alexametrics
28.7 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Prospektif Dikembangkan untuk Wisata

Potensi Kreasi Produk Anyaman Bambu

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Produksi anyaman bambu untuk alat rumah tangga berupa tempat nasi dan perabotan lainnya sejatinya masih prospektif. Meski eksistensinya mulai berkurang, prospeknya masih cukup besar.

Seperti halnya terjadi di Dusun Ampo, Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi. Setidaknya terdapat lebih dari lima perajin bambu yang konsisten memproduksi alat rumah tangga. Salah satu perajin dan pengepul di sana adalah Agus. Dalam sepekan, pria berusia 46 tahun ini dapat menjual lebih dari 200 tempat nasi, kalluh atau wadah sayuran, dan kesseh atau tempat sayuran berbentuk kubus. “Bahkan, kadang bisa satu pikap untuk sekali distribusi ke daerah lain,” ujarnya.

Hasil produksi tersebut dikirimkan ke beberapa daerah seperti Bali, Banyuwangi, Situbondo, dan Pasuruan. Dirinya mengaku, permintaan banyak datang dari Bali dan Banyuwangi. “Dua daerah ini nyaris tidak pernah absen memesan dengan jumlah besar. Cuma pas pandemi, pesanannya menurun. Yang biasanya ngambil satu pikap untuk di Bali, jadinya mengurangi banyak,” kata Agus, Kamis (18/3).

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menambahkan, kala dikirim ke Banyuwangi, produk anyamannya akan dimodifikasi lagi dengan tambahan aksesori. Selain itu, fungsinya pun diubah. Misalnya, wadah yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan nasi akan digunakan sebagai hiasan ruangan. “Sudah sampai di Banyuwangi, kadang sama pembelinya diubah ditambahi cat. Itu katanya untuk keperluan wisata,” imbuh Agus.

Untuk wilayah Jember, permintaan produk ayaman bambu tidak begitu banyak. Agus mengungkapkan, permintaannya hanya pada pasar-pasar tradisonal, yang meliputi Pasar Ambulu, Kencong, dan Balung. Selebihnya, masyarakat setempat menjual dengan sistem keliling dari satu tempat ke tempat lain.

Sementara itu, salah seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah yang sedang bertugas di Desa Dukuhmencek, Enggar Teguh Mustiko, menerangkan, salah satu aspek yang menyebabkan tidak berkembangnya para perajin anyaman bambu secara finansial adalah minimnya pemasaran untuk menjaring konsumen. Hingga saat ini, perajin anyaman bambu di Desa Dukuhmencek masih menggunakan teknik pemasaran konvensional. “Masyarakat kurang mendapat arahan dan edukasi untuk melakukan pemasaran melalui daring atau online,” kata Enggar.

Padahal, jika dijalankan lebih serius, permintaan akan kerajinan anyaman bambu bisa terus meningkat untuk kebutuhan sektor pariwisata. Beberapa daerah yang memiliki kemajuan di sektor pariwisata akan memilih untuk menggunakan perabotan tradisonal, termasuk perabotan dari anyaman bambu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Produksi anyaman bambu untuk alat rumah tangga berupa tempat nasi dan perabotan lainnya sejatinya masih prospektif. Meski eksistensinya mulai berkurang, prospeknya masih cukup besar.

Seperti halnya terjadi di Dusun Ampo, Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi. Setidaknya terdapat lebih dari lima perajin bambu yang konsisten memproduksi alat rumah tangga. Salah satu perajin dan pengepul di sana adalah Agus. Dalam sepekan, pria berusia 46 tahun ini dapat menjual lebih dari 200 tempat nasi, kalluh atau wadah sayuran, dan kesseh atau tempat sayuran berbentuk kubus. “Bahkan, kadang bisa satu pikap untuk sekali distribusi ke daerah lain,” ujarnya.

Hasil produksi tersebut dikirimkan ke beberapa daerah seperti Bali, Banyuwangi, Situbondo, dan Pasuruan. Dirinya mengaku, permintaan banyak datang dari Bali dan Banyuwangi. “Dua daerah ini nyaris tidak pernah absen memesan dengan jumlah besar. Cuma pas pandemi, pesanannya menurun. Yang biasanya ngambil satu pikap untuk di Bali, jadinya mengurangi banyak,” kata Agus, Kamis (18/3).

