Forum Sastra Jember Bertekad Satukan Sastrawan Jember

KOMPAK: Sebagian Komunitas Sastra Jember foto bersama di Kantor Radar Jember.

RADARJEMBER.ID – Awalnya tatapan mereka kosong. Sejurus kemudian berubah sangar. Dahinya berkerut. Mulutnya memekikkan kalimat yang membuat banyak orang terdiam. Penampilan para sastrawan saat membacakan puisi di halaman kantor Jawa Pos Radar Jember itu benar-benar membius siapa saja yang menyaksikan.

IKLAN

Para sastrawan yang tampil di Jawa Pos Radar Jember belum lama ini merupakan anggota komunitas yang terhimpun dalam wadah Forum Sastra Jember. Meski keberadaannya masih baru terbentuk pada bulan puasa kemarin. Tapi jangan salah, di dalamnya diisi oleh sastrawan kawakan di Kota Suwar-suwir.

Koordinator Forum Sastra Jember Barlean Bagus Satrio mengatakan, penampilan sastrawan yang hadir di Jawa Pos Radar Jember itu rata-rata sudah cukup matang dan berpengalaman. Sebab, sebelum menjadi satu, mereka juga memiliki komunitas sastra. “Yang hadir ini orang sastra dengan latar belakang komunitas yang berbeda,” ucapnya.

Namun demikian, melihat banyaknya pecinta dan pelaku sastra, pria yang akrap dipanggil Barlean Aji tersebut sempat pesimistis. Itu karena di Jember belum ada wadah sastra yang menyatukan seluruh sastrawan di Jember.

Barlean Aji menyebut, di Jember ada sekian banyak komunitas dengan kreasi yang berbeda-beda. Ada yang menjadi penulis, novelis, teater, drama, sampai mereka yang menjadi sastra jalanan. Itu semua, menurutnya, butuh sentuhan agar kreasi para sastrawan di Jember semakin terarah dan produktif.

Selama bertahun-tahun belakangan, sastrawan di Jember seperti tak tersentuh pemberdayaan. Itu, kata dia, bisa dilihat dengan kegiatan-kegiatan yang hanya bergantung pada komunitas itu sendiri. Sementara untuk melenggang lebih jauh masih dibilang terbatas.

DIUNDANG: Koordinator Forum Sastra Jember Barlean Aji, tampil membacakan puisi di luar Jember, beberapa waktu lalu.

Salah satu yang menjadi faktor karena masih terkotak antara satu komunitas sastra dengan yang lainnya. Untuk itulah, dia ingin agar sastrawan di Jember bisa berkumpul untuk bisa saling belajar, tukar pengalaman, dan produktif.

Dia mencontohkan, temannya Gunawan Tri Pamungkas. Dia merupakan seorang penulis serta menyukai karikatur. Kemudian ada pula Ebhi Yunus yang kerap melanglang buana menyalurkan hobinya menjadi pembaca puisi malam. Selain itu, masih banyak lagi para sastrawan di Jember seperti Debora, Agustina, Iqbal, Jaelani, Ilham, Levan, Aura, serta masih banyak lagi.

Sejumlah nama komunitas pun dia sebutkan, baik yang ada di dalam kampus atau di luar dunia pendidikan. “Santrawan di Jember itu, dosen ada, mahasiswa, pelajar, dan dari masyarakat umum juga banyak. Ini perlu dikembangkan bersama,” jelasnya.

Barlean beraharap, para sastrawan di Jember juga mendapat dukungan dari pihak manapun. Bila dunia sastra bisa terus tumbuh dan besar, bukan mustahil akan mengharumkan nama Kabupaten Jember. “Kalau sastra di Jember tetap sendiri-sendiri akan sulit jadi besar. Paling tidak, kita berkumpul untuk belajar bersama,” tutur pia yang sudah tampil membaca pusisi di sejumlah kabupaten kota di Indonesia tersebut.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih