Radar Jember - Francesco Bagnaia menutup sesi tes pramusim di Sepang, Malaysia, dengan senyum kepuasan.
Meski namanya hanya nangkring di urutan kelima klasemen waktu tercepat, terpaut 0,5 detik dari Alex Marquez, pembalap utama Ducati ini mengaku tidak ambil pusing dengan catatan waktu lap tunggal.
Bagi pria yang akrab disapa Pecco itu, substansi jauh lebih penting daripada sekadar angka di papan skor.
Simulasi sprint race yang ia jalani menjadi indikator utama kemajuannya.
“Kondisi treknya luar biasa, semakin banyak lap yang kita lakukan, kita semakin cepat melaju. Simulasi sprint sangat cepat, ban tidak aus, dan cengkeramannya sangat bagus,” ungkap Bagnaia.
Ia menyadari bahwa kecepatan Alex Marquez memang impresif, namun ia memiliki prioritas berbeda.
“Saya rasa ini bukan tolok ukur yang akurat untuk balapan, dan Alex Marquez juga sangat cepat. Saya senang dengan kecepatan saya. Tahun lalu saya cepat dalam lap tercepat, tetapi tidak dalam hal kecepatan balapan secara keseluruhan, dan bagi saya, lebih penting untuk melakukan lap yang konsisten dalam latihan daripada sekadar mencetak rekor waktu. Saya puas,” ujar pembalap Italia itu.
Evolusi Desmosedici dan Ancaman Rival
Pendekatan Ducati tahun ini tampaknya lebih inklusif.
Bagnaia menilai pengembangan teknis motor terbaru memberikan dampak positif bagi seluruh penunggang Ducati, bukan hanya untuk dirinya sendiri.
“Perubahan yang dibawa oleh Ducati menguntungkan semua pembalap, bukan hanya saya. Karena tahun lalu, praktis hanya Marc yang mampu tampil konsisten cepat, sementara yang lain lebih kesulitan. Namun, dengan basis motor ini, semua pembalap dapat memperoleh manfaat, termasuk Alex Marquez, yang sangat sensitif terhadap motor dan kami beruntung memilikinya bersama kami,” ungkapnya.
Meski Ducati masih memegang status sebagai motor acuan sejak 2021, murid akademi VR46 ini tetap waspada.
Ia mengakui bahwa pabrikan lawan, terutama Honda dan Aprilia, mulai menunjukkan taringnya.
Kini, fokus Pecco beralih ke tes berikutnya di Thailand untuk mematangkan paket motor 2026 yang ia klaim sudah lebih baik dibanding versi 2025.
Teka-teki Masa Depan: Bertahan atau Hengkang?
Di balik sisi teknis, isu panas mengenai masa depan Pecco mulai mencuat.
Rumor liar menyebutkan kemungkinan pembalap bernomor 63 itu digeser ke tim satelit demi memberi ruang bagi proyek besar Ducati yang melibatkan Marc Marquez dan Pedro Acosta.
Menanggapi hal tersebut, Pecco memberikan jawaban diplomatis namun penuh ketegasan.
“Saya di tim satelit Ducati? Saya percaya diri sebagai pebalap lini terdepan dan ambisi saya jelas. Tanpa tekanan atau terburu-buru, saya akan membuat keputusan yang menurut saya paling tepat,” tegasnya.
Pernyataan ini seolah menjadi sinyal bahwa Pecco tidak akan sudi menerima peran transisi atau "turun kelas" ke tim satelit di masa keemasan kariernya.
Jika Ducati tidak lagi menjadikannya prioritas, opsi hengkang ke Yamaha atau Aprilia bisa saja terbuka.
Meskipun kedua pabrikan tersebut masih memiliki catatan dalam hal performa dan finansial.
Sepang mungkin menjadi saksi bahwa Bagnaia tidak sekadar memacu motor, tapi juga sedang mengirimkan peringatan.
Ia tidak akan menunggu tanpa kepastian dalam rencana yang mungkin tak lagi berpihak padanya.
Editor : Imron Hidayatullahh