alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Ada Perubahan Hilir di Zaman Belanda

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bedadung ternyata memiliki sejarah panjang. Bahkan sejak era kolonial. Yohanes Setiyo Hadi, pegiat sejarah sekaligus Pembina Boemi Poeger Persada, mengisahkan sejarah sungai yang membelah Jember itu. Menurut dia, Bedadung memiliki hulu dari Pegunungan Iyang dan Raung. Dari beberapa pertemuan sungai-sungai kecil itu, menyatu ke Bedadung yang zaman dulu bermuara ke Pantai Selatan. Antara Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, dan Puger Wetan, Kecamatan Puger.

Hal itu berdasar pada sejumlah catatan yang ditinggalkan era kolonialisme Inggris. Seperti Sir Thomas Stamford Raffles dalam tulisannya Histori Of Java volume 1 tahun 1811-1817. Saat itu, disebut menjadi awal peradaban Bedadung yang pertama terdokumentasi oleh penjajah. Termasuk kondisi sungainya yang terpetakan menjadi dua bagian sungai besar. Sungai Bedadung dan Sungai Puger atau Kali Poeger.

“Pada tahun awal itu, Sungai Bedadung membentang dari ujung timur Jember, sampai ke pintu air atau Dam Bendungan Bedadung di Desa Rowotamtu. Sementara, sungai yang dari Rowotamtu sampai ke laut, masih dinamakan Kali Poeger atau River Poeger,” jelas pria yang akrab disapa Yopi tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di abad 19 itu, lanjut dia, fungsi Sungai Bedadung hampir sama seperti saat ini. Yakni untuk irigasi. Dan lagi, karakteristik orang zaman dulu, mereka memiliki kecenderungan tinggal di dekat sungai karena sebagai satu-satunya sumber kehidupan. “Karenanya selama ini, air Sungai Bedadung itu memang tidak pernah mati. Hanya surut, dan tetap ada airnya,” sambungnya.

Karakteristik orang zaman dulu yang cenderung mendekati sumber mata air itu juga menjadi cikal bakal keberadaan dan fungsi Sungai Bedadung selanjutnya. Bedanya, orang dulu tinggal di sungai karena ingin dekat dengan sumber air, jadi menyangkut kelangsungan hajat kehidupan mereka. Namun, Yopi mengakui, argumentasi itu belum tepat jika dipakai untuk orang saat ini. Sebab, sebagaimana diketahui, hari ini sumber mata air begitu mudah ditemui dan tidak harus berada di pinggir sungai.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bedadung ternyata memiliki sejarah panjang. Bahkan sejak era kolonial. Yohanes Setiyo Hadi, pegiat sejarah sekaligus Pembina Boemi Poeger Persada, mengisahkan sejarah sungai yang membelah Jember itu. Menurut dia, Bedadung memiliki hulu dari Pegunungan Iyang dan Raung. Dari beberapa pertemuan sungai-sungai kecil itu, menyatu ke Bedadung yang zaman dulu bermuara ke Pantai Selatan. Antara Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, dan Puger Wetan, Kecamatan Puger.

Hal itu berdasar pada sejumlah catatan yang ditinggalkan era kolonialisme Inggris. Seperti Sir Thomas Stamford Raffles dalam tulisannya Histori Of Java volume 1 tahun 1811-1817. Saat itu, disebut menjadi awal peradaban Bedadung yang pertama terdokumentasi oleh penjajah. Termasuk kondisi sungainya yang terpetakan menjadi dua bagian sungai besar. Sungai Bedadung dan Sungai Puger atau Kali Poeger.

“Pada tahun awal itu, Sungai Bedadung membentang dari ujung timur Jember, sampai ke pintu air atau Dam Bendungan Bedadung di Desa Rowotamtu. Sementara, sungai yang dari Rowotamtu sampai ke laut, masih dinamakan Kali Poeger atau River Poeger,” jelas pria yang akrab disapa Yopi tersebut.

Di abad 19 itu, lanjut dia, fungsi Sungai Bedadung hampir sama seperti saat ini. Yakni untuk irigasi. Dan lagi, karakteristik orang zaman dulu, mereka memiliki kecenderungan tinggal di dekat sungai karena sebagai satu-satunya sumber kehidupan. “Karenanya selama ini, air Sungai Bedadung itu memang tidak pernah mati. Hanya surut, dan tetap ada airnya,” sambungnya.

Karakteristik orang zaman dulu yang cenderung mendekati sumber mata air itu juga menjadi cikal bakal keberadaan dan fungsi Sungai Bedadung selanjutnya. Bedanya, orang dulu tinggal di sungai karena ingin dekat dengan sumber air, jadi menyangkut kelangsungan hajat kehidupan mereka. Namun, Yopi mengakui, argumentasi itu belum tepat jika dipakai untuk orang saat ini. Sebab, sebagaimana diketahui, hari ini sumber mata air begitu mudah ditemui dan tidak harus berada di pinggir sungai.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bedadung ternyata memiliki sejarah panjang. Bahkan sejak era kolonial. Yohanes Setiyo Hadi, pegiat sejarah sekaligus Pembina Boemi Poeger Persada, mengisahkan sejarah sungai yang membelah Jember itu. Menurut dia, Bedadung memiliki hulu dari Pegunungan Iyang dan Raung. Dari beberapa pertemuan sungai-sungai kecil itu, menyatu ke Bedadung yang zaman dulu bermuara ke Pantai Selatan. Antara Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, dan Puger Wetan, Kecamatan Puger.

Hal itu berdasar pada sejumlah catatan yang ditinggalkan era kolonialisme Inggris. Seperti Sir Thomas Stamford Raffles dalam tulisannya Histori Of Java volume 1 tahun 1811-1817. Saat itu, disebut menjadi awal peradaban Bedadung yang pertama terdokumentasi oleh penjajah. Termasuk kondisi sungainya yang terpetakan menjadi dua bagian sungai besar. Sungai Bedadung dan Sungai Puger atau Kali Poeger.

“Pada tahun awal itu, Sungai Bedadung membentang dari ujung timur Jember, sampai ke pintu air atau Dam Bendungan Bedadung di Desa Rowotamtu. Sementara, sungai yang dari Rowotamtu sampai ke laut, masih dinamakan Kali Poeger atau River Poeger,” jelas pria yang akrab disapa Yopi tersebut.

Di abad 19 itu, lanjut dia, fungsi Sungai Bedadung hampir sama seperti saat ini. Yakni untuk irigasi. Dan lagi, karakteristik orang zaman dulu, mereka memiliki kecenderungan tinggal di dekat sungai karena sebagai satu-satunya sumber kehidupan. “Karenanya selama ini, air Sungai Bedadung itu memang tidak pernah mati. Hanya surut, dan tetap ada airnya,” sambungnya.

Karakteristik orang zaman dulu yang cenderung mendekati sumber mata air itu juga menjadi cikal bakal keberadaan dan fungsi Sungai Bedadung selanjutnya. Bedanya, orang dulu tinggal di sungai karena ingin dekat dengan sumber air, jadi menyangkut kelangsungan hajat kehidupan mereka. Namun, Yopi mengakui, argumentasi itu belum tepat jika dipakai untuk orang saat ini. Sebab, sebagaimana diketahui, hari ini sumber mata air begitu mudah ditemui dan tidak harus berada di pinggir sungai.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/