alexametrics
23.6 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Dakwah dengan Tembang Tradisional

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kitab Bayt Dua Belas tercipta di Pondok Pesantren Nahdlatul Arifin, Kemuning Lor, Kecamatan Panti. Kitab ini diajarkan menggunakan tembang agar masyarakat setempat lebih fleksibel mengingat dan tidak monoton dalam mempelajarinya.

Ketua Yayasan Nadlatul Arifin Akmad Khudory mengungkapkan bahwa cara ini dianggap efektif mengumpulkan masyarakat untuk belajar agama. Baik belajar tentang fikih maupun akidah.

Menurutnya, jika pengajaran kitab tanpa menggunakan unsur kebudayaan, maka masyarakat akan menganggap sebagai salah satu aliran yang ekstrem. “Kami melakukan pendekatan budaya dengan teknik tembang. Ini lebih enak. Lebih bisa diterima,” ujar Khudory.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kitab Bayt Dua Belas tercipta di Pondok Pesantren Nahdlatul Arifin, Kemuning Lor, Kecamatan Panti. Kitab ini diajarkan menggunakan tembang agar masyarakat setempat lebih fleksibel mengingat dan tidak monoton dalam mempelajarinya.

Ketua Yayasan Nadlatul Arifin Akmad Khudory mengungkapkan bahwa cara ini dianggap efektif mengumpulkan masyarakat untuk belajar agama. Baik belajar tentang fikih maupun akidah.

Menurutnya, jika pengajaran kitab tanpa menggunakan unsur kebudayaan, maka masyarakat akan menganggap sebagai salah satu aliran yang ekstrem. “Kami melakukan pendekatan budaya dengan teknik tembang. Ini lebih enak. Lebih bisa diterima,” ujar Khudory.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kitab Bayt Dua Belas tercipta di Pondok Pesantren Nahdlatul Arifin, Kemuning Lor, Kecamatan Panti. Kitab ini diajarkan menggunakan tembang agar masyarakat setempat lebih fleksibel mengingat dan tidak monoton dalam mempelajarinya.

Ketua Yayasan Nadlatul Arifin Akmad Khudory mengungkapkan bahwa cara ini dianggap efektif mengumpulkan masyarakat untuk belajar agama. Baik belajar tentang fikih maupun akidah.

Menurutnya, jika pengajaran kitab tanpa menggunakan unsur kebudayaan, maka masyarakat akan menganggap sebagai salah satu aliran yang ekstrem. “Kami melakukan pendekatan budaya dengan teknik tembang. Ini lebih enak. Lebih bisa diterima,” ujar Khudory.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/