alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Terhanyut Suara Denting Mendayu Alat Musik Sape

Belum begitu banyak orang yang dapat bermain sape di Kabupaten Jember. Bisa jadi, cukup dihitung dengan jari. Alat musik tradisional tersebut terdengar sendu, mendayu-dayu, dan menghanyutkan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alunan sape begitu indah mengalun dari petikan jari Rizky Kumala Permadi, malam itu. Rizky memang bukan orang pertama yang memainkannya di Jember. Bisa jadi ada sekian orang yang telah memainkannya. Akan tetapi, pemain sape sangat jarang ditemukan, khususnya di Kota Pesantren tercinta ini. Maklum, alat musik tradisional itu diyakini berasal dari suku Dayak, Kalimantan Barat.

Di tengah rintik hujan, pria yang akrab disapa Kelik ini memainkan sape di teras rumahnya. Dia memainkan lagu-lagu tradisional khas Kalimantan di sekitar deretan rumah warga, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember.

Di tengah perkembangan zaman inilah, sape tidak terbatas pada permainan musik tradisional, melainkan masuk pada kombinasi musik modern. Sape yang dipegangnya bahkan pernah mengharumkan nama Jember bersama Lingkar Kreatif Independen (Linkrafin).

Mobile_AP_Rectangle 2

Bermain sape, menurutnya, harus menjiwai. Keberadaan alat musik tersebut lebih banyak mengandalkan permainan cengkok yang menghasilkan suara mendayu-dayu. “Andalan sape adalah suara cengkoknya. Ini yang membuat berbeda dengan yang lain,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alunan sape begitu indah mengalun dari petikan jari Rizky Kumala Permadi, malam itu. Rizky memang bukan orang pertama yang memainkannya di Jember. Bisa jadi ada sekian orang yang telah memainkannya. Akan tetapi, pemain sape sangat jarang ditemukan, khususnya di Kota Pesantren tercinta ini. Maklum, alat musik tradisional itu diyakini berasal dari suku Dayak, Kalimantan Barat.

Di tengah rintik hujan, pria yang akrab disapa Kelik ini memainkan sape di teras rumahnya. Dia memainkan lagu-lagu tradisional khas Kalimantan di sekitar deretan rumah warga, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember.

Di tengah perkembangan zaman inilah, sape tidak terbatas pada permainan musik tradisional, melainkan masuk pada kombinasi musik modern. Sape yang dipegangnya bahkan pernah mengharumkan nama Jember bersama Lingkar Kreatif Independen (Linkrafin).

Bermain sape, menurutnya, harus menjiwai. Keberadaan alat musik tersebut lebih banyak mengandalkan permainan cengkok yang menghasilkan suara mendayu-dayu. “Andalan sape adalah suara cengkoknya. Ini yang membuat berbeda dengan yang lain,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alunan sape begitu indah mengalun dari petikan jari Rizky Kumala Permadi, malam itu. Rizky memang bukan orang pertama yang memainkannya di Jember. Bisa jadi ada sekian orang yang telah memainkannya. Akan tetapi, pemain sape sangat jarang ditemukan, khususnya di Kota Pesantren tercinta ini. Maklum, alat musik tradisional itu diyakini berasal dari suku Dayak, Kalimantan Barat.

Di tengah rintik hujan, pria yang akrab disapa Kelik ini memainkan sape di teras rumahnya. Dia memainkan lagu-lagu tradisional khas Kalimantan di sekitar deretan rumah warga, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember.

Di tengah perkembangan zaman inilah, sape tidak terbatas pada permainan musik tradisional, melainkan masuk pada kombinasi musik modern. Sape yang dipegangnya bahkan pernah mengharumkan nama Jember bersama Lingkar Kreatif Independen (Linkrafin).

Bermain sape, menurutnya, harus menjiwai. Keberadaan alat musik tersebut lebih banyak mengandalkan permainan cengkok yang menghasilkan suara mendayu-dayu. “Andalan sape adalah suara cengkoknya. Ini yang membuat berbeda dengan yang lain,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/