alexametrics
29.1 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Suasana Desa, Cita Rasa Istana

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Warung Soto Mangewu ini cuku berbeda. Menyuguhkan kuliner nusantara, namun dikemas secara tradisional. Di warung yang dibangun dari anyaman bambu itu, memberikan kesan suasana khas pedesaan. Terlebih, lokasinya yang tepat di pinggiran sawah, cukup mencuri perhatian pengunjung. Karena semilir angin saat menyantap soto memang nikmat tiada duanya.

Warung soto yang sudah eksis sejak era 2000-an silam itu milik Ismawati, warga Dusun Klanceng Desa/Kecamatan Ajung. Awalnya, dia mendirikan warung dengan beragam jenis masakan. Namun lambat laun, sotonya justru yang banyak dilirik. “Mulai banyak dibeli itu sejak 2018 lalu, biasanya mahasiswa IAIN Jember,” katanya.

Setiap harinya, wanita berusia 50 tahun itu bisa menyiapkan lima hingga tujuh kilogram ayam dan 15 kilogram nasi, yang kemudian diolah menjadi kurang lebih 55 porsi soto. Dia membuka warungnya mulai pukul 07.00 pagi hingga malam hari tiba. “Tapi kalau pas banyak yang beli, sore itu biasanya sudah habis,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Saat ditanya, apakah tidak rugi menjual soto seharga goceng itu, Ismawati menjawab dengan santai. “Untung sedikit asal ramai kan nggak apa-apa. Jadinya kan banyak,” aku nenek dua cucu itu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Warung Soto Mangewu ini cuku berbeda. Menyuguhkan kuliner nusantara, namun dikemas secara tradisional. Di warung yang dibangun dari anyaman bambu itu, memberikan kesan suasana khas pedesaan. Terlebih, lokasinya yang tepat di pinggiran sawah, cukup mencuri perhatian pengunjung. Karena semilir angin saat menyantap soto memang nikmat tiada duanya.

Warung soto yang sudah eksis sejak era 2000-an silam itu milik Ismawati, warga Dusun Klanceng Desa/Kecamatan Ajung. Awalnya, dia mendirikan warung dengan beragam jenis masakan. Namun lambat laun, sotonya justru yang banyak dilirik. “Mulai banyak dibeli itu sejak 2018 lalu, biasanya mahasiswa IAIN Jember,” katanya.

Setiap harinya, wanita berusia 50 tahun itu bisa menyiapkan lima hingga tujuh kilogram ayam dan 15 kilogram nasi, yang kemudian diolah menjadi kurang lebih 55 porsi soto. Dia membuka warungnya mulai pukul 07.00 pagi hingga malam hari tiba. “Tapi kalau pas banyak yang beli, sore itu biasanya sudah habis,” imbuhnya.

Saat ditanya, apakah tidak rugi menjual soto seharga goceng itu, Ismawati menjawab dengan santai. “Untung sedikit asal ramai kan nggak apa-apa. Jadinya kan banyak,” aku nenek dua cucu itu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Warung Soto Mangewu ini cuku berbeda. Menyuguhkan kuliner nusantara, namun dikemas secara tradisional. Di warung yang dibangun dari anyaman bambu itu, memberikan kesan suasana khas pedesaan. Terlebih, lokasinya yang tepat di pinggiran sawah, cukup mencuri perhatian pengunjung. Karena semilir angin saat menyantap soto memang nikmat tiada duanya.

Warung soto yang sudah eksis sejak era 2000-an silam itu milik Ismawati, warga Dusun Klanceng Desa/Kecamatan Ajung. Awalnya, dia mendirikan warung dengan beragam jenis masakan. Namun lambat laun, sotonya justru yang banyak dilirik. “Mulai banyak dibeli itu sejak 2018 lalu, biasanya mahasiswa IAIN Jember,” katanya.

Setiap harinya, wanita berusia 50 tahun itu bisa menyiapkan lima hingga tujuh kilogram ayam dan 15 kilogram nasi, yang kemudian diolah menjadi kurang lebih 55 porsi soto. Dia membuka warungnya mulai pukul 07.00 pagi hingga malam hari tiba. “Tapi kalau pas banyak yang beli, sore itu biasanya sudah habis,” imbuhnya.

Saat ditanya, apakah tidak rugi menjual soto seharga goceng itu, Ismawati menjawab dengan santai. “Untung sedikit asal ramai kan nggak apa-apa. Jadinya kan banyak,” aku nenek dua cucu itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/