alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Cenil dan Lupis Tetap Eksis meski Puluhan Tahun Terlewati

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi masyarakat awam, jajanan tradisional bisa jadi merupakan bagian dari kenangan mereka saat bersekolah dulu. Tak heran, cenil dan kawan-kawannya disebut jajanan legend. Jauh sebelum jajanan modern ada, cenil, lupis, dan kawan-kawannya itu sudah eksis terlebih dulu. Bedanya hanyalah, penganan ini belum tersedia di toko modern.
Siti Ruqayah, penjual jajanan tradisional itu membenarkan. Saat ditanya kenapa cenil dan lupis itu masih eksis, ibu dua anak itu menjawab yakin. “Masih banyak yang mencari tiap hari. Buktinya dagangan saya selalu habis,” ujar Mak Yah, sapaan pedagang pasar saat itu.
Warga Dusun Krajan Nogosari, Kecamatan Rambipuji, ini sehari-hari memang berjualan jajanan pasar di Pasar Anyar Nogosari. Bahkan, sejak tahun 1960-an, cenil dan lupis Mak Yah sudah ada di lingkungan tersebut. “Sudah lama, ibu saya jualan lupis sejak 1969 di Pasar Anyar ini. Lalu saya meneruskan jualan ibu, sejak 1995. Jadi, sekitar 25 tahun saya jualan ini,” akunya.
Resep dari ibunya dijaga betul. Tak heran, pelanggannya nyaris tak pernah sepi, hingga usahanya berlanjut lintas generasi. Mak Yah cukup percaya, meskipun hanya merupakan jajanan tradisional, namun rasa dan kualitasnya tak akan kalah saing dengan jajanan modern. “Alhamdulillah, tiap hari bawa, tiap hari habis pula,” katanya.
Di rumahnya, dia biasanya menyiapkan jajanan tersebut saat menjelang sore hingga malam hari. Usai matahari terbit, jajan buatan Mak Yah sudah siap santap. Hanya dibanderol Rp 500 per biji, jajan bikinannya sudah berhasil merebut hati para pelanggan semua kalangan usia.
Menurut dia, kunci resepnya dua. Yakni menjaga cita rasa manisnya dan tekstur makanan tersebut. “Kalau disebut jajan legenda, ya memang legenda. Karena sejak 1960-an, orang tua saya sudah jualan. Bisa jadi, di tempat lain, lebih lama,” pungkasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi masyarakat awam, jajanan tradisional bisa jadi merupakan bagian dari kenangan mereka saat bersekolah dulu. Tak heran, cenil dan kawan-kawannya disebut jajanan legend. Jauh sebelum jajanan modern ada, cenil, lupis, dan kawan-kawannya itu sudah eksis terlebih dulu. Bedanya hanyalah, penganan ini belum tersedia di toko modern.
Siti Ruqayah, penjual jajanan tradisional itu membenarkan. Saat ditanya kenapa cenil dan lupis itu masih eksis, ibu dua anak itu menjawab yakin. “Masih banyak yang mencari tiap hari. Buktinya dagangan saya selalu habis,” ujar Mak Yah, sapaan pedagang pasar saat itu.
Warga Dusun Krajan Nogosari, Kecamatan Rambipuji, ini sehari-hari memang berjualan jajanan pasar di Pasar Anyar Nogosari. Bahkan, sejak tahun 1960-an, cenil dan lupis Mak Yah sudah ada di lingkungan tersebut. “Sudah lama, ibu saya jualan lupis sejak 1969 di Pasar Anyar ini. Lalu saya meneruskan jualan ibu, sejak 1995. Jadi, sekitar 25 tahun saya jualan ini,” akunya.
Resep dari ibunya dijaga betul. Tak heran, pelanggannya nyaris tak pernah sepi, hingga usahanya berlanjut lintas generasi. Mak Yah cukup percaya, meskipun hanya merupakan jajanan tradisional, namun rasa dan kualitasnya tak akan kalah saing dengan jajanan modern. “Alhamdulillah, tiap hari bawa, tiap hari habis pula,” katanya.
Di rumahnya, dia biasanya menyiapkan jajanan tersebut saat menjelang sore hingga malam hari. Usai matahari terbit, jajan buatan Mak Yah sudah siap santap. Hanya dibanderol Rp 500 per biji, jajan bikinannya sudah berhasil merebut hati para pelanggan semua kalangan usia.
Menurut dia, kunci resepnya dua. Yakni menjaga cita rasa manisnya dan tekstur makanan tersebut. “Kalau disebut jajan legenda, ya memang legenda. Karena sejak 1960-an, orang tua saya sudah jualan. Bisa jadi, di tempat lain, lebih lama,” pungkasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi masyarakat awam, jajanan tradisional bisa jadi merupakan bagian dari kenangan mereka saat bersekolah dulu. Tak heran, cenil dan kawan-kawannya disebut jajanan legend. Jauh sebelum jajanan modern ada, cenil, lupis, dan kawan-kawannya itu sudah eksis terlebih dulu. Bedanya hanyalah, penganan ini belum tersedia di toko modern.
Siti Ruqayah, penjual jajanan tradisional itu membenarkan. Saat ditanya kenapa cenil dan lupis itu masih eksis, ibu dua anak itu menjawab yakin. “Masih banyak yang mencari tiap hari. Buktinya dagangan saya selalu habis,” ujar Mak Yah, sapaan pedagang pasar saat itu.
Warga Dusun Krajan Nogosari, Kecamatan Rambipuji, ini sehari-hari memang berjualan jajanan pasar di Pasar Anyar Nogosari. Bahkan, sejak tahun 1960-an, cenil dan lupis Mak Yah sudah ada di lingkungan tersebut. “Sudah lama, ibu saya jualan lupis sejak 1969 di Pasar Anyar ini. Lalu saya meneruskan jualan ibu, sejak 1995. Jadi, sekitar 25 tahun saya jualan ini,” akunya.
Resep dari ibunya dijaga betul. Tak heran, pelanggannya nyaris tak pernah sepi, hingga usahanya berlanjut lintas generasi. Mak Yah cukup percaya, meskipun hanya merupakan jajanan tradisional, namun rasa dan kualitasnya tak akan kalah saing dengan jajanan modern. “Alhamdulillah, tiap hari bawa, tiap hari habis pula,” katanya.
Di rumahnya, dia biasanya menyiapkan jajanan tersebut saat menjelang sore hingga malam hari. Usai matahari terbit, jajan buatan Mak Yah sudah siap santap. Hanya dibanderol Rp 500 per biji, jajan bikinannya sudah berhasil merebut hati para pelanggan semua kalangan usia.
Menurut dia, kunci resepnya dua. Yakni menjaga cita rasa manisnya dan tekstur makanan tersebut. “Kalau disebut jajan legenda, ya memang legenda. Karena sejak 1960-an, orang tua saya sudah jualan. Bisa jadi, di tempat lain, lebih lama,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/