alexametrics
23 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Perangai Moody Perlu Diatasi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suasana hati yang mudah berubah kerap kali dirasakan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang, hal tersebut terjadi secara tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya. Akibatnya, tentu mampu mengganggu aktivitas sehari-hari.

Ayu Agustin misalnya. Setiap pagi, dia kerap marah-marah tanpa alasan yang jelas. Wanita berusia 25 tahun itu mengaku heran dengan dirinya sendiri. Sebab, kemarahan itu mengalir begitu saja. “Baru sadar saat suasana hati agak mereda,” ungkap warga di Perumahan Gunung Batu, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, itu.

Dia menambahkan bahwa perangai itu sering kali terjadi dan hingga kini belum ditemukan apa penyebabnya. Nyatanya, hal itu juga dirasakan banyak orang. Entah karena kelelahan, baru berinteraksi dengan orang lain, atau tidak mendapatkan yang diinginkan, terkadang bisa membuat mood seseorang menjadi kacau. Akibatnya, kenyamanan dalam diri pribadi masing-masing menjadi terganggu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dokter spesialis kedokteran jiwa dr Inke Kusumastuti MBiomed SpKJ menjelaskan bahwa melakukan pencatatan mood dari hari ke hari dapat menjadi langkah awal untuk menangani mood yang kerap tidak beraturan tersebut. Pencatatan ini dapat dilakukan secara manual seperti menulis buku harian atau secara digital dengan menggunakan aplikasi pelacak mood atau mood tracker.

Data dari pencatatan ini dapat digunakan untuk menganalisis naik turunnya mood dan menilai hubungannya dengan hal-hal yang terjadi setiap harinya. “Kalau pencatatan dilakukan rutin, nanti bisa dipetakan hal-hal apa saja sebenarnya yang kita suka dan tidak suka, yang biasanya terkait dengan enak tidaknya perasaan pada saat itu,” tegasnya.

Selanjutnya, seseorang bisa melakukan analisis untuk menentukan hal-hal tidak nyaman yang mana yang bisa dihindari, dan mana yang tidak. Misalnya, seseorang jadi tahu bahwa ternyata lebih mudah marah saat sering berinteraksi dengan satu orang tertentu. “Nah kalau pertemuan dengan si X ini bisa dihindari, kita jadi bisa menyusun strategi dengan mengurangi interaksi dengan si X agar mengurangi risiko menjadi mudah marah,” tambahnya.

Dari pencatatan mood itu juga, seseorang dapat memetakan hal-hal yang bisa membuat mood membaik. Misalnya, jalan-jalan ke tempat yang menenangkan, mengobrol dengan teman, atau berolahraga.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suasana hati yang mudah berubah kerap kali dirasakan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang, hal tersebut terjadi secara tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya. Akibatnya, tentu mampu mengganggu aktivitas sehari-hari.

Ayu Agustin misalnya. Setiap pagi, dia kerap marah-marah tanpa alasan yang jelas. Wanita berusia 25 tahun itu mengaku heran dengan dirinya sendiri. Sebab, kemarahan itu mengalir begitu saja. “Baru sadar saat suasana hati agak mereda,” ungkap warga di Perumahan Gunung Batu, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, itu.

Dia menambahkan bahwa perangai itu sering kali terjadi dan hingga kini belum ditemukan apa penyebabnya. Nyatanya, hal itu juga dirasakan banyak orang. Entah karena kelelahan, baru berinteraksi dengan orang lain, atau tidak mendapatkan yang diinginkan, terkadang bisa membuat mood seseorang menjadi kacau. Akibatnya, kenyamanan dalam diri pribadi masing-masing menjadi terganggu.

Dokter spesialis kedokteran jiwa dr Inke Kusumastuti MBiomed SpKJ menjelaskan bahwa melakukan pencatatan mood dari hari ke hari dapat menjadi langkah awal untuk menangani mood yang kerap tidak beraturan tersebut. Pencatatan ini dapat dilakukan secara manual seperti menulis buku harian atau secara digital dengan menggunakan aplikasi pelacak mood atau mood tracker.

