di daerah dan pengembangan kreativitas dari berbagai perspektif. Selain itu, menekankan pentingnya literasi informasi pencegahan terorisme melalui media massa, media sosial dan media lainnya,” tutur Hesti Armiwulan.(*)

Foto: Humas FKPT Jatim untuk Radar Jember

- Advertisement -

MALANG, RADARJEMBER.ID- Secara diam-diam paham radikalisme dan terorisme masih menjadi ancaman bagi keharmonisan masyarakat. Bahkan, paham radikal itu menjadi ancaman serius bagi keutuhan bangsa dan negara kesatuan RI.

Kabupaten Malang di antara daerah di Jawa Timur yang menjadi pertahanan penting bagi ancaman gerakan radikalisme dan terorisme. Setidaknya, ada sejumlah mantan teroris (napiter) dari daerah ini yang mendapat pembinaan terus menerus hingga kini.

Upaya serius dan terus dilakukan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, dengan melakukan kerja sama dengan Pemkab Malang. Ternyata, di daerah ini merupakan bagian dari target ancaman itu, untuk segera dilakukan tindakan pencegahan dan cara tepat mengantisipasinya.

BACA JUGA: Unggah Literasi Digital untuk Lawan Terorisme di Tanah Air

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Dr Hj Hesti Armiwulan SH MHum CMC CCD, mengungkapkan, dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme, dilandasi prinsip pelindungan hak asasi manusia dan prinsip kehati-hatian.

“Melalui kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisme dan deradikalisme,” tutur Hesti, dalam keterangan Jumat (2/12).

Kesiapsiagaan nasional, menurut Hesti yang Dosen Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya), merupakan suatu kondisi siap siaga untuk mengantisipasi terjadinya tindak pidana terorisme melalui proses yang terencana, terpadu, sistematis dan berkesinambungan.

“Kesiapsiagaan nasional dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat, peningkatan kemampuan aparatur, perlindungan dan peningkatan sarana prasarana, pengembangan kajian Terorisme, serta pemetaan wilayah rawan paham radikal Terorisme,” tutur Hesti.

Pengakuan Napiter

Terkait pencegahan radikalisme dan terorisme, Ketua FKPT Jawa Timur telah melakukan audiensi dengan Bupati Malang Drs. H. Sanusi, MM, belum lama ini.

Pada kesempatan itu, Bupati Malang menyatakan harapan agar masyarakat Kabupaten Malang senantiasa waspada terhadap potensi radikalisme dan terorisme yang bisa muncul dimanapun dan kapanpun juga, sehingga perlu dibangun deteksi dini dan cegah dini untuk menangkalnya.

Juga dilakukan Sosialisasi peran penyuluh lapangan dalam upaya pencegahan paham radikalisme,di Pendopo Kabupaten Malang, tepatnya pada 23 November 2022, dihadiri Ketua FKPT Jatim Hesti Armiwulan dan testimoni seorang mantan teroris atau napiter, Pujianto. Mantan teroris ini yang terpapar gerakan radikalisme ini, berasal dari salah desa di kecamatan di Malang.

Menurut Hesti, dalam waktu dekat, tepatnya pada bulan Januari 2023, FKPT akan melakukan kegiatan pencegahan di hadapan para pemuda dan mahasiswa, di antara anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BREM) di sejumlah kampus di Malang Raya.

Dalam pengakuannya, Pujianto mengungkapkan pengalamannya hingga sadar diri untuk kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Ya, saya bertobat dan selalu mengingatkan agar masyarakat tidak terpapar seperti saya. Karena itu, perlu dikenal gejala dan tanda-tanda sikap dan sifat radikal itu,” tuturnya.

Mengetahui tanda dan kecenderungan radikal, bisa digambarkan bagaimana seseorang menyatakan cintanya pada pasangannya.

“Kamu memang perempuan paling cantik di dunia. Tidak ada yang cantik selalu kamu. Yang lain, itu biasa saja. Ini awal mula bibit radikalisme. Padahal, kalau mau jujur, perempuan yang lain juga banyak yang lebih cantik. Ya, kan?,” tutur Pujianto.

Pendekatan Melalui Moderasi Beragama

Pada bagian lain, Hesti, pendekatan soft approach melalui moderasi beragama merupakan proses menjaga keseimbangan yang paripurna, setiap warga masyarakat yang berbeda suku, etnis, budaya, agama dan pilihan politiknya.

Menurutnya, ada empat tanda sikap moderat dalam beragama. Di antaranya, Cinta Tanah Air, punya toleransi tinggi, antikekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal.

Selain itu, diingatkan adanya kesadaran pengguna media sosial. Untuk menjaga keamanan akun, dengan membuat kata kunci yang sulit ditebak dan mengubahnya secara periodik.

Hindari hoaks, tak mudah percaya dengan berita yang diterima sebelum diklarifikasi dan menyebarkan hal positif. Artinya, hanya meneruskan berita yang bermuatan positif.

“Gunakan seperlunya media sosial. Gunakan media sosial untuk meningkatkan produktivitas diri dan jangan menjadi adiktif,” tutur Hesti.

Ia pun mengingatkan tentang tugas FKPT, di antaranya, pengembangan potensi dan kreativitas yang dimiliki oleh generasi muda dalam pencegahan terorisme. Pemberian edukasi bagi kelompok perempuan dan anak dalam pencegahan terorisme

“FKPT pun melakukan penelitian tentang potensi radikal terorisme. Adanya diseminasi dan sosialisasi pencegahan terorisme kepada semua elemen masyarakat di daerah dan pengembangan kreativitas dari berbagai perspektif. Selain itu, menekankan pentingnya literasi informasi pencegahan terorisme melalui media massa, media sosial dan media lainnya,” tutur Hesti Armiwulan.(*)

Foto: Humas FKPT Jatim untuk Radar Jember

MALANG, RADARJEMBER.ID- Secara diam-diam paham radikalisme dan terorisme masih menjadi ancaman bagi keharmonisan masyarakat. Bahkan, paham radikal itu menjadi ancaman serius bagi keutuhan bangsa dan negara kesatuan RI.

Kabupaten Malang di antara daerah di Jawa Timur yang menjadi pertahanan penting bagi ancaman gerakan radikalisme dan terorisme. Setidaknya, ada sejumlah mantan teroris (napiter) dari daerah ini yang mendapat pembinaan terus menerus hingga kini.

Upaya serius dan terus dilakukan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, dengan melakukan kerja sama dengan Pemkab Malang. Ternyata, di daerah ini merupakan bagian dari target ancaman itu, untuk segera dilakukan tindakan pencegahan dan cara tepat mengantisipasinya.

BACA JUGA: Unggah Literasi Digital untuk Lawan Terorisme di Tanah Air

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Dr Hj Hesti Armiwulan SH MHum CMC CCD, mengungkapkan, dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme, dilandasi prinsip pelindungan hak asasi manusia dan prinsip kehati-hatian.

“Melalui kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisme dan deradikalisme,” tutur Hesti, dalam keterangan Jumat (2/12).

Kesiapsiagaan nasional, menurut Hesti yang Dosen Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya), merupakan suatu kondisi siap siaga untuk mengantisipasi terjadinya tindak pidana terorisme melalui proses yang terencana, terpadu, sistematis dan berkesinambungan.

“Kesiapsiagaan nasional dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat, peningkatan kemampuan aparatur, perlindungan dan peningkatan sarana prasarana, pengembangan kajian Terorisme, serta pemetaan wilayah rawan paham radikal Terorisme,” tutur Hesti.

Pengakuan Napiter

Terkait pencegahan radikalisme dan terorisme, Ketua FKPT Jawa Timur telah melakukan audiensi dengan Bupati Malang Drs. H. Sanusi, MM, belum lama ini.

Pada kesempatan itu, Bupati Malang menyatakan harapan agar masyarakat Kabupaten Malang senantiasa waspada terhadap potensi radikalisme dan terorisme yang bisa muncul dimanapun dan kapanpun juga, sehingga perlu dibangun deteksi dini dan cegah dini untuk menangkalnya.

Juga dilakukan Sosialisasi peran penyuluh lapangan dalam upaya pencegahan paham radikalisme,di Pendopo Kabupaten Malang, tepatnya pada 23 November 2022, dihadiri Ketua FKPT Jatim Hesti Armiwulan dan testimoni seorang mantan teroris atau napiter, Pujianto. Mantan teroris ini yang terpapar gerakan radikalisme ini, berasal dari salah desa di kecamatan di Malang.

Menurut Hesti, dalam waktu dekat, tepatnya pada bulan Januari 2023, FKPT akan melakukan kegiatan pencegahan di hadapan para pemuda dan mahasiswa, di antara anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BREM) di sejumlah kampus di Malang Raya.

Dalam pengakuannya, Pujianto mengungkapkan pengalamannya hingga sadar diri untuk kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Ya, saya bertobat dan selalu mengingatkan agar masyarakat tidak terpapar seperti saya. Karena itu, perlu dikenal gejala dan tanda-tanda sikap dan sifat radikal itu,” tuturnya.

Mengetahui tanda dan kecenderungan radikal, bisa digambarkan bagaimana seseorang menyatakan cintanya pada pasangannya.

“Kamu memang perempuan paling cantik di dunia. Tidak ada yang cantik selalu kamu. Yang lain, itu biasa saja. Ini awal mula bibit radikalisme. Padahal, kalau mau jujur, perempuan yang lain juga banyak yang lebih cantik. Ya, kan?,” tutur Pujianto.

Pendekatan Melalui Moderasi Beragama

Pada bagian lain, Hesti, pendekatan soft approach melalui moderasi beragama merupakan proses menjaga keseimbangan yang paripurna, setiap warga masyarakat yang berbeda suku, etnis, budaya, agama dan pilihan politiknya.

Menurutnya, ada empat tanda sikap moderat dalam beragama. Di antaranya, Cinta Tanah Air, punya toleransi tinggi, antikekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal.

Selain itu, diingatkan adanya kesadaran pengguna media sosial. Untuk menjaga keamanan akun, dengan membuat kata kunci yang sulit ditebak dan mengubahnya secara periodik.

Hindari hoaks, tak mudah percaya dengan berita yang diterima sebelum diklarifikasi dan menyebarkan hal positif. Artinya, hanya meneruskan berita yang bermuatan positif.

“Gunakan seperlunya media sosial. Gunakan media sosial untuk meningkatkan produktivitas diri dan jangan menjadi adiktif,” tutur Hesti.

Ia pun mengingatkan tentang tugas FKPT, di antaranya, pengembangan potensi dan kreativitas yang dimiliki oleh generasi muda dalam pencegahan terorisme. Pemberian edukasi bagi kelompok perempuan dan anak dalam pencegahan terorisme

“FKPT pun melakukan penelitian tentang potensi radikal terorisme. Adanya diseminasi dan sosialisasi pencegahan terorisme kepada semua elemen masyarakat di daerah dan pengembangan kreativitas dari berbagai perspektif. Selain itu, menekankan pentingnya literasi informasi pencegahan terorisme melalui media massa, media sosial dan media lainnya,” tutur Hesti Armiwulan.(*)

Foto: Humas FKPT Jatim untuk Radar Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca