Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Belasan Tahun Keliling Jual Kue Putu

Safitri • Selasa, 4 Oktober 2022 | 23:46 WIB
DIOLAH: Pedagang kue tradisional sangat lihai mencetak adonan dengan mencampurkan tepung beras dan gula merah.
DIOLAH: Pedagang kue tradisional sangat lihai mencetak adonan dengan mencampurkan tepung beras dan gula merah.
LUMAJANG, Radar Semeru - Kue tradisional sampai saat ini memang masih diminati banyak warga. Meski proses pembuatannya tradisional, namun rasanya tidak pernah tertinggal. Tetap nikmat dan lezat saat disantap. Bahkan isian gula merahnya saat dimakan sangat terasa. Tak heran jika peminatnya masih banyak.

BACA JUGA : Langsung Instruksikan Semua Pejabat Kumpulkan Zakat

Berbahan dasar tepung beras dan gula merah, kue tradisional yang biasa dengan putu ini banyak digemari masyarakat dari berbagai kalangan. Baik usia anak-anak maupun lanjut usia. Sebab, kue diproduksi tanpa menggunakan bahan pengawet, sehingga sangat aman dikonsumsi semua orang.

Meski saat ini sudah banyak bermunculan kue modern dan kekinian, namun kue putu tetap jadi juaranya. Dengan proses pembuatan yang sangat mudah dan alat yang digunakan sangat tradisional. Penjual cukup memasukkan adonan ke dalam bambu kecil yang diisi gula merah, kemudian dikukus. Bahkan dari tahun ke tahun penjualannya terbilang stabil. “Biasanya sehari habis 4 kilogram. Kalau lagi ada event buatnya 4,5 kilogram dan itu pasti habisnya. Jualannya dari pagi sampai malam hari,” ucap Sulton, pedagang kue putu.

Pedagang yang sudah berjualan selama 18 tahun itu mengaku memang menggeluti jualan kue putu. Sebab, dia ingin melestarikan jajanan tradisional. Meski setiap harinya harus mengelilingi kawasan kota Lumajang mengendarai sepeda angin untuk mendapatkan konsumen. “Memang cari nafkah sambil melestarikan kue putu ini. Biar semua generasi bisa menikmati jajanan tradisional. Meskipun hasilnya juga nggak seberapa,” pungkasnya. Sulton, warga asal Jawa Tengah itu, hanya bisa berharap nantinya makin banyak warga yang melestarikan makanan tersebut. (dea/c2/fid)

  Editor : Safitri
#Lumajang