Seperti berang-berang milik Muhammad Febri Nur. Dia tampak asyik menggendong berang-berang menggemaskan, layaknya menggendong seekor kucing. Pria asal Ajung ini menyebut, berang-berang miliknya sudah jinak. “Kalau ke orang lain kadang masih menggigit. Jadi, tidak bisa digendong orang lain,” kata Febri kepada Jawa Pos Radar Jember.
Febri, yang merupakan anggota komunitas Jember Civet Community (JCC) ini, juga menjelaskan, sejatinya di Jember cukup banyak masyarakat yang memiliki berang-berang. Namun, berang-berang masih sulit didapatkan, sehingga pemiliknya cukup terbatas.
Dirinya juga menyebut, hewan jenis apa pun sebenarnya baik untuk dirawat. Namun, kembali pada orang yang memeliharanya apakah, sabar atau tidak. “Ini bisa jadi alternatif peliharaan. Tetapi, lebih baik memelihara hewan yang disukai,” bebernya.
Sementara itu, Afiasari, warga Mangli, mengaku juga menyukai berang-berang. Dia pun asyik bermain dengan sejumlah berang-berang yang dibawa komunitas JCC saat berlibur ke Alun-Alun Jember, beberapa waktu lalu. Namun, karena kesibukannya, dia tidak sempat merawat hewan kesukaannya itu. “Saya suka juga berang-berang, tetapi belum punya waktu. Mungkin kapan-kapan,” pungkasnya. Editor : Safitri