alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Kesehatan Reproduksi Tidak Bisa Jadi Bahan Ajar

Kesehatan Reproduksi Ada dalam IPA

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesehatan reproduksi (kespro) menjadi bahasan yang perlu dicari solusi penyelesaiannya. Bagaimanapun, angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) di Jember salah satunya dipengaruhi oleh faktor nikah dini. Nah, soal kespro yang menjadi wacana agar bisa menjadi bahan ajar atau ekstrakurikuler di lingkungan sekolah, dinilai belum bisa dilakukan.

Pernyataan ini disampaikan Plt Kepala Dinas Pendidikan Sukowinarno. Menurutnya, bahasan workshop di kantor bupati, pekan lalu, tepatnya tagal 24 Mei, diakuinya ada usulan kespro agar menjadi mata pelajaran khusus atau ekstrakurikuler di sekolah.

“Kami dari Dispendik sudah mendengar sebelumnya, kalau ada pembahasan terkait usulan mata ajar tersebut,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember di kantornya, kemarin (30/5).

Mobile_AP_Rectangle 2

Pada bahasan itu, Dispendik mengutus Bidang PAUD sebagai salah satu delegasinya. “Yang kami tugasi saat itu dari bidang PAUD untuk hadir pada kegiatan tersebut,” terang Suko yang juga sebagai Kepala BKPSDM tersebut.

Suko mendukung usulan tersebut. Menurutnya, untuk memperoleh sumber daya manusia (SDM) yang baik dan unggul, terutama untuk menekan AKI/AKB, perlu dilakukan berbagai cara, termasuk melalui bidang pendidikan. “Kami dari Dispendik tentunya mendukung kegiatan tersebut. Sebab, untuk menekan kasus itu, perlu didorong dari seluruh aspek, termasuk pendidikan,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesehatan reproduksi (kespro) menjadi bahasan yang perlu dicari solusi penyelesaiannya. Bagaimanapun, angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) di Jember salah satunya dipengaruhi oleh faktor nikah dini. Nah, soal kespro yang menjadi wacana agar bisa menjadi bahan ajar atau ekstrakurikuler di lingkungan sekolah, dinilai belum bisa dilakukan.

Pernyataan ini disampaikan Plt Kepala Dinas Pendidikan Sukowinarno. Menurutnya, bahasan workshop di kantor bupati, pekan lalu, tepatnya tagal 24 Mei, diakuinya ada usulan kespro agar menjadi mata pelajaran khusus atau ekstrakurikuler di sekolah.

“Kami dari Dispendik sudah mendengar sebelumnya, kalau ada pembahasan terkait usulan mata ajar tersebut,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember di kantornya, kemarin (30/5).

Pada bahasan itu, Dispendik mengutus Bidang PAUD sebagai salah satu delegasinya. “Yang kami tugasi saat itu dari bidang PAUD untuk hadir pada kegiatan tersebut,” terang Suko yang juga sebagai Kepala BKPSDM tersebut.

Suko mendukung usulan tersebut. Menurutnya, untuk memperoleh sumber daya manusia (SDM) yang baik dan unggul, terutama untuk menekan AKI/AKB, perlu dilakukan berbagai cara, termasuk melalui bidang pendidikan. “Kami dari Dispendik tentunya mendukung kegiatan tersebut. Sebab, untuk menekan kasus itu, perlu didorong dari seluruh aspek, termasuk pendidikan,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesehatan reproduksi (kespro) menjadi bahasan yang perlu dicari solusi penyelesaiannya. Bagaimanapun, angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) di Jember salah satunya dipengaruhi oleh faktor nikah dini. Nah, soal kespro yang menjadi wacana agar bisa menjadi bahan ajar atau ekstrakurikuler di lingkungan sekolah, dinilai belum bisa dilakukan.

Pernyataan ini disampaikan Plt Kepala Dinas Pendidikan Sukowinarno. Menurutnya, bahasan workshop di kantor bupati, pekan lalu, tepatnya tagal 24 Mei, diakuinya ada usulan kespro agar menjadi mata pelajaran khusus atau ekstrakurikuler di sekolah.

“Kami dari Dispendik sudah mendengar sebelumnya, kalau ada pembahasan terkait usulan mata ajar tersebut,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember di kantornya, kemarin (30/5).

Pada bahasan itu, Dispendik mengutus Bidang PAUD sebagai salah satu delegasinya. “Yang kami tugasi saat itu dari bidang PAUD untuk hadir pada kegiatan tersebut,” terang Suko yang juga sebagai Kepala BKPSDM tersebut.

Suko mendukung usulan tersebut. Menurutnya, untuk memperoleh sumber daya manusia (SDM) yang baik dan unggul, terutama untuk menekan AKI/AKB, perlu dilakukan berbagai cara, termasuk melalui bidang pendidikan. “Kami dari Dispendik tentunya mendukung kegiatan tersebut. Sebab, untuk menekan kasus itu, perlu didorong dari seluruh aspek, termasuk pendidikan,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/