alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Kertas Minyak Bukan Jaminan Bebas Hepatitis A

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Merebaknya virus hepatitis di daerah kampus hingga Pemkab Jember menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) hepatitis A bukan pertama kali terjadi. Pedagang makanan di pinggir jalan pun sudah mengubah gaya penyajian lebih bersih dengan dilapisi kertas minyak dan banyak mahasiswa memilih membeli dengan dibungkus saja. Hal itu bukan jaminan untuk bebas virus hepatitis A.

Direktur RSD dr Soebandi dr Hendro Soelistijono mengaku, serangan hepatitis A yang banyak diterima mahasiswa tidak hanya terjadi penghujung tahun ini. Hampir setiap tahun, saat pergantian musim kemarau ke hujan, selalu ada. Walau tidak sampai KLB, tapi beberapa dekade yang lalu wabah hepatitis A sangat heboh di daerah kampus. Antara tahun 2003–2005 sangat banyak mahasiswa sakit hepatitis A. Bahkan, RSD Soebandi waktu itu penuh pelayanan rawat inap hingga di lorong-lorong.

Sejak kejadian hepatitis A dan setiap tahun selalu demikian, lambat laun pedagang dan mahasiswa mulai sadar akan kebersihan untuk konsumsi makanan. Mahasiswa waktu itu banyak memilih membeli makanan dengan dibungkus saja. Sementara itu, pedagang memilih melapisi kertas minyak untuk dihidangkan ke pelanggannya yang memilih menyantap makanan di lokasi.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kalau dulu pakai piring terus diganti piring dilapisi kertas minyak. Sekarang walau pakai kertas minyak, tetap ada hepatitis A. Berarti mungkin saat memasak juga diperhatikan kebersihannya,” jelasnya.

Pada intinya, virus hepatitis A kaitannya dengan kebersihan. Sakit peradangan organ hati itu menyebar dan menular melalui fecal-oral. Yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar hepatitis A. Pada umumnya, ditularkan oleh lalat yang menghinggapi tinja penderita hepatitis A.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Merebaknya virus hepatitis di daerah kampus hingga Pemkab Jember menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) hepatitis A bukan pertama kali terjadi. Pedagang makanan di pinggir jalan pun sudah mengubah gaya penyajian lebih bersih dengan dilapisi kertas minyak dan banyak mahasiswa memilih membeli dengan dibungkus saja. Hal itu bukan jaminan untuk bebas virus hepatitis A.

Direktur RSD dr Soebandi dr Hendro Soelistijono mengaku, serangan hepatitis A yang banyak diterima mahasiswa tidak hanya terjadi penghujung tahun ini. Hampir setiap tahun, saat pergantian musim kemarau ke hujan, selalu ada. Walau tidak sampai KLB, tapi beberapa dekade yang lalu wabah hepatitis A sangat heboh di daerah kampus. Antara tahun 2003–2005 sangat banyak mahasiswa sakit hepatitis A. Bahkan, RSD Soebandi waktu itu penuh pelayanan rawat inap hingga di lorong-lorong.

Sejak kejadian hepatitis A dan setiap tahun selalu demikian, lambat laun pedagang dan mahasiswa mulai sadar akan kebersihan untuk konsumsi makanan. Mahasiswa waktu itu banyak memilih membeli makanan dengan dibungkus saja. Sementara itu, pedagang memilih melapisi kertas minyak untuk dihidangkan ke pelanggannya yang memilih menyantap makanan di lokasi.

“Kalau dulu pakai piring terus diganti piring dilapisi kertas minyak. Sekarang walau pakai kertas minyak, tetap ada hepatitis A. Berarti mungkin saat memasak juga diperhatikan kebersihannya,” jelasnya.

Pada intinya, virus hepatitis A kaitannya dengan kebersihan. Sakit peradangan organ hati itu menyebar dan menular melalui fecal-oral. Yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar hepatitis A. Pada umumnya, ditularkan oleh lalat yang menghinggapi tinja penderita hepatitis A.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Merebaknya virus hepatitis di daerah kampus hingga Pemkab Jember menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) hepatitis A bukan pertama kali terjadi. Pedagang makanan di pinggir jalan pun sudah mengubah gaya penyajian lebih bersih dengan dilapisi kertas minyak dan banyak mahasiswa memilih membeli dengan dibungkus saja. Hal itu bukan jaminan untuk bebas virus hepatitis A.

Direktur RSD dr Soebandi dr Hendro Soelistijono mengaku, serangan hepatitis A yang banyak diterima mahasiswa tidak hanya terjadi penghujung tahun ini. Hampir setiap tahun, saat pergantian musim kemarau ke hujan, selalu ada. Walau tidak sampai KLB, tapi beberapa dekade yang lalu wabah hepatitis A sangat heboh di daerah kampus. Antara tahun 2003–2005 sangat banyak mahasiswa sakit hepatitis A. Bahkan, RSD Soebandi waktu itu penuh pelayanan rawat inap hingga di lorong-lorong.

Sejak kejadian hepatitis A dan setiap tahun selalu demikian, lambat laun pedagang dan mahasiswa mulai sadar akan kebersihan untuk konsumsi makanan. Mahasiswa waktu itu banyak memilih membeli makanan dengan dibungkus saja. Sementara itu, pedagang memilih melapisi kertas minyak untuk dihidangkan ke pelanggannya yang memilih menyantap makanan di lokasi.

“Kalau dulu pakai piring terus diganti piring dilapisi kertas minyak. Sekarang walau pakai kertas minyak, tetap ada hepatitis A. Berarti mungkin saat memasak juga diperhatikan kebersihannya,” jelasnya.

Pada intinya, virus hepatitis A kaitannya dengan kebersihan. Sakit peradangan organ hati itu menyebar dan menular melalui fecal-oral. Yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar hepatitis A. Pada umumnya, ditularkan oleh lalat yang menghinggapi tinja penderita hepatitis A.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/