Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

GERD: Ketika Asam Lambung Naik ke Kerongkongan dan Menjadi Ancaman Diam-Diam bagi Kesehatan

Redaksi Radar Jember • Jumat, 16 Januari 2026 | 16:11 WIB
Ilustrasi orang menahan sakit akibat asam lambung.
Ilustrasi orang menahan sakit akibat asam lambung.

RADAR JEMBER - Kasus GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dilaporkan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, membuat para ahli kesehatan kembali mengingatkan masyarakat mengenai bahaya dan komplikasi yang bisa ditimbulkannya.

GERD adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan akibat melemahnya katup atau sfingter antara lambung dan esofagus. Kondisi ini menyebabkan gejala seperti sensasi terbakar di dada (heartburn), rasa pahit di mulut, mual, batuk kronis, hingga nyeri saat menelan akibat iritasi berulang pada dinding esofagus.

Meski sering dianggap sebagai “penyakit asam lambung biasa”, para dokter menegaskan bahwa GERD memiliki risiko lebih serius dibanding gangguan pencernaan ringan lainnya. Untuk memperjelas perbedaannya, ahli gastroenterologi menjelaskan bahwa asam lambung sebenarnya adalah zat yang secara alami diproduksi tubuh untuk mencerna makanan. 

Pada kondisi normal, asam ini berada di lambung dan tidak menimbulkan keluhan. Sementara itu, maag adalah istilah umum yang menggambarkan berbagai gangguan pada lambung, mulai dari peradangan, nyeri ulu hati, kembung, mual, hingga muntah.

Maag lebih berkaitan dengan iritasi atau luka pada lambung, bukan naiknya asam ke kerongkongan.

Berbeda dari keduanya, GERD dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada esofagus karena asam lambung terus-menerus naik ke atas.

Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi esofagitis (radang esofagus), luka pada dinding kerongkongan, penyempitan saluran makan, hingga kondisi pra-kanker seperti Barrett’s Esophagus.

Pada kasus kronis, risiko kanker esofagus bahkan ikut meningkat.

Dokter mengungkapkan bahwa faktor gaya hidup memiliki peran besar dalam memicu GERD. Konsumsi makanan pedas, berlemak, asam, minuman berkafein, cokelat, alkohol, serta kebiasaan makan dalam porsi besar atau langsung berbaring setelah makan merupakan pemicu utama.

Tekanan perut berlebih pada penderita obesitas atau ibu hamil juga dapat memperburuk refluks.

Untuk mengendalikan GERD, masyarakat diimbau melakukan perubahan gaya hidup seperti menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, menghindari makan larut malam, memberi jeda minimal tiga jam sebelum tidur, serta meninggikan posisi kepala saat beristirahat.

Menghindari makanan pemicu seperti gorengan, kopi, cokelat, minuman bersoda, sambal, bawang-bawangan, jeruk, dan tomat juga sangat dianjurkan.

Walaupun obat-obatan penurun asam lambung dapat membantu meredakan gejala, para ahli mengingatkan bahwa penanganan GERD harus dilakukan secara menyeluruh.

Pada kasus berat, intervensi medis atau operasi mungkin diperlukan untuk memperbaiki fungsi sfingter esofagus yang sudah mengalami kelemahan signifikan.

Masyarakat diimbau agar tidak mengabaikan gejala heartburn yang muncul berkali-kali. “GERD berbeda dari maag biasa. Komplikasinya jauh lebih serius dan bisa berkembang diam-diam,” ujar seorang dokter spesialis pencernaan dalam sebuah seminar kesehatan.

Dengan meningkatnya kesadaran publik, diharapkan penderita GERD dapat segera mendapatkan diagnosis dan penanganan tepat sebelum menimbulkan kerusakan lebih lanjut pada saluran pencernaan.

Penulis: Agil Prasetyo

Editor : M. Ainul Budi
#gerd #gejala #maag #batuk kronis #asam lambung #mual