alexametrics
22.6 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Pernikahan Dini di Jember Tinggi, Cegah dengan Kampung Remaja Sehat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Angka pernikahan dini di Jember tergolong cukup tinggi. Bahkan, kasus perkawinan di bawah usia 19 tahun itu tak hanya terjadi di kawasan perdesaan, tapi juga perkotaan. Seperti di Kelurahan Wirolegi Kecamatan Sumbersari. Padahal, perkawinan dini juga memiliki efek ikutan, berpotensi menyebabkan bayi stunting.

Mencegah terjadinya pernikahan di bawah usia tersebut, Forum Jember Sehat (Forjes) membikin program Kampung Remaja Sehat di Kecamatan Sumbersari. Kampung percontohan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap remaja agar terhindar dari pergaulan bebas dan pernikahan dini. Program yang didukung USAID MADANI tersebut dibuka sebagai wadah yang membantu remaja untuk menyelesaikan segala permasalahan kenakalan remaja.

Kamis (28/7), Forjes menggelar forum diskusi untuk mendorong program tersebut. Diskusi itu dihadiri oleh Kepala Biro Humas Hukum dan Kerjasama Kementerian Hukum dan HAM RI Hantor Situmorang. Perwakilan USAID Indonesia, Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember, Forjes, perwakilan pemuda karang taruna, bidan Puskesmas Pembantu Kelurahan Wirolegi, aktivis perempuan Kelurahan Wirolegi, dan kader remaja penggerak Kelurahan Wirolegi, serta Mahasiswa Universitas Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA: Tren Pernikahan Dini Meningkat, Kelurahan Ini Paling Banyak

Saat diskusi berlangsung, Hantor Situmorang mengatakan, forum Kampung Remaja Sehat ini untuk memberikan pengetahuan agar para remaja dapat menyiapkan diri terlebih dahulu sebelum memasuki dunia pernikahan. “Jangan sampai yang masih anak-anak ini sudah punya anak. Ini akan menjadi beban bagi masyarakat dan pemerintah,” ujarnya.

Pada tahun 2021 Forjes mencatat peningkatan jumlah AKI yang menyentuh angka hampir dua kali lipat selama hampir setahun. Sebanyak 101 ibu meninggal dalam keadaan hamil hingga melahirkan. Sedangkan sebelumnya pada 2020, kasus AKI di Jember berjumlah 61 orang. Melalui program pemberdayaan masyarakat ini, diharapkan dapat menekan angka stunting, AKI, AKB, kemiskinan dan pernikahan di bawah umur.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Angka pernikahan dini di Jember tergolong cukup tinggi. Bahkan, kasus perkawinan di bawah usia 19 tahun itu tak hanya terjadi di kawasan perdesaan, tapi juga perkotaan. Seperti di Kelurahan Wirolegi Kecamatan Sumbersari. Padahal, perkawinan dini juga memiliki efek ikutan, berpotensi menyebabkan bayi stunting.

Mencegah terjadinya pernikahan di bawah usia tersebut, Forum Jember Sehat (Forjes) membikin program Kampung Remaja Sehat di Kecamatan Sumbersari. Kampung percontohan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap remaja agar terhindar dari pergaulan bebas dan pernikahan dini. Program yang didukung USAID MADANI tersebut dibuka sebagai wadah yang membantu remaja untuk menyelesaikan segala permasalahan kenakalan remaja.

Kamis (28/7), Forjes menggelar forum diskusi untuk mendorong program tersebut. Diskusi itu dihadiri oleh Kepala Biro Humas Hukum dan Kerjasama Kementerian Hukum dan HAM RI Hantor Situmorang. Perwakilan USAID Indonesia, Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember, Forjes, perwakilan pemuda karang taruna, bidan Puskesmas Pembantu Kelurahan Wirolegi, aktivis perempuan Kelurahan Wirolegi, dan kader remaja penggerak Kelurahan Wirolegi, serta Mahasiswa Universitas Jember.

BACA JUGA: Tren Pernikahan Dini Meningkat, Kelurahan Ini Paling Banyak

Saat diskusi berlangsung, Hantor Situmorang mengatakan, forum Kampung Remaja Sehat ini untuk memberikan pengetahuan agar para remaja dapat menyiapkan diri terlebih dahulu sebelum memasuki dunia pernikahan. “Jangan sampai yang masih anak-anak ini sudah punya anak. Ini akan menjadi beban bagi masyarakat dan pemerintah,” ujarnya.

Pada tahun 2021 Forjes mencatat peningkatan jumlah AKI yang menyentuh angka hampir dua kali lipat selama hampir setahun. Sebanyak 101 ibu meninggal dalam keadaan hamil hingga melahirkan. Sedangkan sebelumnya pada 2020, kasus AKI di Jember berjumlah 61 orang. Melalui program pemberdayaan masyarakat ini, diharapkan dapat menekan angka stunting, AKI, AKB, kemiskinan dan pernikahan di bawah umur.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Angka pernikahan dini di Jember tergolong cukup tinggi. Bahkan, kasus perkawinan di bawah usia 19 tahun itu tak hanya terjadi di kawasan perdesaan, tapi juga perkotaan. Seperti di Kelurahan Wirolegi Kecamatan Sumbersari. Padahal, perkawinan dini juga memiliki efek ikutan, berpotensi menyebabkan bayi stunting.

Mencegah terjadinya pernikahan di bawah usia tersebut, Forum Jember Sehat (Forjes) membikin program Kampung Remaja Sehat di Kecamatan Sumbersari. Kampung percontohan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap remaja agar terhindar dari pergaulan bebas dan pernikahan dini. Program yang didukung USAID MADANI tersebut dibuka sebagai wadah yang membantu remaja untuk menyelesaikan segala permasalahan kenakalan remaja.

Kamis (28/7), Forjes menggelar forum diskusi untuk mendorong program tersebut. Diskusi itu dihadiri oleh Kepala Biro Humas Hukum dan Kerjasama Kementerian Hukum dan HAM RI Hantor Situmorang. Perwakilan USAID Indonesia, Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember, Forjes, perwakilan pemuda karang taruna, bidan Puskesmas Pembantu Kelurahan Wirolegi, aktivis perempuan Kelurahan Wirolegi, dan kader remaja penggerak Kelurahan Wirolegi, serta Mahasiswa Universitas Jember.

BACA JUGA: Tren Pernikahan Dini Meningkat, Kelurahan Ini Paling Banyak

Saat diskusi berlangsung, Hantor Situmorang mengatakan, forum Kampung Remaja Sehat ini untuk memberikan pengetahuan agar para remaja dapat menyiapkan diri terlebih dahulu sebelum memasuki dunia pernikahan. “Jangan sampai yang masih anak-anak ini sudah punya anak. Ini akan menjadi beban bagi masyarakat dan pemerintah,” ujarnya.

Pada tahun 2021 Forjes mencatat peningkatan jumlah AKI yang menyentuh angka hampir dua kali lipat selama hampir setahun. Sebanyak 101 ibu meninggal dalam keadaan hamil hingga melahirkan. Sedangkan sebelumnya pada 2020, kasus AKI di Jember berjumlah 61 orang. Melalui program pemberdayaan masyarakat ini, diharapkan dapat menekan angka stunting, AKI, AKB, kemiskinan dan pernikahan di bawah umur.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/