alexametrics
28 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Temuan Beras Bansos Dikubur di Lahan Parkir JNE

Mobile_AP_Rectangle 1

RADARJEMBER.ID – Temuan beras bansos dikubur di lahan parkir JNE di Kota Depok, yang disebut-sebut sudah dalam kondisi rusak ditanggapi Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy. Dia menyatakan, pemerintah memang melarang beras rusak masuk untuk bantuan presiden (banpres) yang dibagikan ke masyarakat.

BACA JUGA : Bupati Mamberamo Tengah Masuk DPO, KPK Minta Interpol Terbitkan Red Notice

“Beras rusak itu memang tidak boleh dibagikan kepada masyarakat karena presiden pesan jangan berikan beras ke masyarakat, yang kita sendiri tidak mau makan. Yang diberikan beras premium,” kata Muhadjir di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (1/8).

Mobile_AP_Rectangle 2

Penemuan beras bansos presiden untuk warga terdampak Covid-19 yang dikubur di lahan parkir JNE di Kampung Serab, Sukmajaya, Depok, Jawa Barat pada Minggu (31/7) sempat menjadi viral. Beras yang dikubur itu ditemukan setelah ahli waris pemilik lahan, Rudi Samin, melakukan penggalian menggunakan alat berat. Saat ini Polrestro Depok tengah memeriksa penemuan tersebut dengan pihak terlapor adalah JNE.

“Waktu itu kita putuskan semua beras yang kena hujan tidak boleh dibagikan, baik yang masih dalam keadaan baik dan yang rusak tidak boleh dibagikan. Kenapa? Karena mungkin yang waktu itu tampaknya baik, besoknya rusak. Beras itu kan sensitif dengan air, kemudian hari itu juga harus diganti, paling lambat dua hari setelah itu harus diganti,” ungkapnya.

Menurut dia, terkait penemuan beras yang rusak itu, pihak yang bertanggung jawab seharusnya adalah perusahaan pengirim beras dan Bulog.

“Jadi kalau ada beras rusak itu adalah tanggung jawab pihak transporter. Benar kalau itu JNE itu jadi transporter itu kalau JNE yang melakukan itu benar. Soal itu ditimbun, urusan dia, bukan urusan Kemensos, karena beras rusak itu sangat mungkin sudah diganti,” papar Muhadjir.

Namun, dia mengaku tidak tahu apakah beras yang rusak sudah diganti atau belum sebelum sampai ke masyarakat.

“Karena betul-betul kita kawal sampai delivered sesuai pesan pak presiden. Jangan hanya dikirim, tapi harus tersampaikan jadi kerugian ditanggung perusahaan pengirim, transporter,” ungkapnya. Saat ini,  penyelidikan kasus masih dilakukan bersama oleh Polri, Irjen Kemensos dan Deputi 1 Kemenko PMK.

“Jadi jawaban saya sementara berpegang pada pernyataan JNE. Kalau itu benar, berarti beras rusak, dan beras rusak itu memang tidak boleh dibagikan kepada masyarakat. Kita sangat correct begitu rusak, tidak boleh, sedangkan waktu itu ada yang sudah sampai ke penduduk kita tarik lagi, termasuk yang tidak rusak. Pokoknya satu truk itu ada yang rusak, sudah yang lain tidak boleh dibagi semua,” jelasnya.

- Advertisement -

RADARJEMBER.ID – Temuan beras bansos dikubur di lahan parkir JNE di Kota Depok, yang disebut-sebut sudah dalam kondisi rusak ditanggapi Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy. Dia menyatakan, pemerintah memang melarang beras rusak masuk untuk bantuan presiden (banpres) yang dibagikan ke masyarakat.

BACA JUGA : Bupati Mamberamo Tengah Masuk DPO, KPK Minta Interpol Terbitkan Red Notice

“Beras rusak itu memang tidak boleh dibagikan kepada masyarakat karena presiden pesan jangan berikan beras ke masyarakat, yang kita sendiri tidak mau makan. Yang diberikan beras premium,” kata Muhadjir di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (1/8).

Penemuan beras bansos presiden untuk warga terdampak Covid-19 yang dikubur di lahan parkir JNE di Kampung Serab, Sukmajaya, Depok, Jawa Barat pada Minggu (31/7) sempat menjadi viral. Beras yang dikubur itu ditemukan setelah ahli waris pemilik lahan, Rudi Samin, melakukan penggalian menggunakan alat berat. Saat ini Polrestro Depok tengah memeriksa penemuan tersebut dengan pihak terlapor adalah JNE.

“Waktu itu kita putuskan semua beras yang kena hujan tidak boleh dibagikan, baik yang masih dalam keadaan baik dan yang rusak tidak boleh dibagikan. Kenapa? Karena mungkin yang waktu itu tampaknya baik, besoknya rusak. Beras itu kan sensitif dengan air, kemudian hari itu juga harus diganti, paling lambat dua hari setelah itu harus diganti,” ungkapnya.

