“Tempat ini sengaja dibuat untuk mengamati hasil perkebunan di zaman Belanda,” ungkap pengelola objek wisata Rembangan, Sugeng Riyadi. Mengingat, kala itu Rembangan dikelilingi kebun kopi.
Namun, kondisi Rembangan saat itu sangat memprihatinkan. Fasilitasnya masih terdiri atas empat kamar hotel serta restoran yang menunya tidak lengkap, meski lokasi itu kerap difungsikan sebagai tempat pertemuan.
Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan yang terjadi di Indonesia sekitar tahun 1950, Rembangan mulai mendapatkan perhatian dari Pemerintah Daerah Tingkat II Jember. Yakni dengan cara melakukan pengembangan fasilitas-fasilitas yang berkaitan dengan infrastruktur wisata Rembangan. Alhasil, tempat magis ini mampu menarik minat penikmat jasa wisata.
Meningkatnya jumlah konsumen yang menikmati jasa wisata tersebut membuat pemerintah kembali melakukan pembenahan pada 1960. “Pembenahan total dengan menawarkan paket wisata ganda, yaitu objek wisata dan hotel,” ujar Sugeng. Mulai perbaikan dan pembenahan kolam renang, penambahan jumlah kamar hotel, hingga perbaikan restoran dengan menambahkan menu makanan dan minuman.
Objek wisata Rembangan saat itu dipimpin oleh seorang manajer yang berkedudukan sebagai pegawai negeri sipil berdasar peraturan pemerintah. Sebab, pemerintah daerah lebih memercayai golongan pegawai negeri dalam melaksanakan tugasnya. Lebih lanjut, masa kepemimpinan selama lima tahun dan masa jabatan dapat diperpanjang jika kepemimpinannya berprestasi.
Sugeng menyebut bahwa pengembangan internal objek wisata Rembangan masih terus dilakukan setelahnya. Termasuk pengembangan hotel. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan adanya penambahan jumlah tenaga kerja serta perbaikan dan penambahan fasilitas-fasilitas dari tahun ke tahun.
Sementara itu, wisata dengan curah hujan rata-rata 2.426 mm per tahun serta suhu udara berkisar 18-25 derajat Celcius itu menawarkan kesejukan dan keindahan alam lantaran posisinya terletak di lereng pegunungan. Nah, untuk saat ini, dia menjelaskan bahwa masyarakat Jember hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 5 ribu untuk anak-anak dan Rp 7,5 ribu untuk orang dewasa jika hendak menikmati pemandangan Kota Jember dari ketinggian saat berada di Rembangan.
Jurnalis: Isnein Purnomo
Fotografer: Dwi Siswanto
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri