alexametrics
22 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Kental dengan Toleransi Beragama

Mobile_AP_Rectangle 1

GLAGAHWERO, RADARJEMBER.ID- Ummat Konghucu mempunyai sejarah perjuangan tersendiri di republik ini, sehingga pada tahun 2000 silam, Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur, resmi mengakui Konghucu menjadi salah satu agama di Indonesia. Pada saat itu juga umat Konghucu diperbolehkan merayakan hari imlek dan ibadah lainnya di vihara dan klenteng di beberapa daerah. Termasuk juga di Jember.

Sebelum memasuki klenteng, rasa toleransi agama sudah terasa. Sebab, di depan klenteng juga terdapat masjid. Saat masuk ke Klenteng tersebut, warga juga membantu untuk memanggil penjaga. “Pak Sugik, ini ada tamu yang mau berkunjung,” ucap warga.

Dengan mengenakan topi hitam, Pak Sugik mengenalkan dirinya bernama Miroso. “Nama asli saya Miroso, karena nama anak pertama saya Sugik. Maka oleh masyarakat dipanggil Pak Sugik,” akunya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Miroso adalah penjaga Klenteng Pay Lien San yang merangkap petugas kebersihan. Dia juga menjelaskan, setiap dewa yang berada di setiap ruangan. Walau mengetahui nama-nama patung dewa, tapi Miroso adalah seorang muslim. Meski bukan umat Tri Dharma, tetapi Miroso hubungan kerabat dengan Ton Hua Sea, yaitu pendiri Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Pay Lien San. “Bibi saya menikah dengan pak Ton Hua Sen, pendiri tempat ibadah di sini,” ungkapnya.

- Advertisement -

GLAGAHWERO, RADARJEMBER.ID- Ummat Konghucu mempunyai sejarah perjuangan tersendiri di republik ini, sehingga pada tahun 2000 silam, Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur, resmi mengakui Konghucu menjadi salah satu agama di Indonesia. Pada saat itu juga umat Konghucu diperbolehkan merayakan hari imlek dan ibadah lainnya di vihara dan klenteng di beberapa daerah. Termasuk juga di Jember.

Sebelum memasuki klenteng, rasa toleransi agama sudah terasa. Sebab, di depan klenteng juga terdapat masjid. Saat masuk ke Klenteng tersebut, warga juga membantu untuk memanggil penjaga. “Pak Sugik, ini ada tamu yang mau berkunjung,” ucap warga.

Dengan mengenakan topi hitam, Pak Sugik mengenalkan dirinya bernama Miroso. “Nama asli saya Miroso, karena nama anak pertama saya Sugik. Maka oleh masyarakat dipanggil Pak Sugik,” akunya.

Miroso adalah penjaga Klenteng Pay Lien San yang merangkap petugas kebersihan. Dia juga menjelaskan, setiap dewa yang berada di setiap ruangan. Walau mengetahui nama-nama patung dewa, tapi Miroso adalah seorang muslim. Meski bukan umat Tri Dharma, tetapi Miroso hubungan kerabat dengan Ton Hua Sea, yaitu pendiri Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Pay Lien San. “Bibi saya menikah dengan pak Ton Hua Sen, pendiri tempat ibadah di sini,” ungkapnya.

GLAGAHWERO, RADARJEMBER.ID- Ummat Konghucu mempunyai sejarah perjuangan tersendiri di republik ini, sehingga pada tahun 2000 silam, Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur, resmi mengakui Konghucu menjadi salah satu agama di Indonesia. Pada saat itu juga umat Konghucu diperbolehkan merayakan hari imlek dan ibadah lainnya di vihara dan klenteng di beberapa daerah. Termasuk juga di Jember.

Sebelum memasuki klenteng, rasa toleransi agama sudah terasa. Sebab, di depan klenteng juga terdapat masjid. Saat masuk ke Klenteng tersebut, warga juga membantu untuk memanggil penjaga. “Pak Sugik, ini ada tamu yang mau berkunjung,” ucap warga.

Dengan mengenakan topi hitam, Pak Sugik mengenalkan dirinya bernama Miroso. “Nama asli saya Miroso, karena nama anak pertama saya Sugik. Maka oleh masyarakat dipanggil Pak Sugik,” akunya.

Miroso adalah penjaga Klenteng Pay Lien San yang merangkap petugas kebersihan. Dia juga menjelaskan, setiap dewa yang berada di setiap ruangan. Walau mengetahui nama-nama patung dewa, tapi Miroso adalah seorang muslim. Meski bukan umat Tri Dharma, tetapi Miroso hubungan kerabat dengan Ton Hua Sea, yaitu pendiri Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Pay Lien San. “Bibi saya menikah dengan pak Ton Hua Sen, pendiri tempat ibadah di sini,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/