alexametrics
31.2 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Langsung Ludes Selepas Petang

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hadir setiap hari Warung Tera selalu didatangi pengunjung yang rindu cita rasa rempah ala Timur Tengah. Namun, tak banyak yang tahu bahwa resep nasi kebuli di Warung Tera sudah dikenalkan ke masyarakat Jember sejak 16 tahun silam.

Ya, rumah makan ini didirikan oleh Yahya, pria keturunan Arab yang pernah menghabiskan separuh hidupnya di Gresik. Ayah dari empat anak ini mendirikan Warung Tera 16 tahun silam. Dan saat itu pula, Warung Tera menjadi rujukan kuliner untuk menu khas Timur Tengah.

Yahya mengungkapkan, konsep menu Timur Tengah diusung lantaran terinspirasi dengan keberadaan warung Timur Tengah yang relatif mudah ditemukan di Surabaya. Saat itu, mobilitas Yahya ke Surabaya cukup padat untuk keperluan pekerjaannya. “Di Jember masih belum ada menu makanan yang benar-benar khas Arab. Nasi kebuli salah satunya,” kenang Yahya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebab lain Yahya membuka warung khas Timur tengah adalah untuk menghidangkan menu kepada para kolega kerjanya dari luar kota yang sedang berkunjung. Saat itu, Yahya kerap menjamu para tamunya dengan menu nasi goreng dan menu makanan lainnya yang relatif familier di banyak tempat. “Sampai saat itu ada teman saya yang bilang, nggak ada menu lainnya ta,” imbuhnya.

Kedua sebab inilah yang membuat Yahya nekat membuka warung khas Timur Tengah. Pelanggan yang datang tak hanya dari Jember, namun hingga dari luar kota. Dalam waktu singkat, nasi kebuli andalan pun cepat ludes.

Dalam satu hari, Yahya mampu memasak hingga 20 kilogram beras untuk hidangan nasi kebuli. “Namun, sejak pandemi ini cuma masak tiga kilogram saja. Jadi, sangat cepat habis,” imbuh pria berusia 60 tahun tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hadir setiap hari Warung Tera selalu didatangi pengunjung yang rindu cita rasa rempah ala Timur Tengah. Namun, tak banyak yang tahu bahwa resep nasi kebuli di Warung Tera sudah dikenalkan ke masyarakat Jember sejak 16 tahun silam.

Ya, rumah makan ini didirikan oleh Yahya, pria keturunan Arab yang pernah menghabiskan separuh hidupnya di Gresik. Ayah dari empat anak ini mendirikan Warung Tera 16 tahun silam. Dan saat itu pula, Warung Tera menjadi rujukan kuliner untuk menu khas Timur Tengah.

Yahya mengungkapkan, konsep menu Timur Tengah diusung lantaran terinspirasi dengan keberadaan warung Timur Tengah yang relatif mudah ditemukan di Surabaya. Saat itu, mobilitas Yahya ke Surabaya cukup padat untuk keperluan pekerjaannya. “Di Jember masih belum ada menu makanan yang benar-benar khas Arab. Nasi kebuli salah satunya,” kenang Yahya.

Sebab lain Yahya membuka warung khas Timur tengah adalah untuk menghidangkan menu kepada para kolega kerjanya dari luar kota yang sedang berkunjung. Saat itu, Yahya kerap menjamu para tamunya dengan menu nasi goreng dan menu makanan lainnya yang relatif familier di banyak tempat. “Sampai saat itu ada teman saya yang bilang, nggak ada menu lainnya ta,” imbuhnya.

Kedua sebab inilah yang membuat Yahya nekat membuka warung khas Timur Tengah. Pelanggan yang datang tak hanya dari Jember, namun hingga dari luar kota. Dalam waktu singkat, nasi kebuli andalan pun cepat ludes.

Dalam satu hari, Yahya mampu memasak hingga 20 kilogram beras untuk hidangan nasi kebuli. “Namun, sejak pandemi ini cuma masak tiga kilogram saja. Jadi, sangat cepat habis,” imbuh pria berusia 60 tahun tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hadir setiap hari Warung Tera selalu didatangi pengunjung yang rindu cita rasa rempah ala Timur Tengah. Namun, tak banyak yang tahu bahwa resep nasi kebuli di Warung Tera sudah dikenalkan ke masyarakat Jember sejak 16 tahun silam.

Ya, rumah makan ini didirikan oleh Yahya, pria keturunan Arab yang pernah menghabiskan separuh hidupnya di Gresik. Ayah dari empat anak ini mendirikan Warung Tera 16 tahun silam. Dan saat itu pula, Warung Tera menjadi rujukan kuliner untuk menu khas Timur Tengah.

Yahya mengungkapkan, konsep menu Timur Tengah diusung lantaran terinspirasi dengan keberadaan warung Timur Tengah yang relatif mudah ditemukan di Surabaya. Saat itu, mobilitas Yahya ke Surabaya cukup padat untuk keperluan pekerjaannya. “Di Jember masih belum ada menu makanan yang benar-benar khas Arab. Nasi kebuli salah satunya,” kenang Yahya.

Sebab lain Yahya membuka warung khas Timur tengah adalah untuk menghidangkan menu kepada para kolega kerjanya dari luar kota yang sedang berkunjung. Saat itu, Yahya kerap menjamu para tamunya dengan menu nasi goreng dan menu makanan lainnya yang relatif familier di banyak tempat. “Sampai saat itu ada teman saya yang bilang, nggak ada menu lainnya ta,” imbuhnya.

Kedua sebab inilah yang membuat Yahya nekat membuka warung khas Timur Tengah. Pelanggan yang datang tak hanya dari Jember, namun hingga dari luar kota. Dalam waktu singkat, nasi kebuli andalan pun cepat ludes.

Dalam satu hari, Yahya mampu memasak hingga 20 kilogram beras untuk hidangan nasi kebuli. “Namun, sejak pandemi ini cuma masak tiga kilogram saja. Jadi, sangat cepat habis,” imbuh pria berusia 60 tahun tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/