Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sulit Mencari Padanan Bahasa Madura dengan Indonesia 

Radar Digital • Sabtu, 10 April 2021 | 17:02 WIB
BACA KITAB: Misbahul Anwar, santri sekaligus staf TU MTs MU, Jatiroto, membacakan kitab karya KH Hasyim Asyari. Bacaan kitab itu mengantarkannya menjadi juara dua lomba baca kitab tingkat Jawa Timur.
BACA KITAB: Misbahul Anwar, santri sekaligus staf TU MTs MU, Jatiroto, membacakan kitab karya KH Hasyim Asyari. Bacaan kitab itu mengantarkannya menjadi juara dua lomba baca kitab tingkat Jawa Timur.
LUMAJANG, RADARJEMBER.ID - Lelaki bersarung itu segera berdiri. Tersenyum ramah menatap wartawan Jawa Pos Radar Semeru yang baru saja tiba di sebuah tongkrongan milenial di antara lahan persawahan. Lelaki itu memperkenalkan diri. “Misbahul Anwar,” ucapnya memperkenalkan diri.

Setelan santri terlihat di penampilannya. Selain sarung hijau dan baju muslim berwarna biru, songkok hitam menambah sosok santri dalam dirinya. Anwar, sapaan akrabnya, mengungkapkan, pakaian itulah yang menemaninya setiap hari. “Di mana pun dan kapan pun selalu berpakaian seperti ini,” ungkapnya.

Lelaki asal Karang Bayat, Sumberbaru, tersebut mengatakan, sejak kecil dia sudah belajar di pondok pesantren. Modal itulah yang membuatnya mencoba mengikuti lomba baca kitab di tingkat provinsi. “Kepala madrasah meminta saya ikut. Saya bilang ke beliau, tidak perlu berharap, Ustad, tidak akan juara juga,” katanya.

Di luar dugaan. Justru dia berhasil menyabet juara dua baca kitab dalam rangka Dies Natalies FAI Universitas Islam Lamongan. “Tidak menyangka bisa juara. Padahal itu coba-coba. Mungkin ini berkahnya Pak Kiai,” ujarnya, lalu tersenyum.

Anwar menjelaskan, itu adalah pengalaman pertama sekaligus kejuaraan provinsi pertama yang dia ikuti. Sebab, sejak menimba ilmu di pesantren hingga kuliah, dia tidak pernah mengikuti kejuaraan tingkat provinsi. “Tidak pernah ada kesempatan untuk ikut lomba di tingkat Jawa Timur. Paling mentok di tingkat kabupaten. Kalaupun ikut tingkat provinsi, sudah gagal dulu di kabupaten,” jelas lelaki yang menjabat sebagai Wakil DEMA STISMU Lumajang tersebut.

Dia menuturkan, persiapan yang dilakukan kurang maksimal. Sebab, persyaratan baca kitab hanya boleh menggunakan bahasa Indonesia atau Jawa. “Karena sejak kecil tinggal di lingkungan Madura, saya pilih baca kitab dengan bahasa Indonesia. Berharap lebih mudah dibaca, malah lebih sulit. Harus belajar dulu. Tapi ya tidak maksimal,” tuturnya.

Kesulitan itu, lanjutnya, terdapat pada proses pencarian padanan kata bahasa Madura dalam bahasa Indonesia. Menyiasati itu, dia belajar secara luring melalui Youtube dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. “Pondok itu satu-satunya yang memaknai kitab dengan bahasa Indonesia. Jadi, belajarnya dari sana. Karena tidak bisa secara langsung, jadi belajar dari Youtube,” lanjutnya.

Proses itu membuatnya bertambah semangat. Bahkan saat lomba, dia dihadapkan pada agenda besar yang membutuhkan perannya. “Ada acara juga, tapi saya kabur dan buat video lomba,” pungkasnya, lalu tertawa.

 

 

Jurnalis : mg2
Fotografer : mg2
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Radar Digital