https://radarjember.jawapos.com/kesehatan/19/02/2023/kretek-kretek-salah-penanganan-bisa-berakibat-kelumpuhan/
Menurutnya, terapi kretek ini merupakan salah satu terapi tulang belakang yang sistemnya untuk merenggangkan sela-sela tulang. Selain itu, terapi kretek dapat melancarkan peredaran darah di syaraf-syaraf tersebut.
Dalam melakukan praktik, dia menjelaskan bahwa tidak asal melakukan kretek. Dia harus melalui pelatihan khusus. “Saya belajar pada tahun 2018 di sana diajarkan, dasar-dasar dari terapi dan praktiknya,” ucapnya.
Pada dasarnya terapi kretek ini bisa digunakan untuk kondisi apa saja. Terkecuali pada orang yang menderita tumor dan kanker. “Karena terapi ini melancarkan peredaran darah, kalau penderita diterapi, akan semakin parah. Penyakit yang ada perkembanganya akan semakin lancar,” jelasnya.
Dia menyebut pasien yang datang karena keluhan pegal-pegal. Mulai dari bahu sampai pinggang. Untuk wanita biasanya paling banyak dengan keluhan migrain dan vertigo. Sedangkan untuk laki-laki biasanya dengan keluhan sakit punggung, pinggang, bahu kram, kaki kram, dan keseleo.
Dalam terapi yang dijalani ini ada prosedur khusus. Pihaknya sebelum melakukan terapi menanyakan terlebih dahulu kepada pasien, apakah ada riwayat penyakit atau tidak. Selain itu, menanyakan apakah sedang pemasangan pen. “Apabila masih menggunakan pen tidak bisa dilakukan, karena tulangnya masih diperkuat,” ucapnya.
Pasien yang pernah mendatangi tempatnya ada yang berusia paling muda enam tahun. Paling tua berumur 97 tahun. “Saya pernah menerapi pasien umur 97 tahun,” ujarnya.
Dalam praktiknya, melakukan kretek tidak hanya asal bunyi. Desta menjelaskan bahwa sebelum di-kretek, badan pasien harus dilakukan pemanasan terlebih dulu. Setelah badan terasa lemas, baru dilakukan kretek dimulai dari kepala hingga ujung kaki.
Bagian-bagian yang di-kretek antara lain kepala, leher, lengan, tulang belakang, pinggang, kaki, dan ujung kaki. Hal ini dilakukan dalam posisi tengkurap dan berbaring. Menurut Desta, kepala harus direlakskan terlebih dahulu, ketika kepala sudah relaks maka badan ke bawah akan relaks juga. “Kalau kondisi kaku, tidak bisa di-kretek, nanti akan bahaya bisa ototnya terpelintir,” jelasnya.
Durasi terapi kretek biasanya selama 20-30 menit tergantung dari keluhan. Terapi ini tidak bisa hanya satu kali saja. Memang ada beberapa orang terapi satu kali sudah terlihat hasilnya. Tetapi biasnya 1-3 kali datang untuk terapi, tergantung dari hasilnya. “Paling banyak tiga kali. Ketika tiga kali tidak ada perubahan maka terapi kretek ini tidak bisa menangani,” tutur Desta.
Menurutnya, praktik kretek ini awalnya hanya untuk kalangan pribadi yaitu untuk atlet wing chun. Tetapi setelah Covid-19 mereda, Federasi Wing Chun Indonesia menginstruksikan untuk membuka secara umum dalam rangka bakti sosial. Pasien yang datang untuk terapi bisa membayar seikhlasnya dan untuk hasilnya didonasikan.
Terapi kretek disambut baik oleh masyarakat. Selama ini respons pasien yang datang semuanya baik. Banyak yang mendukung terapi ini untuk bisa terus berkembang lagi. “Alhamdulillah selama ini tidak ada kontra dari masyarakat, semua merespons sangat baik,” pungkasnya. (cad/c2/nur) Editor : Maulana Ijal