Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKKSDA) Jawa Timur berencana akan membangun tiga blok di pulau terluar Jatim tersebut. Rencana pembangunan ini dilakukan untuk menghidupkan sekaligus menjaga potensi Nusa Barong dari eksploitasi ilegal. Misalnya, pengambilan penyu besar-besaran oleh kapal-kapal dari Bali. Sekaligus sebagai upaya pemanfaatan potensi yang ada di pulau tersebut.
Plh Kepala Bidang BKKSDA wilayah Jember Purwanto mengungkapkan, tiga blok yang akan dibangun itu adalah blok perlindungan, blok khusus, dan blok religi. Blok perlindungan digunakan untuk melindungi segala yang ada di dalam pulau. Untuk selanjutnya dapat dijadikan studi atau penelitian oleh akademisi. “Blok perlindungan ini untuk penelitian, keperluan pendidikan,” katanya, kemarin (23/6).
Blok religi dimaksudkan untuk penguatan kearifan lokal masyarakat. Purwanto menyebut, di Pulau Nusa Barong terdapat makam yang ada sejak lama. Bahkan menjadi pusat ritual masyarakat setempat. Dengan adanya blok religi ini, pihaknya berupaya untuk mengakomodasi keperluan masyarakat.
BACA JUGA : Buka Wisata Kaki Gunung di Agrowisata Boma
Blok itu dibikin karena di pulau tersebut ada menara hasil perjanjian antara BBKSDA Jatim dengan Menteri Perhubungan. Karena itu, nantinya akan menjadi area khusus. Dengan adanya pemetaan seperti ini, pihaknya dapat melakukan pengelolaan spesifik area pulau. Dari pemetaan awal itu, pihaknya akan melakukan pemetaan lebih spesifik lagi untuk pengembangan.
Kepala Desa Puger Kulon Nurhasan mengungkapkan, adanya pemetaan blok-blok ini menjadi upaya untuk mengamankan Pulau Nusa Barong. Sebab, kata dia, selama ini pihaknya banyak mendapati laporan tentang pengambilan telur penyu serta induknya secara ilegal. Selama ini, upaya pencegahan itu hanya berbentuk larangan dari masyarakat. Setelahnya, tidak ada hukuman yang bisa membikin pelaku jera. Akibatnya, perbuatan ilegal itu selalu terulang kembali. “Kalau ketemu masyarakat, ya diusir. Disuruh pergi. Itu pun kadang masih balik lagi,” ungkapnya.
Menurutnya, para perburuan telur penyu ini umumnya dilakukan pada musim angin barat. Kira-kira antara Desember hingga Januari. Bahkan para pelaku tak hanya memburu telur, tapi juga penyu dengan cara menjaring. “Laut kan sepi karena tidak ada nelayan yang melaut. Sehingga pelaku leluasa mencuri penyu,” ungkap Nurhasan.
Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dian Cahyani
Redaktur : Mahrus Sholih Editor : Radar Digital