Menurut dia, terkait penemuan beras yang rusak itu, pihak yang bertanggung jawab seharusnya adalah perusahaan pengirim beras dan Bulog.

“Jadi kalau ada beras rusak itu adalah tanggung jawab pihak transporter. Benar kalau itu JNE itu jadi transporter itu kalau JNE yang melakukan itu benar. Soal itu ditimbun, urusan dia, bukan urusan Kemensos, karena beras rusak itu sangat mungkin sudah diganti,” papar Muhadjir.

Namun, dia mengaku tidak tahu apakah beras yang rusak sudah diganti atau belum sebelum sampai ke masyarakat.

“Karena betul-betul kita kawal sampai delivered sesuai pesan pak presiden. Jangan hanya dikirim, tapi harus tersampaikan jadi kerugian ditanggung perusahaan pengirim, transporter,” ungkapnya. Saat ini,  penyelidikan kasus masih dilakukan bersama oleh Polri, Irjen Kemensos dan Deputi 1 Kemenko PMK.

“Jadi jawaban saya sementara berpegang pada pernyataan JNE. Kalau itu benar, berarti beras rusak, dan beras rusak itu memang tidak boleh dibagikan kepada masyarakat. Kita sangat correct begitu rusak, tidak boleh, sedangkan waktu itu ada yang sudah sampai ke penduduk kita tarik lagi, termasuk yang tidak rusak. Pokoknya satu truk itu ada yang rusak, sudah yang lain tidak boleh dibagi semua,” jelasnya.

RADARJEMBER.ID – Temuan beras bansos dikubur di lahan parkir JNE di Kota Depok, yang disebut-sebut sudah dalam kondisi rusak ditanggapi Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy. Dia menyatakan, pemerintah memang melarang beras rusak masuk untuk bantuan presiden (banpres) yang dibagikan ke masyarakat.

BACA JUGA : Bupati Mamberamo Tengah Masuk DPO, KPK Minta Interpol Terbitkan Red Notice

“Beras rusak itu memang tidak boleh dibagikan kepada masyarakat karena presiden pesan jangan berikan beras ke masyarakat, yang kita sendiri tidak mau makan. Yang diberikan beras premium,” kata Muhadjir di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (1/8).

Penemuan beras bansos presiden untuk warga terdampak Covid-19 yang dikubur di lahan parkir JNE di Kampung Serab, Sukmajaya, Depok, Jawa Barat pada Minggu (31/7) sempat menjadi viral. Beras yang dikubur itu ditemukan setelah ahli waris pemilik lahan, Rudi Samin, melakukan penggalian menggunakan alat berat. Saat ini Polrestro Depok tengah memeriksa penemuan tersebut dengan pihak terlapor adalah JNE.

“Waktu itu kita putuskan semua beras yang kena hujan tidak boleh dibagikan, baik yang masih dalam keadaan baik dan yang rusak tidak boleh dibagikan. Kenapa? Karena mungkin yang waktu itu tampaknya baik, besoknya rusak. Beras itu kan sensitif dengan air, kemudian hari itu juga harus diganti, paling lambat dua hari setelah itu harus diganti,” ungkapnya.

Menurut dia, terkait penemuan beras yang rusak itu, pihak yang bertanggung jawab seharusnya adalah perusahaan pengirim beras dan Bulog.

“Jadi kalau ada beras rusak itu adalah tanggung jawab pihak transporter. Benar kalau itu JNE itu jadi transporter itu kalau JNE yang melakukan itu benar. Soal itu ditimbun, urusan dia, bukan urusan Kemensos, karena beras rusak itu sangat mungkin sudah diganti,” papar Muhadjir.

Namun, dia mengaku tidak tahu apakah beras yang rusak sudah diganti atau belum sebelum sampai ke masyarakat.

“Karena betul-betul kita kawal sampai delivered sesuai pesan pak presiden. Jangan hanya dikirim, tapi harus tersampaikan jadi kerugian ditanggung perusahaan pengirim, transporter,” ungkapnya. Saat ini,  penyelidikan kasus masih dilakukan bersama oleh Polri, Irjen Kemensos dan Deputi 1 Kemenko PMK.

“Jadi jawaban saya sementara berpegang pada pernyataan JNE. Kalau itu benar, berarti beras rusak, dan beras rusak itu memang tidak boleh dibagikan kepada masyarakat. Kita sangat correct begitu rusak, tidak boleh, sedangkan waktu itu ada yang sudah sampai ke penduduk kita tarik lagi, termasuk yang tidak rusak. Pokoknya satu truk itu ada yang rusak, sudah yang lain tidak boleh dibagi semua,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/