Dia menambahkan, kala dikirim ke Banyuwangi, produk anyamannya akan dimodifikasi lagi dengan tambahan aksesori. Selain itu, fungsinya pun diubah. Misalnya, wadah yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan nasi akan digunakan sebagai hiasan ruangan. “Sudah sampai di Banyuwangi, kadang sama pembelinya diubah ditambahi cat. Itu katanya untuk keperluan wisata,” imbuh Agus.

Untuk wilayah Jember, permintaan produk ayaman bambu tidak begitu banyak. Agus mengungkapkan, permintaannya hanya pada pasar-pasar tradisonal, yang meliputi Pasar Ambulu, Kencong, dan Balung. Selebihnya, masyarakat setempat menjual dengan sistem keliling dari satu tempat ke tempat lain.

Sementara itu, salah seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah yang sedang bertugas di Desa Dukuhmencek, Enggar Teguh Mustiko, menerangkan, salah satu aspek yang menyebabkan tidak berkembangnya para perajin anyaman bambu secara finansial adalah minimnya pemasaran untuk menjaring konsumen. Hingga saat ini, perajin anyaman bambu di Desa Dukuhmencek masih menggunakan teknik pemasaran konvensional. “Masyarakat kurang mendapat arahan dan edukasi untuk melakukan pemasaran melalui daring atau online,” kata Enggar.

Padahal, jika dijalankan lebih serius, permintaan akan kerajinan anyaman bambu bisa terus meningkat untuk kebutuhan sektor pariwisata. Beberapa daerah yang memiliki kemajuan di sektor pariwisata akan memilih untuk menggunakan perabotan tradisonal, termasuk perabotan dari anyaman bambu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Produksi anyaman bambu untuk alat rumah tangga berupa tempat nasi dan perabotan lainnya sejatinya masih prospektif. Meski eksistensinya mulai berkurang, prospeknya masih cukup besar.

Seperti halnya terjadi di Dusun Ampo, Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi. Setidaknya terdapat lebih dari lima perajin bambu yang konsisten memproduksi alat rumah tangga. Salah satu perajin dan pengepul di sana adalah Agus. Dalam sepekan, pria berusia 46 tahun ini dapat menjual lebih dari 200 tempat nasi, kalluh atau wadah sayuran, dan kesseh atau tempat sayuran berbentuk kubus. “Bahkan, kadang bisa satu pikap untuk sekali distribusi ke daerah lain,” ujarnya.

Hasil produksi tersebut dikirimkan ke beberapa daerah seperti Bali, Banyuwangi, Situbondo, dan Pasuruan. Dirinya mengaku, permintaan banyak datang dari Bali dan Banyuwangi. “Dua daerah ini nyaris tidak pernah absen memesan dengan jumlah besar. Cuma pas pandemi, pesanannya menurun. Yang biasanya ngambil satu pikap untuk di Bali, jadinya mengurangi banyak,” kata Agus, Kamis (18/3).

Dia menambahkan, kala dikirim ke Banyuwangi, produk anyamannya akan dimodifikasi lagi dengan tambahan aksesori. Selain itu, fungsinya pun diubah. Misalnya, wadah yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan nasi akan digunakan sebagai hiasan ruangan. “Sudah sampai di Banyuwangi, kadang sama pembelinya diubah ditambahi cat. Itu katanya untuk keperluan wisata,” imbuh Agus.

Untuk wilayah Jember, permintaan produk ayaman bambu tidak begitu banyak. Agus mengungkapkan, permintaannya hanya pada pasar-pasar tradisonal, yang meliputi Pasar Ambulu, Kencong, dan Balung. Selebihnya, masyarakat setempat menjual dengan sistem keliling dari satu tempat ke tempat lain.

Sementara itu, salah seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah yang sedang bertugas di Desa Dukuhmencek, Enggar Teguh Mustiko, menerangkan, salah satu aspek yang menyebabkan tidak berkembangnya para perajin anyaman bambu secara finansial adalah minimnya pemasaran untuk menjaring konsumen. Hingga saat ini, perajin anyaman bambu di Desa Dukuhmencek masih menggunakan teknik pemasaran konvensional. “Masyarakat kurang mendapat arahan dan edukasi untuk melakukan pemasaran melalui daring atau online,” kata Enggar.

Padahal, jika dijalankan lebih serius, permintaan akan kerajinan anyaman bambu bisa terus meningkat untuk kebutuhan sektor pariwisata. Beberapa daerah yang memiliki kemajuan di sektor pariwisata akan memilih untuk menggunakan perabotan tradisonal, termasuk perabotan dari anyaman bambu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/