Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tak Lagi Sekadar Digital, AI Kini Jadi Asisten Dokter dalam Operasi Pembuluh Darah Kompleks

M Adhi Surya • Rabu, 21 Januari 2026 | 06:10 WIB
 “Presisinya tetap harus melalui tahapan uji klinis yang ketat untuk memastikan keamanan penuh bagi pasien.” dr M. HANAFIE HELUTH, Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskuler RS Siloam Jember
 “Presisinya tetap harus melalui tahapan uji klinis yang ketat untuk memastikan keamanan penuh bagi pasien.” dr M. HANAFIE HELUTH, Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskuler RS Siloam Jember

 

Radar Jember - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini tak lagi sebatas dunia digital umum.

Namun, mulai merambah ranah kedokteran spesifik, termasuk bedah vaskuler.

Teknologi ini dinilai mampu menjadi asisten vital, mulai dari proses diagnostik hingga memandu jalannya tindakan operasi yang kompleks.

Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskuler RS Siloam Jember, dr M. Hanafie Heluth, mengungkapkan bahwa AI kini dikembangkan untuk membantu mendeteksi berbagai kelainan pembuluh darah secara presisi.

Sistem ini dirancang untuk mempermudah dokter dalam menentukan strategi pembedahan yang paling akurat.

“Sekarang AI bisa membantu diagnostik maupun membantu operator dalam melakukan tindakan operasi,” jelas dr. Hanafie.

Pesan ini selaras dengan hasil workshop kedokteran internasional yang ia hadiri di Jerman pada awal Desember lalu.

Dalam forum global tersebut, dibahas bagaimana teknologi pencitraan (imaging) canggih yang diintegrasikan dengan AI mampu membaca kondisi patologis pembuluh darah secara lebih detail. Bahkan, jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Menurut dr. Hanafie, efisiensi waktu adalah keunggulan utama AI.

Dengan deteksi dini yang akurat, dokter dapat meminimalkan risiko tak terduga di meja operasi dan mempercepat pengambilan keputusan medis yang krusial.

Namun, ia memberikan catatan penting bahwa kecanggihan ini bukan tanpa pengawasan.

“Presisinya tetap harus melalui tahapan uji klinis yang ketat untuk memastikan keamanan penuh bagi pasien,” tegasnya.

Meski menjanjikan, dr. Hanafie mengakui bahwa sistem berbasis AI ini belum sepenuhnya terealisasi di Indonesia, khususnya di Jember.

Saat ini, penerapannya masih terbatas di beberapa rumah sakit rujukan utama di Jakarta, itu pun dengan frekuensi yang masih jarang.

Kendati demikian, ia optimistis bahwa teknologi ini akan segera menjadi standar baru dalam pelayanan kesehatan di daerah di masa depan.

“Melihat pesatnya perkembangan teknologi, tidak menutup kemungkinan ke depan RS di daerah juga bisa menerapkannya. Ini adalah peluang besar untuk meningkatkan kualitas layanan bedah bagi masyarakat,” pungkasnya. (dhi/dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#kecerdasan buatan #Kedokteran #ai #artificial intelligence #akal imitasi