22.9 C
Jember
Tuesday, 7 February 2023

Main Perahu, Teriakannya yang Bikin Seru

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – “Ayo-ayo, terus maju,” teriak anak-anak di Desa/Kecamatan Pasrujambe ketika mengadu perahu yang terbuat dari pelepah pisang di aliran sungai dekat perkebunan. Meskipun teriakan itu tidak membuat perahu melesat maju. Namun, lontaran saut-sautan itu bikin permainan ini makin seru.

Wisata Singapura Ala Desa Pengarang Bondowoso

Salah satu permainan murah meriah yang masih terlihat di lereng Gunung Semeru. Dengan memanfaatkan pohon pisang yang sudah dipanen buahnya, mereka merakit perahu kecil yang sederhana. Lalu, perahu itu dihanyutkan ke aliran sungai dangkal di desa setempat yang memiliki lebar satu setengah meter.

Mobile_AP_Rectangle 2

Setelah perahu itu dilepas di sungai, Raditya Herlambang bersama keempat teman-temannya berlari mengikuti arus tempat perahu rakitannya meluncur. Wajah anak-anak ini terlihat senang ketika mainan miliknya kejar-kejaran mengisi urutan terdepan. “Senangnya karena main bareng ramai-ramai dengan teman sekolah,” kata Radit.

Aturan permainan diatur suka-suka, sesuai kesepakatan bersama. Jarak finish adu perahu pun diatur sesuai keinginan. Perahu itu kadang tidak hanya dirakit dari pelepah pisang, ada yang menggunakan bambu dan sejumlah bahan yang mudah didapatkan. Salah satu hiburan dadakan orang zaman dulu yang masih terlihat hingga sekarang.

Memang memasuki dua dekade di abad kedua, perkembangan zaman semakin modern. Anak-anak se-usianya banyak yang beralih meninggalkan permainan tradisional. Namun tidak bagi mereka yang tinggal daerah yang jauh dari kawasan perkotaan, termasuk Desa/Kecamatan Pasrujambe. Permainan itu masih jadi pilihan.

Sebagian besar anak-anak yang tinggal di pedesaan itu masih sering memanfaatkan aliran sungai atau irigasi sawah menjadi wahana bermain. Titik-titik itu kerap menjadi tempat favorit untuk melampiaskan kegembiraan bersama teman sebaya. Terlihat sangat sederhana, namun ingatan keseruannya bakal melekat hingga lanjut usia.

“Sejak pandemi korona lalu kami dibelikan HP oleh orang tua. Tetapi saya lebih senang bermain bersama teman-teman di alam di luar rumah. Biasanya ya di sungai, tapi sungai yang tidak dalam. Sungai-sungai di dekat sawah. Salah satunya ya dengan main adu perahu atau kadang arum jeram,” pungkasnya (son/bud)

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – “Ayo-ayo, terus maju,” teriak anak-anak di Desa/Kecamatan Pasrujambe ketika mengadu perahu yang terbuat dari pelepah pisang di aliran sungai dekat perkebunan. Meskipun teriakan itu tidak membuat perahu melesat maju. Namun, lontaran saut-sautan itu bikin permainan ini makin seru.

Wisata Singapura Ala Desa Pengarang Bondowoso

Salah satu permainan murah meriah yang masih terlihat di lereng Gunung Semeru. Dengan memanfaatkan pohon pisang yang sudah dipanen buahnya, mereka merakit perahu kecil yang sederhana. Lalu, perahu itu dihanyutkan ke aliran sungai dangkal di desa setempat yang memiliki lebar satu setengah meter.

Setelah perahu itu dilepas di sungai, Raditya Herlambang bersama keempat teman-temannya berlari mengikuti arus tempat perahu rakitannya meluncur. Wajah anak-anak ini terlihat senang ketika mainan miliknya kejar-kejaran mengisi urutan terdepan. “Senangnya karena main bareng ramai-ramai dengan teman sekolah,” kata Radit.

Aturan permainan diatur suka-suka, sesuai kesepakatan bersama. Jarak finish adu perahu pun diatur sesuai keinginan. Perahu itu kadang tidak hanya dirakit dari pelepah pisang, ada yang menggunakan bambu dan sejumlah bahan yang mudah didapatkan. Salah satu hiburan dadakan orang zaman dulu yang masih terlihat hingga sekarang.

Memang memasuki dua dekade di abad kedua, perkembangan zaman semakin modern. Anak-anak se-usianya banyak yang beralih meninggalkan permainan tradisional. Namun tidak bagi mereka yang tinggal daerah yang jauh dari kawasan perkotaan, termasuk Desa/Kecamatan Pasrujambe. Permainan itu masih jadi pilihan.

Sebagian besar anak-anak yang tinggal di pedesaan itu masih sering memanfaatkan aliran sungai atau irigasi sawah menjadi wahana bermain. Titik-titik itu kerap menjadi tempat favorit untuk melampiaskan kegembiraan bersama teman sebaya. Terlihat sangat sederhana, namun ingatan keseruannya bakal melekat hingga lanjut usia.

“Sejak pandemi korona lalu kami dibelikan HP oleh orang tua. Tetapi saya lebih senang bermain bersama teman-teman di alam di luar rumah. Biasanya ya di sungai, tapi sungai yang tidak dalam. Sungai-sungai di dekat sawah. Salah satunya ya dengan main adu perahu atau kadang arum jeram,” pungkasnya (son/bud)

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – “Ayo-ayo, terus maju,” teriak anak-anak di Desa/Kecamatan Pasrujambe ketika mengadu perahu yang terbuat dari pelepah pisang di aliran sungai dekat perkebunan. Meskipun teriakan itu tidak membuat perahu melesat maju. Namun, lontaran saut-sautan itu bikin permainan ini makin seru.

Wisata Singapura Ala Desa Pengarang Bondowoso

Salah satu permainan murah meriah yang masih terlihat di lereng Gunung Semeru. Dengan memanfaatkan pohon pisang yang sudah dipanen buahnya, mereka merakit perahu kecil yang sederhana. Lalu, perahu itu dihanyutkan ke aliran sungai dangkal di desa setempat yang memiliki lebar satu setengah meter.

Setelah perahu itu dilepas di sungai, Raditya Herlambang bersama keempat teman-temannya berlari mengikuti arus tempat perahu rakitannya meluncur. Wajah anak-anak ini terlihat senang ketika mainan miliknya kejar-kejaran mengisi urutan terdepan. “Senangnya karena main bareng ramai-ramai dengan teman sekolah,” kata Radit.

Aturan permainan diatur suka-suka, sesuai kesepakatan bersama. Jarak finish adu perahu pun diatur sesuai keinginan. Perahu itu kadang tidak hanya dirakit dari pelepah pisang, ada yang menggunakan bambu dan sejumlah bahan yang mudah didapatkan. Salah satu hiburan dadakan orang zaman dulu yang masih terlihat hingga sekarang.

Memang memasuki dua dekade di abad kedua, perkembangan zaman semakin modern. Anak-anak se-usianya banyak yang beralih meninggalkan permainan tradisional. Namun tidak bagi mereka yang tinggal daerah yang jauh dari kawasan perkotaan, termasuk Desa/Kecamatan Pasrujambe. Permainan itu masih jadi pilihan.

Sebagian besar anak-anak yang tinggal di pedesaan itu masih sering memanfaatkan aliran sungai atau irigasi sawah menjadi wahana bermain. Titik-titik itu kerap menjadi tempat favorit untuk melampiaskan kegembiraan bersama teman sebaya. Terlihat sangat sederhana, namun ingatan keseruannya bakal melekat hingga lanjut usia.

“Sejak pandemi korona lalu kami dibelikan HP oleh orang tua. Tetapi saya lebih senang bermain bersama teman-teman di alam di luar rumah. Biasanya ya di sungai, tapi sungai yang tidak dalam. Sungai-sungai di dekat sawah. Salah satunya ya dengan main adu perahu atau kadang arum jeram,” pungkasnya (son/bud)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca