alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Salah Kaprah Penggunaan Masker

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mengenakan masker sudah menjadi kebutuhan primer di masa pandemi ini. Setiap bepergian, syarat wajibnya harus membawa masker. Bahkan harus membawa masker cadangan. Sebab, bisa menjadi sarang virus jika menggunakan masker lebih dari empat jam.

Namun, baru-baru ini ada juga kebiasaan lain masyarakat dalam mengenakan masker. Mulai dari mengenakan masker ganda untuk memperketat perlindungan hingga menggunakan aksesori untuk mempercantik diri. Ada pula yang menambahkan pengait supaya bisa digunakan para pemakai kerudung tanpa membuka hijab.

Salah satunya dilakukan oleh Intan Meika. Menurut dia, tak semua masker ramah untuk para pemakai kerudung, karena harus dikaitkan ke telinga. Jadi, dia membutuhkan pengait sebagai sarana penyambung tali masker supaya bisa memakai masker tanpa membuka hijab. “Ini sangat berguna untuk memasang masker yang hanya bisa dikaitkan di kuping,” ujar wanita berusia 25 tahun itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tak jarang, dia juga kerap mengoleksi masker-masker lain yang berwarna-warni. “Soalnya, estetikanya juga harus terjaga. Jadi, tidak malu kalau bepergian,” ungkap warga Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, tersebut.

Bagaimana kebiasaan ini jika dipandang dari sisi medis? Dokter spesialis paru, dr Angga Mardro Raharjo SpP menjelaskan, tidak ada salahnya menggunakan pengait asalkan juga rutin dibersihkan. Dia juga menyarankan untuk memiliki lebih dari satu pengait. Sebab, kebiasaan penggunanya adalah merapikan masker. “Saat dia merapikan masker itu, tidak diketahui apakah sudah mencuci tangan atau memakai hand sanitizer,” lanjutnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mengenakan masker sudah menjadi kebutuhan primer di masa pandemi ini. Setiap bepergian, syarat wajibnya harus membawa masker. Bahkan harus membawa masker cadangan. Sebab, bisa menjadi sarang virus jika menggunakan masker lebih dari empat jam.

Namun, baru-baru ini ada juga kebiasaan lain masyarakat dalam mengenakan masker. Mulai dari mengenakan masker ganda untuk memperketat perlindungan hingga menggunakan aksesori untuk mempercantik diri. Ada pula yang menambahkan pengait supaya bisa digunakan para pemakai kerudung tanpa membuka hijab.

Salah satunya dilakukan oleh Intan Meika. Menurut dia, tak semua masker ramah untuk para pemakai kerudung, karena harus dikaitkan ke telinga. Jadi, dia membutuhkan pengait sebagai sarana penyambung tali masker supaya bisa memakai masker tanpa membuka hijab. “Ini sangat berguna untuk memasang masker yang hanya bisa dikaitkan di kuping,” ujar wanita berusia 25 tahun itu.

Tak jarang, dia juga kerap mengoleksi masker-masker lain yang berwarna-warni. “Soalnya, estetikanya juga harus terjaga. Jadi, tidak malu kalau bepergian,” ungkap warga Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, tersebut.

Bagaimana kebiasaan ini jika dipandang dari sisi medis? Dokter spesialis paru, dr Angga Mardro Raharjo SpP menjelaskan, tidak ada salahnya menggunakan pengait asalkan juga rutin dibersihkan. Dia juga menyarankan untuk memiliki lebih dari satu pengait. Sebab, kebiasaan penggunanya adalah merapikan masker. “Saat dia merapikan masker itu, tidak diketahui apakah sudah mencuci tangan atau memakai hand sanitizer,” lanjutnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mengenakan masker sudah menjadi kebutuhan primer di masa pandemi ini. Setiap bepergian, syarat wajibnya harus membawa masker. Bahkan harus membawa masker cadangan. Sebab, bisa menjadi sarang virus jika menggunakan masker lebih dari empat jam.

Namun, baru-baru ini ada juga kebiasaan lain masyarakat dalam mengenakan masker. Mulai dari mengenakan masker ganda untuk memperketat perlindungan hingga menggunakan aksesori untuk mempercantik diri. Ada pula yang menambahkan pengait supaya bisa digunakan para pemakai kerudung tanpa membuka hijab.

Salah satunya dilakukan oleh Intan Meika. Menurut dia, tak semua masker ramah untuk para pemakai kerudung, karena harus dikaitkan ke telinga. Jadi, dia membutuhkan pengait sebagai sarana penyambung tali masker supaya bisa memakai masker tanpa membuka hijab. “Ini sangat berguna untuk memasang masker yang hanya bisa dikaitkan di kuping,” ujar wanita berusia 25 tahun itu.

Tak jarang, dia juga kerap mengoleksi masker-masker lain yang berwarna-warni. “Soalnya, estetikanya juga harus terjaga. Jadi, tidak malu kalau bepergian,” ungkap warga Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, tersebut.

Bagaimana kebiasaan ini jika dipandang dari sisi medis? Dokter spesialis paru, dr Angga Mardro Raharjo SpP menjelaskan, tidak ada salahnya menggunakan pengait asalkan juga rutin dibersihkan. Dia juga menyarankan untuk memiliki lebih dari satu pengait. Sebab, kebiasaan penggunanya adalah merapikan masker. “Saat dia merapikan masker itu, tidak diketahui apakah sudah mencuci tangan atau memakai hand sanitizer,” lanjutnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/