alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Terbitkan Fatwa Terkait Hewan Kurban

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID- Menjelang Idul Adha 2022, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang hukum dan panduan pelaksanaan kurban saat kondisi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) merepak. Intinya, sapi, kambing, maupun domba yang terjangkit virus PMK, tetap bisa menjadi hewan kurban dengan kondisi tertentu sehingga aman untuk dikonsumsi.

Fatwa tersebut disampaikan Asrorun Niam, Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh di Jakarta ,hal itu dikarenakan pada tanggal 17 Mei lalu, Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan permohonan fatwa pemotongan hewan kurban di tengah wabah pandemi PMK. Setelah itu, dilakukan pendalaman melibatkan ahli terkait di tanggal 27 Mei . Lalu, fatwa dikeluarkan pada 31 Mei.

”Di satu sisi tetap sejalan dengan prinsip syariah. Di sisi lain menghindari masalah atau bahaya, kemudian dari hasil pendalaman diketahui, tingkat penularan virus PMK begitu cepat. Masa inkubasinya 1–14 hari. Penularan melalui kontak langsung maupun airborne atau udara, karena itu hewan terkena PMK memiliki gejala klinis lesu, demam, dan luka lepuh. Gejala klinis tersebut, tidak berpengaruh pada jumlah dan kualitas daging.

Mobile_AP_Rectangle 2

Asrorun menjelaskan, daging hewan yang terinfeksi PMK tetap layak konsumsi. Kemudian, virus PMK tidak menular ke manusia. Lalu, virus PMK langsung mati ketika direbus air mendidih. Kewaspadaan penting dan jangan muncul kepanikan. Di dalam fatwa MUI dijelaskan, hewan terkena PMK dengan gejala klinis kategori ringan hukumnya sah dijadikan hewan kurban. Gejala ringan itu meliputi lepuh ringan pada celah kuku, kondisi lesu dan tidak nafsu makan,

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID- Menjelang Idul Adha 2022, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang hukum dan panduan pelaksanaan kurban saat kondisi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) merepak. Intinya, sapi, kambing, maupun domba yang terjangkit virus PMK, tetap bisa menjadi hewan kurban dengan kondisi tertentu sehingga aman untuk dikonsumsi.

Fatwa tersebut disampaikan Asrorun Niam, Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh di Jakarta ,hal itu dikarenakan pada tanggal 17 Mei lalu, Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan permohonan fatwa pemotongan hewan kurban di tengah wabah pandemi PMK. Setelah itu, dilakukan pendalaman melibatkan ahli terkait di tanggal 27 Mei . Lalu, fatwa dikeluarkan pada 31 Mei.

”Di satu sisi tetap sejalan dengan prinsip syariah. Di sisi lain menghindari masalah atau bahaya, kemudian dari hasil pendalaman diketahui, tingkat penularan virus PMK begitu cepat. Masa inkubasinya 1–14 hari. Penularan melalui kontak langsung maupun airborne atau udara, karena itu hewan terkena PMK memiliki gejala klinis lesu, demam, dan luka lepuh. Gejala klinis tersebut, tidak berpengaruh pada jumlah dan kualitas daging.

Asrorun menjelaskan, daging hewan yang terinfeksi PMK tetap layak konsumsi. Kemudian, virus PMK tidak menular ke manusia. Lalu, virus PMK langsung mati ketika direbus air mendidih. Kewaspadaan penting dan jangan muncul kepanikan. Di dalam fatwa MUI dijelaskan, hewan terkena PMK dengan gejala klinis kategori ringan hukumnya sah dijadikan hewan kurban. Gejala ringan itu meliputi lepuh ringan pada celah kuku, kondisi lesu dan tidak nafsu makan,

JAKARTA, RADARJEMBER.ID- Menjelang Idul Adha 2022, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang hukum dan panduan pelaksanaan kurban saat kondisi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) merepak. Intinya, sapi, kambing, maupun domba yang terjangkit virus PMK, tetap bisa menjadi hewan kurban dengan kondisi tertentu sehingga aman untuk dikonsumsi.

Fatwa tersebut disampaikan Asrorun Niam, Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh di Jakarta ,hal itu dikarenakan pada tanggal 17 Mei lalu, Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan permohonan fatwa pemotongan hewan kurban di tengah wabah pandemi PMK. Setelah itu, dilakukan pendalaman melibatkan ahli terkait di tanggal 27 Mei . Lalu, fatwa dikeluarkan pada 31 Mei.

”Di satu sisi tetap sejalan dengan prinsip syariah. Di sisi lain menghindari masalah atau bahaya, kemudian dari hasil pendalaman diketahui, tingkat penularan virus PMK begitu cepat. Masa inkubasinya 1–14 hari. Penularan melalui kontak langsung maupun airborne atau udara, karena itu hewan terkena PMK memiliki gejala klinis lesu, demam, dan luka lepuh. Gejala klinis tersebut, tidak berpengaruh pada jumlah dan kualitas daging.

Asrorun menjelaskan, daging hewan yang terinfeksi PMK tetap layak konsumsi. Kemudian, virus PMK tidak menular ke manusia. Lalu, virus PMK langsung mati ketika direbus air mendidih. Kewaspadaan penting dan jangan muncul kepanikan. Di dalam fatwa MUI dijelaskan, hewan terkena PMK dengan gejala klinis kategori ringan hukumnya sah dijadikan hewan kurban. Gejala ringan itu meliputi lepuh ringan pada celah kuku, kondisi lesu dan tidak nafsu makan,

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/