PAJARAKAN, Radar Bromo – Satu lagi kasus kekerasan seksual pada anak di bawah umur terungkap. Dan lagi-lagi, pelakunya adalah orang terdekat. SN, 44, warga Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, tega menyetubuhi anak tirinya, RM, 15. Pelaku pun diamankan petugas Polres Probolinggo, Senin (21/10), pukul 14.00. Ia diamankan di rumahnya setelah istrinya, SC, melaporkan persetubuhan itu, pagi harinya. Senin, pelaku langsung diperiksa di ruang penyidikan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Probolinggo. Selama pemeriksaan, pelaku terus menundukkan kepala. Terbongkarnya kasus itu lantaran pelaku menyusul korban ke rumah tunangannya. Karena tindakan suaminya itu, SC, ibu korban merasa curiga. SC lantas meminta keterangan dari anaknya. “Ibunya curiga. Terus menanyakan kepada korban. Korban masih tidak mau menjawab. Karena terus didesak akhirnya korban menjawab dan memberitahu semuanya,” kata Kanit PPA Polres Probolinggo, Bripka Isana Reny Antasari. Keluarga pun tidak terima atas perbuatan pelaku. Sehingga, melaporkan pelaku ke pihak kepolisian. Tidak butuh waktu lama, petugas Polres Probolinggo berhasil meringkus pelaku. Pelaku diringkus selang empat jam setelah korban dan keluarganya melaporkan kejadian tersebut. SN sendiri pada petugas mengaku, dia menyetubuhi korban sejak korban kelas 5 SD. Setelah korban melanjutkan ke pondok pesantren, hal itu pun terus dilakukannya. Biasanya, saat korban pulang ke rumah. “Iya, tapi awalnya kanya ke pahanya saja. Baru saya masukan ketika SMP,” jelasnya. Namun, SN membantah telah mengancam korban agar tidak membongkar persetubuhan itu. Menurutnya, dirinya tidak pernah mengancam korban. Pria yang bekerja sebagai kuli bangunan itu mengaku, setiap kali usai menyetubuhi korban, dia memberi korban uang Rp 20 ribu. “Saya tidak mengancam. Tetapi setiap kali melakukan saya kasih uang,” jelasnya. SN sendiri tinggal di rumah itu bersama delapan orang. Yaitu istri, enam anak kandungnya, dan korban. Saat menyetubuhi korban, semua anggota keluarga ada di rumah. Bahkan, kadang dilakukan ketika korban tidur bersama ibunya. “Kadang pas dia tidur sama istri saya. Tetapi, saya suruh diam. Saya melakukan di situ juga. Istri saya tidak tahu. Soalnya tertidur lelap,” ungkapnya. Karena perbuatannya, pelaku diancam dengan pasal 76D UU Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak. Pasal 76D mengatur tentang persetubuhan dengan anak di bawah umur. Ancaman hukumannya yaitu sekitar 15 tahun penjara. (sid/hn)

PAJARAKANRadar Bromo – Satu lagi kasus kekerasan seksual pada anak di bawah umur terungkap. Dan lagi-lagi, pelakunya adalah orang terdekat. SN, 44, warga Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, tega menyetubuhi anak tirinya, RM, 15.

IKLAN

Pelaku pun diamankan petugas Polres Probolinggo, Senin (21/10), pukul 14.00. Ia diamankan di rumahnya setelah istrinya, SC, melaporkan persetubuhan itu, pagi harinya.

Senin, pelaku langsung diperiksa di ruang penyidikan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Probolinggo. Selama pemeriksaan, pelaku terus menundukkan kepala.

Terbongkarnya kasus itu lantaran pelaku menyusul korban ke rumah tunangannya. Karena tindakan suaminya itu, SC, ibu korban merasa curiga. SC lantas meminta keterangan dari anaknya.

“Ibunya curiga. Terus menanyakan kepada korban. Korban masih tidak mau menjawab. Karena terus didesak akhirnya korban menjawab dan memberitahu semuanya,” kata Kanit PPA Polres Probolinggo, Bripka Isana Reny Antasari.

Keluarga pun tidak terima atas perbuatan pelaku. Sehingga, melaporkan pelaku ke pihak kepolisian. Tidak butuh waktu lama, petugas Polres Probolinggo berhasil meringkus pelaku.

Pelaku diringkus selang empat jam setelah korban dan keluarganya melaporkan kejadian tersebut. SN sendiri pada petugas mengaku, dia menyetubuhi korban sejak korban kelas 5 SD. Setelah korban melanjutkan ke pondok pesantren, hal itu pun terus dilakukannya. Biasanya, saat korban pulang ke rumah. “Iya, tapi awalnya kanya ke pahanya saja. Baru saya masukan ketika SMP,” jelasnya.

Namun, SN membantah telah mengancam korban agar tidak membongkar persetubuhan itu. Menurutnya, dirinya tidak pernah mengancam korban.

Pria yang bekerja sebagai kuli bangunan itu mengaku, setiap kali usai menyetubuhi korban, dia memberi korban uang Rp 20 ribu. “Saya tidak mengancam. Tetapi setiap kali melakukan saya kasih uang,” jelasnya.

SN sendiri tinggal di rumah itu bersama delapan orang. Yaitu istri, enam anak kandungnya, dan korban. Saat menyetubuhi korban, semua anggota keluarga ada di rumah. Bahkan, kadang dilakukan ketika korban tidur bersama ibunya.

“Kadang pas dia tidur sama istri saya. Tetapi, saya suruh diam. Saya melakukan di situ juga. Istri saya tidak tahu. Soalnya tertidur lelap,” ungkapnya.

Karena perbuatannya, pelaku diancam dengan pasal 76D UU Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak. Pasal 76D mengatur tentang persetubuhan dengan anak di bawah umur. Ancaman hukumannya yaitu sekitar 15 tahun penjara. (sid/hn)