alexametrics
24.5 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Musik Patrol Lebih Nyaring Pakai Kayu Nangka

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Musik patrol telah dinobatkan sebagai musik khas Jember. Biasa dimainkan secara berkelompok dengan berbagai jenis alat musik. Ada pula vokalis yang menyanyikan lagu mengiringi musik patrol.

Baca Juga: Musik Patrol Asyik Mainnya, Enak Ditelinga

Purnomo Hadi Handoko Ketua Paguyuban Patrol Jember (PSMPJ) mengungkapkan, lagu pengiringnya, pada dasarnya berbahasa Madura. Khususnya lagu-lagu daerah Jember sendiri. Seperti lagu Watu Ulo yang diciptakan oleh Misnawar, penggagas sekaligus penasehat paguyuban PSMPJ. “Kalau untuk sekarang, menyesuaikan zaman, bisa pakai lagu apa saja,” tuturnya.

Sejak digagas pertama kali pada 1988, kini ada 20 grup musik patrol yang tergabung menjadi anggota PSMPJ. Tersebar di berbagai daerah di Jember. Jika dihitung secara keseluruhan, kata Purnomo, sebenarnya ada 50 lebih grup.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ada berbagai jenis alat musik yang dimainkan sehingga menjadi satu kesatuan musik yang padu. Hampir semuanya terbuat dari kayu. Seperti remo, bass, kontra bass, tengtong keter, selingan, ada juga tambahan alat musik gendang, tamborin kenong, hingga seruling.

Kayu yang dipakai untuk membuat alat musik patrol tidak sembarangan, yakni kayu nangka. Didik Afriyanto ketua Hastra 132 salah satu grup PSMPJ membeberkan, dipilihnya kayu nangka karena kekhasan suara yang dihasilkan. “Suaranya lebih nyaring, berbeda dengan kayu lainnya,” kata Didik.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Musik patrol telah dinobatkan sebagai musik khas Jember. Biasa dimainkan secara berkelompok dengan berbagai jenis alat musik. Ada pula vokalis yang menyanyikan lagu mengiringi musik patrol.

Baca Juga: Musik Patrol Asyik Mainnya, Enak Ditelinga

Purnomo Hadi Handoko Ketua Paguyuban Patrol Jember (PSMPJ) mengungkapkan, lagu pengiringnya, pada dasarnya berbahasa Madura. Khususnya lagu-lagu daerah Jember sendiri. Seperti lagu Watu Ulo yang diciptakan oleh Misnawar, penggagas sekaligus penasehat paguyuban PSMPJ. “Kalau untuk sekarang, menyesuaikan zaman, bisa pakai lagu apa saja,” tuturnya.

Sejak digagas pertama kali pada 1988, kini ada 20 grup musik patrol yang tergabung menjadi anggota PSMPJ. Tersebar di berbagai daerah di Jember. Jika dihitung secara keseluruhan, kata Purnomo, sebenarnya ada 50 lebih grup.

Ada berbagai jenis alat musik yang dimainkan sehingga menjadi satu kesatuan musik yang padu. Hampir semuanya terbuat dari kayu. Seperti remo, bass, kontra bass, tengtong keter, selingan, ada juga tambahan alat musik gendang, tamborin kenong, hingga seruling.

Kayu yang dipakai untuk membuat alat musik patrol tidak sembarangan, yakni kayu nangka. Didik Afriyanto ketua Hastra 132 salah satu grup PSMPJ membeberkan, dipilihnya kayu nangka karena kekhasan suara yang dihasilkan. “Suaranya lebih nyaring, berbeda dengan kayu lainnya,” kata Didik.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Musik patrol telah dinobatkan sebagai musik khas Jember. Biasa dimainkan secara berkelompok dengan berbagai jenis alat musik. Ada pula vokalis yang menyanyikan lagu mengiringi musik patrol.

Baca Juga: Musik Patrol Asyik Mainnya, Enak Ditelinga

Purnomo Hadi Handoko Ketua Paguyuban Patrol Jember (PSMPJ) mengungkapkan, lagu pengiringnya, pada dasarnya berbahasa Madura. Khususnya lagu-lagu daerah Jember sendiri. Seperti lagu Watu Ulo yang diciptakan oleh Misnawar, penggagas sekaligus penasehat paguyuban PSMPJ. “Kalau untuk sekarang, menyesuaikan zaman, bisa pakai lagu apa saja,” tuturnya.

Sejak digagas pertama kali pada 1988, kini ada 20 grup musik patrol yang tergabung menjadi anggota PSMPJ. Tersebar di berbagai daerah di Jember. Jika dihitung secara keseluruhan, kata Purnomo, sebenarnya ada 50 lebih grup.

Ada berbagai jenis alat musik yang dimainkan sehingga menjadi satu kesatuan musik yang padu. Hampir semuanya terbuat dari kayu. Seperti remo, bass, kontra bass, tengtong keter, selingan, ada juga tambahan alat musik gendang, tamborin kenong, hingga seruling.

Kayu yang dipakai untuk membuat alat musik patrol tidak sembarangan, yakni kayu nangka. Didik Afriyanto ketua Hastra 132 salah satu grup PSMPJ membeberkan, dipilihnya kayu nangka karena kekhasan suara yang dihasilkan. “Suaranya lebih nyaring, berbeda dengan kayu lainnya,” kata Didik.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/