alexametrics
25 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Ada Soto Seharga Es Teh

Semangkuk Cuma Rp 3.500, Penasaran?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kehadiran soto bening Mbah Kromo di Jalan S Parman, Lingkungan Sadengan, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, rupanya mampu membangkitkan rasa penasaran orang. Sebab, harganya sangat murah, berbeda dengan warung soto kebanyakan. Semangkuk soto di warung ini hanya dihargai Rp 3.500 atau setara dengan harga segelas es teh di kedai pinggiran.

Usaha kuliner ini sebenarnya masih baru, dimulai tahun 2018 lalu. Nama Mbah Kromo diambilkan dari nama sang kakek. Dan jenama itu dianggap oleh Kristiono, pemilik warung tersebut, membawa hoki. Hingga kini, warung itu tak pernah sepi pembeli. Mulai dari pegawai hingga tukang becak kerap mampir ke tempat itu. “Kuah soto ini memang bening. Dari awal buka hingga sekarang, harganya belum pernah berubah,” ungkapnya.

Andi Fauzi, mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di Jember, adalah salah satu pelanggan yang sering berkunjung ke warung soto Mbah Kromo. Dia mengaku, harga soto itu cocok bagi kantong mahasiswa seperti dirinya. Terkadang, Andi beramai-ramai bersama teman satu kontrakan membeli soto di tempat tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kini, warung soto itu dikelola oleh Aldi dan Aldo, anak kembar Kristiono. Meski telah beralih pengelolaannya, tapi pamor warung itu tak meredup. Itu karena pria kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, tersebut telah mengajari sang anak untuk berwirausaha. “Bapak selalu menanamkan kepada kami bahwa hidup itu sulit. Karena itu, butuh perjuangan dan kerja keras,” kata Aldo.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kehadiran soto bening Mbah Kromo di Jalan S Parman, Lingkungan Sadengan, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, rupanya mampu membangkitkan rasa penasaran orang. Sebab, harganya sangat murah, berbeda dengan warung soto kebanyakan. Semangkuk soto di warung ini hanya dihargai Rp 3.500 atau setara dengan harga segelas es teh di kedai pinggiran.

Usaha kuliner ini sebenarnya masih baru, dimulai tahun 2018 lalu. Nama Mbah Kromo diambilkan dari nama sang kakek. Dan jenama itu dianggap oleh Kristiono, pemilik warung tersebut, membawa hoki. Hingga kini, warung itu tak pernah sepi pembeli. Mulai dari pegawai hingga tukang becak kerap mampir ke tempat itu. “Kuah soto ini memang bening. Dari awal buka hingga sekarang, harganya belum pernah berubah,” ungkapnya.

Andi Fauzi, mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di Jember, adalah salah satu pelanggan yang sering berkunjung ke warung soto Mbah Kromo. Dia mengaku, harga soto itu cocok bagi kantong mahasiswa seperti dirinya. Terkadang, Andi beramai-ramai bersama teman satu kontrakan membeli soto di tempat tersebut.

Kini, warung soto itu dikelola oleh Aldi dan Aldo, anak kembar Kristiono. Meski telah beralih pengelolaannya, tapi pamor warung itu tak meredup. Itu karena pria kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, tersebut telah mengajari sang anak untuk berwirausaha. “Bapak selalu menanamkan kepada kami bahwa hidup itu sulit. Karena itu, butuh perjuangan dan kerja keras,” kata Aldo.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kehadiran soto bening Mbah Kromo di Jalan S Parman, Lingkungan Sadengan, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, rupanya mampu membangkitkan rasa penasaran orang. Sebab, harganya sangat murah, berbeda dengan warung soto kebanyakan. Semangkuk soto di warung ini hanya dihargai Rp 3.500 atau setara dengan harga segelas es teh di kedai pinggiran.

Usaha kuliner ini sebenarnya masih baru, dimulai tahun 2018 lalu. Nama Mbah Kromo diambilkan dari nama sang kakek. Dan jenama itu dianggap oleh Kristiono, pemilik warung tersebut, membawa hoki. Hingga kini, warung itu tak pernah sepi pembeli. Mulai dari pegawai hingga tukang becak kerap mampir ke tempat itu. “Kuah soto ini memang bening. Dari awal buka hingga sekarang, harganya belum pernah berubah,” ungkapnya.

Andi Fauzi, mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di Jember, adalah salah satu pelanggan yang sering berkunjung ke warung soto Mbah Kromo. Dia mengaku, harga soto itu cocok bagi kantong mahasiswa seperti dirinya. Terkadang, Andi beramai-ramai bersama teman satu kontrakan membeli soto di tempat tersebut.

Kini, warung soto itu dikelola oleh Aldi dan Aldo, anak kembar Kristiono. Meski telah beralih pengelolaannya, tapi pamor warung itu tak meredup. Itu karena pria kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, tersebut telah mengajari sang anak untuk berwirausaha. “Bapak selalu menanamkan kepada kami bahwa hidup itu sulit. Karena itu, butuh perjuangan dan kerja keras,” kata Aldo.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/