alexametrics
21.9 C
Jember
Saturday, 20 August 2022

Kualitas dan Kuantitas SDM Indonesia Jadi Tantangan Transformasi Digital

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Selain kurangnya sumber daya manusia (SDM) dari sisi kuantitas, kurangnya pelamar kerja yang berkualitas dianggap menghambat pertumbuhan perusahaan di Indonesia. Sehingga menjadi tantangan dalam transformasi digital di Indonesia.

Ada kesenjangan antara jumlah lowongan yang terbuka dan jumlah lulusan. Setidaknya ada 600.000 lowongan tenaga kerja setiap tahun, sedangkan jumlah lulusan universitas hanya 50.000 per tahun, seperti dikatakan Roman Kumay Vyas, CEO & Founder Refocus Education Project dikutip dari siaran pers Refocus.

“Jadi, untuk setiap CV ada 12 lowongan yang dibuka sehingga menghasilkan perbedaan yang drastis,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu institusi pendidikan lokal dinilai tidak dapat mengatasi permintaan yang tinggi dari perusahaan sehingga, pengusaha Indonesia pun harus mempekerjakan orang dari negara lain yang memenuhi syarat untuk pekerjaan tersebut.

Pakar Pemasaran dan pemerhati industri rintisan Ignatius Untung mengatakan, guna mencapai transformasi digital perusahaan akan membutuhkan seorang profesional yang mahir di dunia teknologi dan digital.

“Perusahaan akan mencari kandidat dengan keahlian di bidang teknologi, digital, dan e-commerce. Tenaga kerja dengan keterampilan membuat kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, pengalaman menangani pelanggan dan pengembangan produk akan sangat dibutuhkan ke depannya,” katanya.

Imeiniar Chandra, Director of Digital & Technology dari Michael Page menambahkan, di sisi lain dalam mencari pekerjaan, karyawan semakin tegas menentukan pilihan mereka.

Perusahaan tidak bisa lagi menarik dan mempertahankan talenta tanpa menerapkan faktor-faktor pendukung lain. Talenta-talenta semakin mementingkan budaya perusahaan, tujuan perusahaan dan kepemimpinan dibandingkan merek perusahaan dan promosi.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Selain kurangnya sumber daya manusia (SDM) dari sisi kuantitas, kurangnya pelamar kerja yang berkualitas dianggap menghambat pertumbuhan perusahaan di Indonesia. Sehingga menjadi tantangan dalam transformasi digital di Indonesia.

Ada kesenjangan antara jumlah lowongan yang terbuka dan jumlah lulusan. Setidaknya ada 600.000 lowongan tenaga kerja setiap tahun, sedangkan jumlah lulusan universitas hanya 50.000 per tahun, seperti dikatakan Roman Kumay Vyas, CEO & Founder Refocus Education Project dikutip dari siaran pers Refocus.

“Jadi, untuk setiap CV ada 12 lowongan yang dibuka sehingga menghasilkan perbedaan yang drastis,” katanya.

Sementara itu institusi pendidikan lokal dinilai tidak dapat mengatasi permintaan yang tinggi dari perusahaan sehingga, pengusaha Indonesia pun harus mempekerjakan orang dari negara lain yang memenuhi syarat untuk pekerjaan tersebut.

Pakar Pemasaran dan pemerhati industri rintisan Ignatius Untung mengatakan, guna mencapai transformasi digital perusahaan akan membutuhkan seorang profesional yang mahir di dunia teknologi dan digital.

“Perusahaan akan mencari kandidat dengan keahlian di bidang teknologi, digital, dan e-commerce. Tenaga kerja dengan keterampilan membuat kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, pengalaman menangani pelanggan dan pengembangan produk akan sangat dibutuhkan ke depannya,” katanya.

Imeiniar Chandra, Director of Digital & Technology dari Michael Page menambahkan, di sisi lain dalam mencari pekerjaan, karyawan semakin tegas menentukan pilihan mereka.

Perusahaan tidak bisa lagi menarik dan mempertahankan talenta tanpa menerapkan faktor-faktor pendukung lain. Talenta-talenta semakin mementingkan budaya perusahaan, tujuan perusahaan dan kepemimpinan dibandingkan merek perusahaan dan promosi.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Selain kurangnya sumber daya manusia (SDM) dari sisi kuantitas, kurangnya pelamar kerja yang berkualitas dianggap menghambat pertumbuhan perusahaan di Indonesia. Sehingga menjadi tantangan dalam transformasi digital di Indonesia.

Ada kesenjangan antara jumlah lowongan yang terbuka dan jumlah lulusan. Setidaknya ada 600.000 lowongan tenaga kerja setiap tahun, sedangkan jumlah lulusan universitas hanya 50.000 per tahun, seperti dikatakan Roman Kumay Vyas, CEO & Founder Refocus Education Project dikutip dari siaran pers Refocus.

“Jadi, untuk setiap CV ada 12 lowongan yang dibuka sehingga menghasilkan perbedaan yang drastis,” katanya.

Sementara itu institusi pendidikan lokal dinilai tidak dapat mengatasi permintaan yang tinggi dari perusahaan sehingga, pengusaha Indonesia pun harus mempekerjakan orang dari negara lain yang memenuhi syarat untuk pekerjaan tersebut.

Pakar Pemasaran dan pemerhati industri rintisan Ignatius Untung mengatakan, guna mencapai transformasi digital perusahaan akan membutuhkan seorang profesional yang mahir di dunia teknologi dan digital.

“Perusahaan akan mencari kandidat dengan keahlian di bidang teknologi, digital, dan e-commerce. Tenaga kerja dengan keterampilan membuat kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, pengalaman menangani pelanggan dan pengembangan produk akan sangat dibutuhkan ke depannya,” katanya.

Imeiniar Chandra, Director of Digital & Technology dari Michael Page menambahkan, di sisi lain dalam mencari pekerjaan, karyawan semakin tegas menentukan pilihan mereka.

Perusahaan tidak bisa lagi menarik dan mempertahankan talenta tanpa menerapkan faktor-faktor pendukung lain. Talenta-talenta semakin mementingkan budaya perusahaan, tujuan perusahaan dan kepemimpinan dibandingkan merek perusahaan dan promosi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/