Data dari pencatatan ini dapat digunakan untuk menganalisis naik turunnya mood dan menilai hubungannya dengan hal-hal yang terjadi setiap harinya. “Kalau pencatatan dilakukan rutin, nanti bisa dipetakan hal-hal apa saja sebenarnya yang kita suka dan tidak suka, yang biasanya terkait dengan enak tidaknya perasaan pada saat itu,” tegasnya.

Selanjutnya, seseorang bisa melakukan analisis untuk menentukan hal-hal tidak nyaman yang mana yang bisa dihindari, dan mana yang tidak. Misalnya, seseorang jadi tahu bahwa ternyata lebih mudah marah saat sering berinteraksi dengan satu orang tertentu. “Nah kalau pertemuan dengan si X ini bisa dihindari, kita jadi bisa menyusun strategi dengan mengurangi interaksi dengan si X agar mengurangi risiko menjadi mudah marah,” tambahnya.

Dari pencatatan mood itu juga, seseorang dapat memetakan hal-hal yang bisa membuat mood membaik. Misalnya, jalan-jalan ke tempat yang menenangkan, mengobrol dengan teman, atau berolahraga.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suasana hati yang mudah berubah kerap kali dirasakan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang, hal tersebut terjadi secara tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya. Akibatnya, tentu mampu mengganggu aktivitas sehari-hari.

Ayu Agustin misalnya. Setiap pagi, dia kerap marah-marah tanpa alasan yang jelas. Wanita berusia 25 tahun itu mengaku heran dengan dirinya sendiri. Sebab, kemarahan itu mengalir begitu saja. “Baru sadar saat suasana hati agak mereda,” ungkap warga di Perumahan Gunung Batu, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, itu.

Dia menambahkan bahwa perangai itu sering kali terjadi dan hingga kini belum ditemukan apa penyebabnya. Nyatanya, hal itu juga dirasakan banyak orang. Entah karena kelelahan, baru berinteraksi dengan orang lain, atau tidak mendapatkan yang diinginkan, terkadang bisa membuat mood seseorang menjadi kacau. Akibatnya, kenyamanan dalam diri pribadi masing-masing menjadi terganggu.

Dokter spesialis kedokteran jiwa dr Inke Kusumastuti MBiomed SpKJ menjelaskan bahwa melakukan pencatatan mood dari hari ke hari dapat menjadi langkah awal untuk menangani mood yang kerap tidak beraturan tersebut. Pencatatan ini dapat dilakukan secara manual seperti menulis buku harian atau secara digital dengan menggunakan aplikasi pelacak mood atau mood tracker.

Data dari pencatatan ini dapat digunakan untuk menganalisis naik turunnya mood dan menilai hubungannya dengan hal-hal yang terjadi setiap harinya. “Kalau pencatatan dilakukan rutin, nanti bisa dipetakan hal-hal apa saja sebenarnya yang kita suka dan tidak suka, yang biasanya terkait dengan enak tidaknya perasaan pada saat itu,” tegasnya.

Selanjutnya, seseorang bisa melakukan analisis untuk menentukan hal-hal tidak nyaman yang mana yang bisa dihindari, dan mana yang tidak. Misalnya, seseorang jadi tahu bahwa ternyata lebih mudah marah saat sering berinteraksi dengan satu orang tertentu. “Nah kalau pertemuan dengan si X ini bisa dihindari, kita jadi bisa menyusun strategi dengan mengurangi interaksi dengan si X agar mengurangi risiko menjadi mudah marah,” tambahnya.

Dari pencatatan mood itu juga, seseorang dapat memetakan hal-hal yang bisa membuat mood membaik. Misalnya, jalan-jalan ke tempat yang menenangkan, mengobrol dengan teman, atau berolahraga.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/